
Hari semakin sore, Brian merasa bersalah karena meninggalkan calon mertuanya untuk bekerja, tapi ia tak bisa mengambil cuti karena ia baru saja bekerja. Ia segera membereskan mejanya untuk pulang ke rumah. Tapi ia menghubungi Zean terlebih dahulu.
"Halo Zee... Kalian baik baik saja." ujar Brian.
"Kami baik baik saja, kapan kau kembali?" tanya Zean.
"Aku sedang bersiap siap pulang, bagaimana makan malam? Apakah kita akan makan di luar atau aku yang membelikan makanan?" tanya Brian.
"Tidak perlu Bri, kau kembalilah dengan cepat. Aku dan mami sudah mengotori dapurmu untuk menyiapkan makan malam." jawab Zean.
"Mengapa kalian lakukan itu? Bukankah ibumu baru sampai, bagaimana jika ia sakit Zee."
"Tenang saja, kami tidak memasak banyak. Dan mami sudah cukup istirahat, ia sangat senang membuat makan malam untukmu. Kau berhati hatilah saat pulang."
"Baiklah, sampai ketemu nanti. Bye..." ujar Brian seraya menutup ponselnya.
Brian segera mengambil kunci mobilnya, ia keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Disanalah ia melihat Aralyne sedang kebingungan di depan mobilnya. Brian mendekati wanita itu.
"Aralyne, kau belum pulang. Ada apa?" tanya Brian.
"Ah... dokter Brian... Aku dari tadi ingin pulang tapi mobilku tak mau dinyalakan." jawab Aralyne.
Brian menatap jam tangannya. "Coba aku lihat, nyalakan starternya." perintahnya.
Aralyne masuk ke dalam mobilnya dan mencoba menyalakan mobil itu. Tapi tak mau menyala juga.
"Kau tekan klaksonnya." ujar Brian.
Aralyne mengikuti perintah Brian dan mendapati suara klakson mobil yang terdengar seperti tercekik. Brian tertawa mendengarnya.
"Sepertinya accu mobil yang bermasalah, kau seharusnya mengeceknya di bengkel. Apa kau punya alat cas accu?" tanya Brian.
Aralyne menggeleng. "Aku tak tahu ada apa saja didalam bagasi." jawabnya.
Brian membuka bagasi mobil wanita itu, ia mencari cari alat cas accu. "Sepertinya tak ada, tunggu sebentar." ujarnya meninggalkan mobil Aralyne menuju mobilnya sendiri.
Brian mengambil alat cas accu, sedemikian rupa ia memasangkan pada accu mobil itu. "Tunggulah setengah jam, kau pasti bisa menyalakan mobilnya lagi."
Brian menatap sekeliling rumah sakit, ia akan terlambat pulang jika terus bersama Aralyne tapi meninggalkan wanita itu bukan hal yang baik.
"Aku akan memanggil sekuriti untuk membantumu, aku ada janji jadi harus segera pulang." ujar Brian.
"Tak perlu Brian, aku bisa sendiri. Terima kasih bantuanmu." ujar Aralyne.
"Kau yakin?" tanya Brian ragu.
"Iya tak apa, kau pulanglah." jawab Aralyne.
"Maafkan aku, jika aku tak memiliki janji mungkin aku akan menemanimu."
"Sudah tak apa, terima kasih Brian. Aku pinjam dulu alat cas accu nya." ujar Aralyne.
"Pakailah sesukamu, baiklah aku pulang dulu ya. Dah..." ujar Brian seraya meninggalkan wanita itu.
Brian masuk ke mobilnya, lalu segera pulang ke rumahnya.
__ADS_1
*****
Sherly dan Zean sudah selesai menyiapkan meja makannya.
"Ini pertama kalinya setelah sekian tahun memasak bersamamu Zean." ujar Sherly.
"Mami benar, aku senang sekali." jawab Zean. "Brian tadi mengeluh, ia bilang mami masih sangat lelah tapi malah memasak." sambungnya.
"Calon menantu yang perhatian." goda Sherly.
"Mami, kami masih lama untuk ke jenjang pernikahan." ujar Zean.
"Mami tak memaksa kalian sayang, mami juga ingin kau menikmati masa lajangmu."
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Tora masuk ke ruang makan.
"Obrolan kecil antara ibu dan anak, papi kepo sekali." jawab Zean seraya tertawa.
Sherly ikut terkekeh mendengar keusilan putrinya. "Brian belum kembali, apa kau sudah sangat lapar?"
Tora menggeleng. "Aku hanya kesepian di ruang santai, kalian menghabiskan waktu di dapur."
"Tunggulah sebentar lagi tuan, kami sudah hampir selesai." jawab Sherly.
"Baiklah, aku akan menunggu Brian saja di luar. Zean, apa kita baik baik saja tinggal di rumah Brian? Papi merasa tidak enak."
Zean menghela nafasnya. "Mau bagaimana lagi, setidaknya kalian menginaplah malam ini. Aku akan berbicara lagi dengannya."
"Kami tidak lama sayang, hanya 2 malam. Kami akan kembali ke Lampung." ujar Sherly.
"No...no...no..." jawab Zean. "Kalian tinggallah bersamaku setidaknya seminggu." katanya.
"Kalian sangat keras kepala." ujar Zean kesal.
"Sebelum lebih lanjut, lebih baik papi keluar sekarang." ujar Tora seraya meninggalkan mereka.
Zean menatap ibunya. "Mami lebih baik mengganti pakaian." ujar Sherly meninggalkan Zean.
Zean hanya mendengus kesal melihat sikap mereka.
*****
Sudah pukul 7 malam, Brian masih juga belum sampai. Zean terus menerus menghubunginya tapi ponselnya di luar jangkauan.
Zean semakin membuat kepala Tora dan Sherly pusing karena putrinya terus mondar-mandir di depan mereka.
"Duduklah dengan tenang Zean." perintah Tora.
"Kau membuat kami pusing." sahut Sherly.
"Brian susah dihubungi, padahal ia pulang sejak jam 6 tadi. Ini sudah satu jam lebih, bukankah rumah sakit jaraknya hanya satu jam kemari." jawab Zean.
"Bukankah ini ibukota Jakarta sayang, papi yakin ia terjebak kemacetan."
"Ponselnya benar benar mati." kata Zean. "Kalian pasti sudah lapar."
__ADS_1
Kedua orang tuanya menggeleng. "Kami belum lapar, tapi kami pusing melihatmu."
Zean menghempaskan tubuhnya di kursi. "Apa seorang dokter sulit dipegang kata katanya?"
"Hus...kau tak boleh seperti itu sayang, kau kesal karena hal kecil seperti ini." ujar Tora.
Tak lama suara deru mobil terdengar di halaman. Zean segera keluar tanpa mengatakan apapun pada orang tuanya. Benar saja, pria itu baru sampai. Zean menopang kedua tangannya di pinggang.
Brian menatap kekasihnya penuh penyesalan. Ia mengambil beberapa kantong plastik di mobilnya. Ia menghampiri kekasihnya lalu mencium keningnya.
"Maaf sayang, aku mampir ke mini market untuk membeli beberapa camilan. Jalanan juga sangat ramai."
"Ponselmu?" tanya Zean.
Brian bingung, ia meletakkan kantong plastik itu di lantai lalu segera melihat ponselnya di saku celananya. "Oh ya ampun, maaf sayang ponselku mati. Tersenyumlah, aku butuh kekuatan." godanya.
"Tak mau, ayo masuk. Ganti pakaianmu, lalu segera ke ruang makan." jawab Zean seraya mengambil kantong belanjaannya.
Sebelum wanita itu masuk, Brian memeluknya dari belakang. "Jangan marah Zee, aku ingin kau tersenyum saat menyambutku pulang."
"Tergantung seberapa besar kesalahanmu pak dokter."
"Aku akan memelukmu terus, jika kau masih tak mau tersenyum." godanya sambil mengecup pipinya.
"Bri, hentikan ada orang tuaku."
"Tersenyum..." pinta Brian.
Zean akhirnya menyerah, ia membalikkan tubuhnya lalu tersenyum. "Jangan pernah kehabisan baterai lagi Bri, kau membuatku khawatir."
Brian memanfaatkan situasi itu dengan mencium bibir Zean. Wanita itu terbelalak, tapi ia tak bisa melawan karena tangannya penuh dengan kantong belanjaan. Brian memanggut bibirnya dan terus menggigitnya penuh kerinduan. Brian menghentikan perbuatannya, lalu mendahului Zean masuk kedalam rumah.
Sedangkan Zean masih terpaku disana, jantungnya masih berpacu seperti sedang berlari. Perlakuan Brian padanya membuatnya lupa segalanya. Ia akhirnya tersadar jika sudah ditinggalkan kekasihnya. Zean hanya bisa mengendalikan hasratnya lalu masuk ke dalam rumah dan meletakkan kantong belanjaan itu di ruang santai. Setelah itu ia segera masuk ke ruang makan.
Tora dan Sherly menatap wajah putrinya yang terus merona. "Sebahagia itu bertemu kekasihmu?" goda Tora.
"Aku masih kesal." jawab Zean berbohong.
"Hentikan sayang, Brian sudah kembali dengan selamat kan." kata Sherly.
Zean mengangguk. "Ia mungkin langsung ganti pakaian tanpa mandi."
Tak lama kemudian, Brian bergabung dengan mereka.
"Benarkan mi, pi... Ia tak mandi." ejek Zean.
"Jika aku mandi, aku semakin terlambat makan malam bersama kalian. Aku tak ingin membuat calon mertuaku kelaparan lebih lama. Maaf om, tante jalanan sangat ramai." ujar Brian.
"Kami paham Brian, hanya Zean yang tidak sabaran." ejek Tora.
"Papi..." ujar Zean malu.
"Sudah, sudah... ayo kita mulai makan." ajak Sherly.
Mereka semua makan malam dengan tenang, karena itulah peraturan Tora dan Sherly jika sedang makan.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘😘😘