Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Awal Yang Indah


__ADS_3

Brian mulai bercerita...


Flash Back On.


Satu hari sebelum persidangan...


Dokter Aralyne mengunjungi ruang kerja Brian, walaupun dokter Mei sudah mencegahnya untuk tidak menemui dokter Brian, tapi wanita itu tetap memaksa masuk.


"Maaf dok." ujar dokter Mei.


"Tidak apa apa, kau boleh pergi." jawab Brian. Brian menatap Aralyne dengan kesal. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya.


Seketika Aralyne berlutut di hadapan Brian, wanita itu menangis tersedu-sedu membuat Brian kebingungan.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Brian.


"Aku tahu meminta ini sangat berlebihan setelah apa yang kami lakukan padamu dan Zean. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untuk memohon kepadamu Brian." jawab Aralyne.


Brian mengerutkan keningnya. "Aku tak mengerti, bangunlah terlebih dahulu Aralyne."


Aralyne menggelengkan kepalanya. "Aku akan tetap berlutut sampai kau mau membantuku."


Brian menghela nafasnya dengan keras. "Katakan." ujarnya datar.


"Aku mohon lindungi Inspektur Teo, jangan membuatnya keluar dari kepolisian. Ini semua salahku, jika saja malam itu aku tak menolaknya, mungkin ia akan berubah walaupun sedikit. Ia mengatakan kepadaku untuk melupakanmu dan juga Zean, ia memintaku untuk memulainya bersamanya dari awal. Tapi karena perasaanku yang belum yakin padanya, aku membuatnya marah dan akhirnya berakhir seperti ini. Brian, aku tahu Teo sudah melukai kalian berdua, tapi pria itu bukanlah pria yang jahat, aku bisa melihatnya. Ia hanya merasa harga dirinya tersakiti karena kalah darimu. Tapi aku yakin, ia akan berubah jika diberi kesempatan lagi." jawab Aralyne.


"Berdirilah Aralyne, aku tak ingin orang lain melihatmu berlutut di depanku dan membuat mereka salah paham." perintah Brian.


Aralyne menatap Brian, wanita itu masih mengeluarkan air matanya.


"Jika kau terus berlutut, aku tak akan membantumu." ancam Brian.


Aralyne seketika berdiri. "Apa kau mau membantuku? Tepatnya membantu inspektur Teo?"


"Apa kau menyukainya?" tanya Brian.


Aralyne terdiam, ia masih belum yakin dengan perasaannya. Mengingat semua yang terjadi, Brian pun memahami keinginan Aralyne. Bahkan Zean pun menginginkan hal yang sama agar permusuhan diantara mereka tidak semakin melebar.


"Jika kau perduli pada pria itu, artinya kau mulai menyukainya Aralyne. Sebenarnya aku bisa saja menghancurkan pria itu dengan bukti pemukulan yang ia lakukan padaku, tapi melihatmu bersungguh sungguh, aku akan mempertimbangkannya lagi." ujar Brian.


"Kau benar benar akan mempertimbangkannya, terima kasih Brian. Aku tahu kau adalah pria yang baik." kata Aralyne.


"Aku tidak melakukannya untuk pria itu, aku hanya mempertimbangkan hubungan kita saat di Inggris. Dan aku berharap kau dan Teo benar benar bisa bersatu. Sekarang keluarlah dari ruanganku." usir Brian.


"Sekali lagi terima kasih Brian, aku harap kau benar benar akan membantunya." jawab Aralyne seraya keluar dari ruangan Brian.


Flash Back Off.


*****


"Begitulah ceritanya sayang." ujar Brian.


"Jadi hatimu luluh karena wanita itu memohonnya ya, padahal sebelumnya aku juga memintamu seperti itu tapi tidak kau hiraukan. Apa kau ingin aku juga berlutut di hadapanmu?" tanya Zean.


"Kau jangan salah paham sayang, aku selalu mempertimbangkan apa yang kau ucapkan. Hanya saja kebetulan wanita itu lebih membuatku yakin untuk melepaskan Teo. Bukankah lebih baik seperti ini, kita melupakan semuanya dan mulai lagi tanpa ada gangguan dari siapapun." jawab Brian.

__ADS_1


"Tentu saja aku lebih tenang sekarang, sudah sampai mana?"


"Apanya?" tanya Brian.


"Jangan pura pura bodoh Bri, aku sudah menemanimu lebih dari satu jam." jawab Aralyne.


Brian tertawa. "Sebenarnya aku sudah merebahkan tubuhku di ranjang."


"Kau berani menipuku."


"Bagaimana mungkin, aku tak menipumu hanya saja kau terlalu terhanyut dalam ceritaku."


"Aku terlambat mandi karenamu Bri."


"Aku tidak keberatan walaupun kau tidak mandi selama satu bulan." goda Brian.


"Dasar pria gila." ujar Zean seraya menutup ponselnya.


Brian tertawa sendiri saat teleponnya benar benar mati.


"Kau sangat menggemaskan sayang." gumam Brian sendiri.


Brian pun melepas pakaiannya dan menuju kamar mandi.


*****


Hari pertama Aralyne bekerja di rumah sakit yang baru membuatnya lebih tenang, ia bahkan menjadi dokter idola karena wanita itu tergolong sangat cantik disana. Beberapa dokter pria mulai mendekatinya, ia bahkan mudah bergaul dengan yang lain walaupun ia baru pertama kali bekerja.


Ketika ia kembali ke apartemennya yang cukup jauh dari rumah sakit. Kini sosok inspektur Teo kembali memenuhi pikirannya, entah mengapa ia tak bisa melupakan pria itu saat sendirian.


Hari semakin larut, ia terkejut mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Siapa malam malam begini bertamu." tanyanya sendiri.


Lagi lagi suara bel terdengar.


"Iya sebentar." ujar Aralyne.


Wanita itu segera menuju pintu, ia membukakan pintunya dan terkejut melihat Teo berdiri di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan selarut ini?" tanya Aralyne.


"Maaf mengganggu waktu istirahatmu, tapi aku tak bisa menahan diriku untuk menemuimu Aralyne. Aku tak bisa memejamkan mata karena selalu melihat sosokmu." jawab Teo.


"Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi, pak polisi anda pasti tahu bertamu selarut ini di rumah orang melanggar aturan."


"Kau bukan orang lain untukku." ujar Teo.


Aralyne kesal dengan sikap pria itu, ia tak ingin terjebak lagi dengan permainan Teo.


"Aku pikir kita memang sudah menjadi orang lain, kau sudah menarik lamaranmu, dan aku sudah membantumu dalam persidangan karena aku tak ingin merasa bersalah seumur hidupku." kata Aralyne. "Sebaiknya kau pulang, tak baik aku menerima tamu selarut ini apalagi seorang pria." sambungnya.


Teo menatap Aralyne sejenak, akhirnya ia memaksa masuk, mendorong tubuh Aralyne ke dinding dan memerangkapnya dengan erat.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku." teriak Aralyne.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." ujar Teo membuat mata Aralyne terbelalak.


"Aku mencintaimu sampai rasanya mau mati. Aku berjanji tidak memaksamu, tapi seharian ini aku justru tak bisa berhenti memikirkanmu. Aralyne, mungkin ini terdengar gila tapi aku tak bisa melepaskanmu. Entah mengapa aku sama sekali tak bisa mengingat wajah Zean, aku hanya mengingatmu." kata Teo lagi.


Aralyne bergeming, ia juga tak bisa melupakan pria itu saat sendirian. Seharusnya ia senang melihat keberadaan Teo di depannya sekarang, tapi egonya mengatakan untuk terus menolak pria itu.


"Kau beri aku jawaban setelah ini." ujar Teo seraya menundukkan kepalanya.


Pria itu mencium Aralyne dengan sangat lembut, menggoda bibir merah Aralyne hingga membuat nafas wanita itu memburu. Teo semakin menekan bibirnya, ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman yang penuh hasrat. Suara lenguhan keluar dari mulut Aralyne. Perlahan lahan Teo membuka bajunya sendiri menunjukkan otot dadanya yang bidang dan kokoh.


Tak sadar tangan Aralyne mengelus dada berototnya, Teo semakin berani saat wanita itu tak menolaknya. Tangannya kini berada di kemeja Aralyne, ia perlahan membuka kancing baju wanita itu.


Tak tahan dengan semuanya, Teo mengangkat tubuh Aralyne seperti khas bridal style. Wanita itu memeluk leher Teo sambil memejamkan matanya. Teo membawanya ke kamar tidur, meletakkan tubuh wanita itu yang sudah setengah telanjang.


"Aku akan bertanggung jawab sayang." ujar Teo dan kembali menundukkan kepalanya.


Keduanya hilang kendali, dan akhirnya melakukan hubungan suami istri sebelum resmi menikah.


*****


Keesokan harinya, Aralyne terbangun dan mendapati tubuhnya masih di peluk hangat oleh Teo. Wanita itu menatap wajah Teo dengan teliti.


"Sepertinya aku melakukan hal yang bodoh." gumamnya.


Aralyne hendak turun dari ranjangnya tapi seketika Teo menahan pinggangnya.


"Selamat pagi sayang, apa kau tidur dengan nyenyak?" tanya Teo.


Wajah Aralyne memerah mengingat kejadian semalam. Melihat wanita itu terlihat malu, Teo menariknya kembali ke dalam pelukannya.


"Aku tahu ini yang pertama untukmu, maaf aku menyakitimu. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, aku akan membawa orang tuaku segera dan kita akan menikah bulan depan." sambung Teo.


"Kau yakin akan menikah denganku?" tanya Aralyne.


"Pertanyaan yang bodoh, walaupun kita tak melakukannya, aku akan tetap menikahimu apalagi setelah semua ini terjadi. Aku bukan pria jahat Aralyne, aku pria yang sangat bertanggung jawab. Dan kau harus tahu, aku semakin yakin jika aku mencintaimu." ujar Teo.


Aralyne bernafas lega mendengarnya, setelah kejadian semalam, ia juga semakin yakin tak ingin melepaskan pria itu. Aralyne memeluk Teo dengan erat.


"Kau membangunkan sesuatu yang sedang tertidur sayang." bisik Teo.


Pria itu membalikkan tubuhnya dan kini berada di atas tubuh Aralyne. Dengan lembut Teo melakukannya lagi, keduanya kembali hilang kendali di pagi hari.


*****


Hay para Reader Miss You, beberapa episode lagi cerita ini akan berakhir. Dukung terus karyaku, karena tanpa dukungan kalian tak ada berartinya aku disini.


Happy Reading All...😘😘😘


Ilustrasi Dokter Aralyne 👇



Ilustrasi Inspektur Teo 👇


__ADS_1


__ADS_2