Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Tombol On Off


__ADS_3

Brian mengantarkan kekasihnya kembali ke apartemen setelah mereka selesai melakukan makan malam romantisnya. Keduanya sudah sampai di parkiran apartemen.


"Bisakah kau mengambil cuti bulan depan Zee, setidaknya butuh 2 sampai 3 hari?" tanya Brian.


"Untuk apa?" tanya Zean balik.


"Aku ingin membawamu pulang ke Lampung, aku akan membawa papa untuk melamarmu." jawab Brian.


Zean terkejut mendengarnya, ia pikir lamaran itu cukup hanya mereka saja.


"Jangan kau pikir lamaran malam ini sudah cukup Zee, aku tahu apa yang kau pikirkan." ujar Brian.


"Kau seperti peramal." kata Zean seraya terkekeh. "Aku pikir keluarga kita sudah saling mengenal dan sangat dekat, jadi tak perlu..."


"Pikiran yang bodoh." potong Brian. "Kau pikir aku akan menikah dengan anak hilang, tentu saja formalitas antar keluarga itu tetap perlu Zee. Kita juga harus menetapkan tanggal pernikahan segera di tahun depan." sambungnya.


"Jangan marah Bri, aku tidak pernah di lamar dengan arti sesungguhnya. Jadi aku sedikit kurang paham soal seperti ini."


"Maaf sayang, aku tidak marah hanya saja terkejut dengan pemikiranmu itu. Jadi kau bisa kan mengambil cuti, kita akan samakan jadwal cuti kita."


Zean mengangguk. "Aku akan melihat sisa cuti tahunanku. Bri, sebelum kita menentukan tanggal pernikahan, aku ingin mengatakan kepada kak JiJo soal ini. Bukan minta persetujuan, karena mereka pasti sangat senang. Tapi aku ingin mereka bisa ke Indonesia menghadiri pernikahan kita, mengingat eonni Ae-Ri dan eonni Aerum sedang hamil, kemungkinan mereka harus berkonsultasi dengan dokter mereka, apakah bisa keduanya melakukan perjalanan jauh."


Brian menggenggam tangannya. "Kau pikir aku tak memikirkan soal itu sayang, tentu saja kakak kakakmu harus hadir di pernikahan kita. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga, aku tak mungkin membuatmu sedih karena mereka tak bisa hadir. Seandainya eonni eonni mu tak bisa melakukan perjalanan jauh selama kehamilan, aku rela menunggu sampai mereka melahirkan."


"Mengapa kau baik sekali padaku?" tanya Zean.


"Karena aku kekasihmu dan aku sangat mencintaimu Zee. Pertanyaan konyol macam apa itu." jawab Brian.


Zean tertawa, ia memeluk Brian. Ketika keduanya terhanyut dalam pelukan, suara ketukan kaca mobil mengejutkan keduanya. Keduanya segera melepaskan pelukan. Brian menurunkan kaca mobilnya. Ternyata penjaga keamanan apartemen sedang memperhatikan mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya security.


Zean segera turun dari mobilnya. "Eh pak Emon, maaf pak. Kami tidak melakukan apapun kok, hanya pelukan perpisahan."


Brian ikut turun dari mobilnya. "Bapak tenang saja, kekasihku anggota kepolisian dan aku seorang dokter. Kami tak mungkin melakukan hal tak senonoh di tempat umum."


"Aku mengenal nona Zean, tapi sejak mobil berhenti sampai sekarang sudah hampir setengah jam. Aku hanya melakukan tugas saja." jawab pak Emon.


"Maaf pak, kami berbincang-bincang sebentar." jawab Zean.

__ADS_1


"Kalian bisa melakukannya di dalam apartemen." ujar pak Emon.


"Oke siap pak, maaf atas kelancangan kami." ujar Brian.


Pak Emon menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kali ini aku lepaskan. Nona Zean, ini semakin larut lebih baik anda segera kembali."


Zean mengangkat tangannya memberi hormat. "Siap pak Emon."


Security itu meninggalkan mereka, setelah pria itu tak kelihatan, Brian dan Zean saling pandang pandangan lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Kau tertangkap basah nona Zean." ejek Brian.


"Setidaknya aku belum membuka bajuku." goda Zean.


"Jangan memancing jiwa mesumku sayang." kata Brian.


"Apa ada tombol on offnya?" tanya Zean sambil tertawa lagi. "Baiklah pak dokter, sebelum ada security lain lebih baik kau kembali sekarang. Malam juga semakin larut." sambungnya.


"Aku akan mengantarmu sampai depan pintu sayang." jawab Brian seraya menarik kekasihnya menuju pintu masuk apartemen.


Keduanya menunggu di depan pintu lift, Brian mendekati telinga Zean. "Apa kau benar benar ingin tahu letak tombol on offnya?" bisiknya menggoda.


"Sebenarnya aku masih penasaran soal kesaksianmu tadi siang. Mengapa kau belum juga menjelaskannya padaku?" tanya Zean mengalihkan pembicaraan dan keduanya masuk ke dalam lift.


"Ya Tuhan, aku pikir kau akan lupa karena lamaranku Zee. Sebaiknya kita bicarakan besok lagi, jika kau menahanku lebih lama, aku takut tombol on ku benar benar menyala." goda Brian.


"Dasar pria mesum." ucap Zean.


Pintu lift terbuka, Zean melangkahkan kakinya keluar lalu menahan Brian agar tetap di dalam lift. "Sampai disini saja pak dokter, aku takut tak bisa mengendalikan tombolmu itu."


Zean menjulurkan lidahnya sebelum kekasihnya membalas ucapannya, lalu ia segera berlari meninggalkan kekasihnya yang masih berada di dalam lift. Brian hanya tertawa sendiri lalu kembali menutup pintu lift.


*****


Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, Brian terus tertawa sendiri di dalam mobil saat mengingat mereka tertangkap basah security apartemen, membahas tombol on off mesum, sampai saat ia mengingat kekasihnya menjulurkan lidahnya sambil berlari.


"Ya Tuhan, aku sudah merindukannya, padahal baru beberapa menit." gumam Brian.


Pria itu menekan tombol panggilan untuk menghubungi Zean.

__ADS_1


"Halo." terdengar suara Zean disana. "Tak mungkin kau sudah sampai sayang, kau bukan terbang." sambungnya.


"Aku merindukanmu Zee." jawab Brian.


Zean justru tertawa dengan keras. "Kau mulai menggombal pak dokter, beberapa menit yang lalu kita baru bertemu."


"Apa aku tak boleh merindukan kekasihku sendiri?" tanya Brian.


"Tentu saja boleh, hanya saja kau terdengar sangat aneh. Orang tak mungkin merindukan kekasihnya setelah beberapa menit tidak bertemu." jawab Zean.


"Itu orang lain bukan aku sayang, aku benar benar merindukanmu. Ingin sekali aku memutar balik mobilku kembali ke apartemenmu."


"Jangan bercanda sayang, kau butuh istirahat. Dan tak baik Bri kau berteleponan saat berkendara. Itu akan membahayakan dirimu dan orang lain."


"Aku tak memegang handphone sayang, aku menggunakan teknologi canggih. Aku ingin kau menemaniku sampai aku tiba di rumah." pinta Brian.


"Lalu kapan aku mandi?" tanya Zean.


"Kau sambil mandi juga boleh, jangan lupa buka panggilan video agar aku bisa melihatmu." goda Brian.


"Itu hanya dalam mimpimu pak dokter. Baiklah, aku akan menemanimu tapi dengan satu syarat, kau jelaskan mengapa kau berubah pikiran saat menjadi saksi." pinta Zean.


"Sepertinya kau tak mau berhenti jika belum aku ceritakan."


"Kau membuatku penasaran Bri, kau kan tahu aku tak suka penasaran." ujar Zean.


Brian tertawa. "Tapi aku lebih suka kita membahas soal hubungan kita daripada tentang hal yang lain sayang, ini semua sudah berlalu. Tak terlalu penting untuk diceritakan."


"Kalau begitu nikmati perjalanan pulangmu sendirian." ancam Zean.


"Dasar keras kepala, baiklah bu pol dengarkan ceritaku tanpa memotong sepatah katapun dariku." jawab Brian.


Brian mulai menceritakan kejadiannya. Ia menceritakan dari awal sampai akhir sehingga rasa penasaran kekasihnya terpuaskan.


*****


Seperti apa ceritanya...


Tunggu kelanjutannya episode berikutnya...

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2