
Penantian selama 5 bulan terakhir akhirnya berakhir, setelah keluarga si kembar dan keluarga Kalfi sampai di Indonesia. Mereka memilih tinggal di Jakarta karena pernikahan Brian dan Zean akan dilaksanakan di Jakarta. Mereka melakukan itu karena teman teman keduanya lebih banyak berada di Jakarta.
Keluarga Sin dan juga keluarga Jatmiko sudah berkumpul di Jakarta, mereka tinggal di rumah besar Brian, persiapan pernikahan sudah hampir seratus persen. Kini Zean sedang bermanja-manja dengan kakak kembarnya dan iparnya.
"Kau mau menikah lusa, tapi sikapmu masih kekanak-kanakan." ujar Sherly.
"Aku merindukan mereka, hampir satu tahun tidak bertemu." jawab Zean masih menyenderkan kepalanya di bahu Jidan Sin.
"Lebih tepatnya baru 8 bulan sayang." kata Jidan Sin.
"Hanya 4 bulan lagi menjadi satu tahun. Kak Ji bagaimana rasanya akan menjadi seorang ayah?" tanya Zean.
"Seperti berada di bulan." jawab Jidan.
"Apa di bulan menyenangkan?"
"Aku tak tahu, tapi seperti itulah susah diungkapkan dengan kata-kata." kata Jidan.
Zean terkekeh. "Lalu bagaimana denganmu kak Jo?"
"Seperti memilikimu Zean." jawab Jordan Sin.
"Sepertinya kalian sangat bahagia memiliki adik secantik ini." ujar Zean mulai narsis.
"Tentu saja." jawab keduanya bersamaan.
Zean tertawa. "Aku menyayangi kalian, seandainya kalian bisa tinggal lebih lama disini."
Kesedihan Zean terlihat saat mengatakan hal itu. Ia sebenarnya tak ingin jauh dari kakak kembarnya.
"Hentikan Zean, kau tak bisa merajuk lagi. Hanya jarak yang memisahkan tapi komunikasi kita tetap lancar setiap hari. Kau lupa SinMart butuh kami disana." ujar Jidan.
"Apa kalian tak berniat membuka SinMart di Indonesia, serahkan SinMart Amerika kepada bawahan kalian dan tetap disini mengurus SinMart baru." ujar Zean.
"Jangan kau pikir kami tak memikirkannya Zean, sedang dalam perencanaan." ujar Jordan.
Jidan melempar bantal kursi pada Jordan. "Kau tak bisa menjaga rahasia sama sekali."
"Aku tak ingin melihat adik kesayangan kita sedih seperti itu." kata Jordan.
Zean melipat tangannya di depan perut. "Oh jadi kalian sudah membuat rencana untuk mengejutkan kami."
"Lebih tepatnya hanya kau saja." sahut Tora.
Zean menatap ayahnya penuh tanya, lalu ia memberengut setelah sadar hanya dialah yang belum tahu.
"Mengapa papi jahat sekali padaku, bukankah papi selalu mengatakan semuanya?" tanya Zean.
"Permintaan kedua kakakmu, tapi mereka justru membukanya sendiri." jawab Tora.
"Setidaknya 2 sampai 3 tahun lagi mereka akan menetap di Indonesia setelah pembangunan SinMart Indonesia selesai di daerah Bandung." ucap Sherly.
"Aku benar benar satu satunya orang yang belum tahu soal ini. Apa Brian juga tahu soal ini?" tanya Zean.
Mereka semua terdiam, karena rencana pembangunan SinMart Indonesia tentu saja sudah diketahui oleh Brian untuk mengejutkan Zean. Melihat mereka semua bergeming, Zean tahu jika hanya dialah yang dibodohi. Ia bangun dan meninggalkan keluarganya dengan kesal.
__ADS_1
*****
"Kau harus bertanggung jawab." ujar Jidan pada Jordan setelah adiknya merajuk.
"Aku hanya tak ingin melihat kesedihan di wajahnya. Apa aku salah." jawab Jordan.
"Sudah jangan berdebat lagi, cepat hubungi Brian untuk membujuk adik kalian. Anak itu masih seperti anak berumur 6 tahun." pinta Sherly.
"Mami tenang saja, Zean bukan anak kecil lagi. Walaupun ia kesal pada kita, sekarang lihatlah ia sedang tertawa bersama iparnya dan juga Kevin ( putra Kalfi masih ingatkah kalian di season 2 )." ujar Tora.
Mereka semua mengikuti tatapan Tora Sin, dan memang benar Zean mengusili Kevin hingga membuat ipar iparnya yang hamil besar tertawa.
"Apa kita ikut bergabung saja?" tanya Jordan.
"TIDAK..." jawab Jidan, Tora dan Sherly bersamaan.
"Salahku dimana?" tanya Jordan.
"Kau akan merusak segalanya, kau pikir Zean melupakan soal tadi. Ia hanya sedang menutupi kekesalannya dengan bercanda bersama mereka." jawab Jidan.
"Kakakmu benar Jo, kau sama sekali tak melihat situasi." sahut Tora.
"Aku masih merindukan adikku itu."
"Mami tahu sayang, biarkan Zean tenang terlebih dahulu. Tetap hubungi Brian, ia akan menikah lusa. Mami tak ingin merusak suasana hatinya." ujar Sherly.
"Biar aku saja yang menghubunginya." jawab Jidan.
Jidan Sin mengambil ponselnya, lalu segera menghubungi Brian. Dengan penjelasan sedetail mungkin, akhirnya Jidan selesai bicara.
"Brian akan segera kemari, ia akan menjelaskan semuanya pada Zean." jawab Jidan.
Mereka semua menghela nafas lega.
"Papi harap adik kalian bisa kembali senang, Brian pasti bisa membujuknya."
"Dan itu sudah pasti pi, itulah mengapa mami sangat percaya pada Brian untuk menjaga Zean dan menjadi suaminya."
Mereka kembali menatap Zean yang sedang tertawa.
"Aku tak menyangka akan melepaskan putri kita sekarang. Aku semakin tua." ujar Tora.
"Papi benar, putri kita akan menjadi milik orang lain. Padahal aku masih merasa ia berusia 3 tahun." sahut Sherly.
"Hentikan, kalian membuat kebahagiaan kita berubah menjadi kesedihan." ujar Jidan. "Aku berjanji akan menyatukan keluarga Sin lagi tanpa jarak berhari hari perjalanan. Kami akan menjaga papi dan mami bersama." sambungnya.
Air mata Sherly tak bisa terbendung lagi, ia akhirnya meneteskan air matanya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Kalfi. Ia datang bersama istrinya. "Oh ayolah nyonya besar, mengapa kau menangis di hari bahagia ini." sambungnya.
Tora terus menenangkan istrinya. "Tantemu selalu terbawa perasaan jika menyangkut putra putrinya."
"Ini air mata kebahagiaan karena memiliki mereka." dalih Sherly.
Mereka semua tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Kapan orang tuamu tiba?" tanya Tora.
"Kemungkinan besok siang om." jawab Kalfi.
"Mei Sin tak pernah menghubungiku." ujar Tora lagi.
"Mama bilang semakin banyak berbicara dengan om Tora akan semakin membuatnya sedih." ujar Jenny istri Kalfi.
"Alasannya saja, sejak kecil ia memang sudah meninggalkanku."
"Om Tora tak tahu seberapa besar mama menyayangi om. Setiap ia bercerita selalu mengeluarkan air matanya." sahut Kalfi.
"Jarak Singapura ke Indonesia tidak terlalu jauh, tapi ia bahkan tak pernah mengunjungiku sejak pernikahan si kembar."
"Hentikan pi, adikmu memiliki kesibukan sendiri bersama keluarganya. Jika kau merindukannya, bukankah kau yang harus menghubunginya." kata Sherly.
"Papi masih menjaga harga dirinya untuk menghubungi tante Mei terlebih dahulu." ejek Jordan.
"Jangan membuatku ingin memukulmu Jo." jawab Tora.
"Aku akan menjadi seorang ayah, sudah tak pantas dipukul." kata Jordan.
"Kau tetap putraku." kata Tora.
"Baiklah aku menyerah."
Beberapa jam kemudian, Brian datang. Pria itu tergesa-gesa masuk dan menyapa semuanya.
"Maaf aku terlambat." ujar Brian.
"Kapan kau mulai cuti?" tanya Jidan.
"Besok kak." jawab Brian. "Apa semuanya baik baik saja?" tanyanya.
Mereka semua menatap Zean.
"Sepertinya masih butuh bujukanmu Brian. Ia terlihat sangat kesal." ujar Sherly.
Brian mengangguk, ia tahu kekasihnya masih marah. Sikapnya sekarang justru lebih menakutkan mereka semua.
"Bolehkah aku membawa Zean ke lantai atas?" tanya Brian.
"Papa mu sedang tidur, lebih baik kau bawa Zean keluar. Tapi tetap hati hati di jalan, bagaimanapun kalian akan menjadi pengantin." jawab Sherly.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit." ujar Brian seraya menghampiri kekasihnya.
Terlihat beberapa kali Zean menolak ajakan Brian, tapi setelah berusaha akhirnya wanita itu menurutinya. Zean keluar dari rumah bersama Brian tanpa pamit lagi dengan keluarganya.
*****
Apakah Brian akan berhasil membujuk Zean?
Nantikan episode terakhir dari Miss You...
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1