
Akhirnya mereka sampai di apartemen, Zean masih sangat penasaran apa yang ingin dikatakan Brian. Ia terus menunggu di dalam mobil hingga keheningan terasa sangat lama.
Brian membuka sit beltnya lalu menatap wajah penasaran Zean. "Aku benar benar takut. Sangat takut Zee. Aku takut kau marah lagi karena aku..." ujarnya ragu dan kembali terdiam.
"Karena aku? Kau mau bilang apa sih." ujar Zean kesal. "Aku bisa mati penasaran Bri." sambungnya.
"Te... temanku..." jawab Brian tergagap.
"What are you doing?" tanya Zean makin tak sabaran.
"Aku tak akan menyebut namanya, tapi kau pasti masih ingat kan wanita, oh bukan maksudku teman kuliah yang bertemu denganku di Amerika. Kau juga pasti ingat ia bekerja satu rumah sakit denganku. Tadi siang aku..." kembali terdengar keraguan pada suara Brian.
Zean justru tertawa terbahak-bahak mendengarnya membuat Brian menautkan kedua alisnya kebingungan.
"Ya Tuhan, kekasihku yang malang ini. Temanmu yang itu aku masih ingat, ia memang wanita kan. Aku tak ingat namanya. Aku tahu apa yang ingin kau katakan padaku. Aku percaya padamu sayang." ujar Zean seraya mencubit kedua pipi Brian.
Brian masih tak bisa mengatakan apapun pada Zean, lidahnya masih kelu.
"Aku tahu, kau bertemu dengannya kan? Lebih tepatnya wanita itu menghampirimu. Kau merasa tak nyaman karena sikapku sebelumnya. Aku minta maaf Bri, saat itu aku terlalu terbakar api cemburu. Tapi kau harus tahu Bri, aku akan membangun hubungan ini dengan kepercayaan. Aku tak akan melarangmu berteman dengan siapapun, entah itu dengan wanita ataupun dengan pria. Aku percaya padamu, kau memiliki batasan untuk bergaul dengan mereka. Jangan jadikan aku beban buatmu Bri." ujar Zean.
"Aku kembali ke rumah sakit saat jam makan siang karena kau tak bisa makan denganku. Aku ke kantin rumah sakit, lalu ia..." kata Brian ragu lagi.
Zean mengecup bibirnya sekilas agar Brian lebih tenang. "Kau tidak janji dengannya, kau dan wanita itu kebetulan bertemu saat makan siang, justru aku yang salah membiarkan kekasihku kecewa. Aku tak marah sayang."
Brian menghela nafasnya karena lega. "Kau seperti paranormal yang tahu apa yang akan aku sampaikan padamu. Maafkan aku Zee."
"Aku percaya padamu." jawab Zean.
"Tapi apa yang kau lakukan tadi?" tanya Brian.
Zean menyipitkan matanya karena tak mengerti pertanyaan Brian padanya.
Brian tersenyum. "Kau hanya melakukannya sekilas, aku tak terima." ujarnya seraya menarik leher dan kepala Zean. Pria itu langsung mencium bibir Zean penuh dengan gairah.
Hasrat keduanya berkobar hingga mereka lupa jika sedang berada di parkiran apartemen, keduanya saling memanggut bibir. Jika saja Brian tak bisa mengendalikan hasratnya, mungkin ia akan melakukan hal yang lebih gila. Tapi Brian berhenti melakukannya, ia mengecup kening Zean dengan penuh kasih sayang. Lalu keluar dari mobilnya untuk membukakan pintu mobil Zean.
Zean masih terpaku disana, jadi pertanyaan Brian adalah soal kecupan sekilasnya tadi. Ia berusaha mengendalikan detak jantungnya yang terus berdetak lebih cepat. Ia bahagia bisa memiliki pria seperti Brian, tapi adegan tadi membuatnya hampir lupa diri.
"Mau sampai kapan kau duduk disana nona cantik?" goda Brian.
Zean tersadar, wajahnya memerah karena malu. "Ingin sekali aku pura pura tertidur."
Brian tertawa mendengarnya lalu menjentikkan jarinya ke kening Zean. "Anak nakal yang menggemaskan. Aku akan mengangkatmu sampai ke apartemen. Pura puralah tertidur." godanya.
__ADS_1
Zean terkekeh geli seraya keluar dari mobil itu. "Sayangnya, aku bukan anak kecil lagi tuan tampan. Kau tak perlu mengantarku sampai depan pintu, ini sudah sangat larut."
"Aku tidak akan bisa tenang kalau belum melihatmu masuk ke apartemenmu." jawab Brian seraya menggenggam tangan Zean masuk ke apartemennya.
Keduanya sangat enggan berpisah walaupun sudah sampai di depan pintu kamar Zean.
"Jangan menahanku, aku bisa minta bermalam disini." goda Brian.
Zean memeluknya. "Kau bisa bermalam denganku setelah kita resmi menikah."
Brian terkejut, ia menatap wajah Zean dengan lembut. "Itu ucapanmu sayang, jangan harap kau bisa menariknya kembali. Kau akhirnya setuju menikah denganku."
Zean tertawa. "Dari awal memang hubungan kita serius kan, tapi tidak sekarang. Setidaknya tunggu 5 tahun lagi."
Brian menekuk wajahnya, 5 tahun terlalu lama untuknya. Melihat ekspresi wajah Brian yang lucu membuat Zean semakin geli, tapi ia menahan ekspresinya agar Brian semakin merajuk.
"Sudah sana pak dokter, ini sudah sangat larut. Berhati-hatilah di jalan, jangan lupa kabari aku setelah sampai di rumah ya." ujar Zean.
"Baiklah... Sampai nanti sayang." jawab Brian seraya mengecup keningnya lagi lalu meninggalkan Zean.
Zean sedikit kecewa, ia berharap Brian merajuk karena ucapannya menikah 5 tahun lagi. Tapi ternyata Brian lebih dewasa, pria itu justru tetap tersenyum saat meninggalkannya. Zean pun mengunci apartemennya, ia segera membuka seragamnya dan masuk ke kamar mandi.
*****
Suara dering ponsel membuatnya bahagia, ia segera mengambil ponselnya tapi ia sangat kecewa ternyata itu bukan dari Brian. Panggilan dari nomor baru yang tak dikenal. Zean ragu untuk menjawab ponselnya.
"Siapa malam malam begini menghubungiku, ini bukan nomor Amerika. Ini nomor lokal, tapi aku takut menjawabnya." gumam Zean sendiri.
Zean menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghelanya dengan keras. Ia menjawab ponselnya. "Halo..."
"Akhirnya kau jawab juga." ujar suara yang sangat ia kenal, tentu saja suara pria itu Teo.
"Ada apa kau menghubungiku malam malam begini, dan dengan nomor baru." ujar Zean kasar.
"Santai sayang, aku hanya ingin mendengar suaramu. Aku tahu kau tak akan mau mengangkat teleponku jika dengan nomor yang biasanya. Hari ini aku berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dan menjauhimu, tapi aku semakin merindukanmu." kata Teo.
"Dasar pria gila." jawab Zean seraya menutup ponselnya.
"Sialan." umpat Zean. "Pria itu masih belum jera juga. Aku harus menghubungi kak JiJo, mereka harus tahu, aku tak ingin Brian melakukan kesalahan yang akan membahayakan dirinya." gumam Zean lagi.
Ponselnya kembali berdering, kali ini dari pria yang sejak dari tadi menunggunya.
"Kau darimana saja." tanya Zean.
__ADS_1
"Sapa aku lebih dulu sayang." jawab Brian.
"Kau menyebalkan, bukankah seharusnya dari setengah jam yang lalu kau menghubungiku."
"Maaf Zee, aku tadi langsung mandi. Setelah selesai mandi, papa menghubungiku. Ada masalah sedikit di rumah sakit Lampung." kata Brian.
"Ada apa dengan om Jack?" tanya Zean khawatir.
"Papa baik baik saja sayang, ini hanya masalah pasien yang akan di rujuk ke rumah sakit Pertamina. Kau sedang apa sekarang?" tanya Brian.
"Aku sedang bersiap tidur, jika kau tak menghubungiku mungkin aku akan ke rumahmu sekarang." jawab Zean kesal.
"Aku menyesal menghubungimu. Seharusnya aku biarkan kau mengunjungiku malam ini. Dan aku akan menguncimu di kamarku." goda Brian sambil terkekeh.
"Dasar pria usil, sejak tadi aku sangat khawatir."
"Lalu kenapa tidak menghubungiku?"
"Aku menunggu." jawab Zean.
"Sampai kapan?"
"Sampai aku ingin menembak kepalamu." jawab Zean kembali kesal karena terus diusili Brian.
Suara tawa lepas terdengar di balik ponselnya, Brian benar benar tertawa dengan keras disana.
"Kau tahu sayang, sekarang aku ingin sekali melihat wajah merajukmu." ejek Brian.
"Bri, berhentilah menggodaku. Lebih baik kita istirahat sekarang. Setidaknya kau sudah memberiku kabar." kata Zean.
"Maaf sayang, sebelum kau menutup teleponnya, aku ingin bertanya padamu. Apa tidak terlalu lama 5 tahun lagi kita menikah?" tanya Brian.
Zean menahan tawanya, akhirnya kekasihnya membahas soal ucapannya tadi. Alih alih mengatakan yang sebenarnya, Zean justru balik mengusili Brian.
"Setelah aku pikirkan, justru terlalu cepat. Bisakah kau menungguku 10 tahun lagi." ujar Zean.
"What?? Sepertinya kau tak serius dengan hubungan kita." kata Brian seraya menutup ponselnya.
Zean terkejut namun ia justru tertawa terbahak-bahak di atas ranjangnya. Ternyata ia bisa membuat Brian benar benar marah. Jiwa usilnya semakin besar, ia membiarkan Brian marah sampai besok. Ia sekarang ingin menghubungi kakak kakaknya mengenai Teo.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1