
Inspektur Teo sedang mendekati Aralyne, setelah Brian meninggalkan Polda, pria itu semakin mendekatinya. Dengan canggung wanita itu berdiri menghadap Teo.
"Kita perlu bicara." ujar Teo.
"Aku hanya punya waktu 5 menit sebelum berangkat ke Bekasi." ucap Aralyne.
Teo mengerutkan keningnya. "Bekasi? Apa orang tuamu tinggal disana?" tanyanya penasaran.
Aralyne menggelengkan kepalanya. "Orang tuaku disini, aku mulai bekerja di rumah sakit Bekasi besok. Jadi aku..."
"Apa maksudmu?" potong Teo. "Kau bekerja di Bekasi, lalu disini."
"Aku sudah mengundurkan diri pak Teo. Aku ingin membuka lembaran baru disana." jawab Aralyne.
Wanita itu melihat jam tangannya. "Waktu 5 menit kita sudah habis, aku harus berangkat sekarang. Semoga kedepannya kau..."
Teo menarik Aralyne kedalam pelukannya, ia tak ingin mendengarkan ucapan perpisahan dari wanita itu.
"Maafkan ucapanku sebelumnya, walaupun jarak Jakarta Pusat ke Bekasi tidak terlalu jauh, tapi aku merasa kau akan meninggalkanku. Aralyne, bisakah kita mulai kembali hubungan kita? Aku tahu kau yang meminta Brian untuk menyelamatkanku dalam persidangan. Aku mohon tetaplah disini, disampingku dokter." pinta Teo.
Aralyne bergeming, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi pria yang memeluknya sekarang, jantungnya mulai berdegup kencang. Tapi ia belum yakin akan menerima Teo lagi setelah masalah sebelumnya.
Teo melepaskan pelukannya, ia menatap wajah cantik Aralyne. "Katakan ya Aralyne." pintanya lagi.
"Entahlah, aku belum yakin untuk memulainya lagi. Beri aku waktu untuk menenangkan diri Teo." jawab Aralyne.
Teo menghela nafas beratnya. "Aku tak akan memaksamu lagi, aku harap kau berubah pikiran dan menghubungiku segera sebelum aku menjalani hukuman disiplinku."
"Apa kau tak mau ajukan banding?" tanya Aralyne.
Teo menggeleng. "Cukup ringan dan sangat adil untukku, aku harus menerimanya. Aralyne, jika kau menerimaku kembali, aku berjanji akan mengubah sikap burukku, aku juga akan berhenti minum alkohol, aku akan menjadi pria yang bisa kau andalkan."
Aralyne tersenyum. "Aku senang mendengarnya, tapi aku benar benar butuh waktu. Aku pergi sekarang."
Aralyne segera meninggalkan pria itu keluar Polda, wanita itu memanggil taksi dan menghilang dari pandangan Teo. Wajah Teo terlihat sangat sedih, ia telah melakukan kesalahan pada wanita itu. Dengan langkah penyesalan, Teo kembali masuk ke Polda menuju ruang kerjanya yang telah ia tinggalkan selama satu minggu.
*****
Persiapan lamaran sudah selesai dilakukan, Brian menyewa restoran mewah dan menghiasnya sedemikian rupa untuk melamar Zean disana. Dengan hiasan yang begitu cantik dan mewah, dipenuhi bunga mawar merah dan putih. Brian siap melamar kekasihnya.
Ia kini sudah menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, ia segera menuju Polda kembali untuk menjemput Zean. Setibanya ia di Polda, Brian hanya menunggu kekasihnya keluar.
Zean akhirnya menyelesaikan pekerjaannya, lalu ia keluar menemui Brian yang sudah menunggunya.
"Sudah selesai?" tanya Brian saat wanita itu sudah berdiri dihadapannya.
Zean mengangguk. "Aku lapar Bri."
Brian tersenyum. "Kita ke restoran sekarang." ajaknya seraya membukakan pintu mobil untuk Zean.
__ADS_1
Zean masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Brian.
"Kemana kau akan membawaku?" tanya Zean.
"Kejutan sayang, kau pasti menyukai makanannya." jawab Brian.
"Kau membuatku penasaran Bri, baiklah aku tak akan bertanya lagi."
Brian terkekeh, ia melihat kekesalan pada wajah kekasihnya. Tapi ia tak akan membiarkan Zean mengetahui kejutan itu sedikitpun. Perjalanan cukup jauh dari Polda, ternyata Brian membawanya ke sebuah hotel berbintang di Jakarta. Zean terbelalak saat kekasihnya benar benar memarkirkan mobilnya disana.
"Hotel? Kau jangan macam macam sayang." ujar Zean.
Brian menautkan kedua alisnya. "Apa yang sedang kau pikirkan sayang? Apa kau menginginkannya?" godanya.
"Bri, tidak lucu." kata Zean.
Brian tertawa. "Maaf sayang aku bercanda, tentu saja kita akan makan disini."
"Kenapa mesti di restoran hotel Bri, kau membuang uangmu."
"Kau cerewet sekali, aku hanya mengajak kekasihku, apanya yang membuang uangku. Uangku semuanya milikmu sayang." kata Brian.
"Bagaimana bisa, aku belum resmi menjadi istrimu."
"Aku yang menentukan." jawab Brian seraya mengambil secarik kain yang sudah ia siapkan.
"Oh ayolah Bri, kau justru membuatku takut." jawab Zean.
"Apa kau tak mempercayaiku sayang?" tanya Brian lagi.
"Bukan itu Bri, tapi kau aneh malam ini."
Brian sedikit kesal, kekasihnya lebih cerewet dari biasanya. Pria itu membuka seatbelt Zean lalu membalikkan tubuhnya, ia segera menutup mata Zean dengan kain itu.
"Diamlah nona, ini hanya sebagian prosedur keamanan." goda Brian sambil tertawa.
Zean akhirnya menuruti keinginan Brian, wanita itu sudah tak bisa melihat apapun. Brian turun dari mobilnya dan mengajak Zean masuk menuju restoran hotel. Dengan langkah yang dipandu Brian, akhirnya Zean bisa sampai dengan selamat tanpa tersandung apapun.
"Bri, apa sudah sampai? Gelap sekali." ujar Zean.
Brian terkekeh. "Dasar wanita aneh, tentu saja gelap karena matamu tertutup. Kita sudah sampai tapi jangan kau buka dulu penutup matanya. Tunggu sebentar sayang."
Zean menuruti permintaan kekasihnya lagi. Setelah beberapa menit, Brian akhirnya menyuruhnya membuka penutup mata itu.
"Sekarang bukalah." pinta Brian.
Zean membuka penutup matanya, ia terkejut saat melihat hiasan cantik yang ada di depannya, yang lebih mengejutkan lagi Brian sedang berlutut dihadapannya. Pria itu tersenyum sambil membuka kotak cincin ditangannya.
"Seperti janjiku sejak awal, aku akan melamarmu dengan benar. Kita akan menikah setelah semua masalah kita selesai. Zean Sin, maukah kau menikah denganku dan hidup selamanya bersamaku?" ujar Brian.
__ADS_1
Air mata Zean seketika menetes di pipinya, ia tak menduga lamarannya akan begitu mewah dan indah.
"Tak perlu aku jawab sayang, kau pasti sudah tahu jawabanku." jawab Zean sambil terisak.
Brian bangun, ia menghapus air mata kekasihnya. "Mengapa kau malah menangis?"
"Aku terlalu bahagia Bri." jawab Zean.
Brian memeluknya dengan erat, alih alih diam, wanita itu justru semakin terisak.
"Aku tak akan memakaikan cincin ini di jarimu jika kau terus menangis." ancam Brian.
Perlahan lahan Zean mengendalikan emosinya, setelah Brian yakin kekasihnya sudah tenang, ia mengambil jari manis tangan kiri Zean lalu menyematkan cincin berlian itu disana. Brian menarik wajah Zean lalu mencium wanita itu.
Cukup lama keduanya saling berciuman, beberapa pelayan restoran akhirnya keluar dan memberikan tepuk tangan saat melihat keberhasilan lamaran penyewa restoran mereka. Keduanya menghentikan adegan mesra itu lalu duduk disana. Makanan satu per satu disajikan.
Rasa lapar Zean terlupakan saat ia terus-menerus menatap cincin yang ada di jarinya itu. "Terima kasih Bri."
"Apa kau menyukai cincinnya?" tanya Brian.
Zean mengangguk. "Sangat menyukainya, tapi aku lebih menyukai pria yang memberikannya."
Brian tersenyum. "Aku mencintaimu Zee."
"Aku juga mencintaimu sayang." jawab Zean. Zean mendekatkan dirinya pada Brian. "Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk semua ini Bri?" bisiknya.
Gelak tawa Brian keluar, kekasihnya masih saja memikirkan keuangannya. "Hentikan sayang, aku tak akan jatuh miskin karena semua yang aku siapkan ini. Kau akan terkejut saat tahu seberapa kaya calon suamimu ini."
"Ciiihhh, kau mulai lagi. Aku tak akan mempermasalahkan lamaran darimu walaupun hanya sederhana."
"Aku tak akan melakukan hal yang sederhana untukmu Zee, aku tak ingin mempermalukan keluarga Jatmiko dan keluarga Sin. Pernikahan kita nanti akan diingat oleh siapapun, aku janji padamu sayang." ujar Brian.
Zean justru tertawa.
"Apa yang lucu?" tanya Brian.
"Sudah puluhan tahun aku tak pernah mendengar kau menyebut nama belakangmu Bri." goda Zean.
Brian menarik hidungnya hingga wanita itu meringis. "Berani menggodaku lagi, maka aku akan membuka kamar hotel untuk kita." ancamnya.
Zean seketika diam membuat Brian terkekeh geli.
"Makanlah, aku tahu kau sudah sangat lapar." ajak Brian.
Zean mengangguk, keduanya menikmati makan malam romantis mereka.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1