Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Sidang Disiplin


__ADS_3

Seminggu kemudian, sidang disiplin inspektur Teo dilaksanakan. Semua para saksi sudah hadir, dan para atasan maupun beberapa anggota kepolisian sudah berada di ruangan itu. Dengan tertunduk malu, Teo memasuki ruangan. Dengan puluhan pertanyaan dari atasan sudah dijawab oleh Teo.


Kali ini saksi pertama memberi penjelasan, ia adalah Zean yang terkait dengan kasus Teo. Pernyataan Zean cukup memberatkan Teo, tapi wanita itu tak mengatakan soal pemukulan terhadap kekasihnya Brian. Ia hanya mengatakan soal pengejaran Teo terhadapnya selama ini.


Saksi kedua adalah dokter Aralyne, wanita itu justru meminta maaf kepada semuanya. Ia mengakui jika masalah Teo adalah akibat dari perkelahian keduanya. Wanita itu juga mengatakan soal lamaran Teo kepadanya. Ia ingin Teo dilepaskan dari hukuman berat.


Saksi terakhir tentu saja dokter Brian, pria itu membuat pernyataan yang sangat mengejutkan Zean.


"Aku tak mengenal saudara Teo." ujar Brian saat pertama membuka suara.


"Aku hanya pernah mendengar soal lamaran pria itu kepada Zean, dan berusaha mendapatkan Zean karena ditolak. Setelahnya, aku sama sekali tak pernah bertemu dengan saudara Teo. Keterlibatan namaku di dalam video, kemungkinan karena ia mengetahui bahwa Zean berpacaran denganku, mungkin itu dipicu rasa cemburu. Dan sepertinya ia memiliki perasaan kepada wanita lain setelah lelah mengejar Zean. Hanya itu yang bisa aku katakan disini." kata Brian lagi.


Setelah itu, para atasan kepolisian menimbang dan melihat cara kerja Teo selama menjadi anggota kepolisian. Bahkan anggota yang lain membenarkan jika inspektur Teo tidak pernah melakukan kesalahan saat bekerja. Para saksi sudah berada di luar ruangan, kini dengan kesendirian Teo berada diantara atasan dan provos akan mendengarkan keputusan akhir.


"Inspektur Teo." panggil atasan hukum yang berwenang.


"Siap pak hadir." jawab Teo tegas.


"Mengingat kejadian tersebut di luar jam tugas serta mengingat pekerjaan terhukum selama berada di kepolisian, kami memutuskan terhukum dihukum selama 21 hari di ruangan khusus dipotong masa tahanan sebelumnya dan penundaan kenaikan gaji secara berkala sampai terhukum bisa mengembalikan nama baiknya kembali. Jika terhukum merasa keberatan, maka terhukum bisa mengajukan banding paling lambat 14 hari setelah keputusan." ujar Ankum.


"Siap pak laksanakan." jawab Teo.


Akhirnya sidang disiplin berakhir, Teo dibebaskan sampai 14 hari ke depan dan tetap melaksanakan tugasnya sebagai inspektur di Polda. Jika ia tak mengajukan banding selama waktu yang telah ditentukan, maka ia akan menjalani hukuman tersebut hari ke 15.


Teo keluar dari ruangan dan langsung menemui orang tuanya yang sudah menunggunya sejak pagi hari. Wanita paruh baya memeluknya sambil menangis membuat siapapun akan terharu melihatnya. Teo akhirnya terisak saat ibunya itu mengatakan hal hal yang menusuk hatinya.


Keputusan sidang disiplin telah keluar, keluarganya meminta Teo untuk menerima keputusan tersebut tanpa melakukan banding, karena itu keputusan yang sangat ringan. Mereka justru mengira putra mereka akan diberhentikan secara tidak hormat.


"Kau sangat beruntung nak." ujar Maeda ibu Teo.


"Maafkan Teo ma, pa." jawab Teo sambil mengeluarkan air matanya.


Ayahnya memegang kedua lengannya. "Kuatlah pak inspektur, tak pantas air mata itu keluar. Aku selalu mengajarkan kau untuk bertanggung jawab atas segala yang kau perbuat." ujar Jimy.


Teo menganggukkan kepalanya. "Kalian pulanglah ke rumahku, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan."


Kedua orang tuanya mengangguk, Teo mengantarkan mereka keluar Polda dan memesankan taksi. Setelah kedua orang tuanya meninggalkan Polda, ia segera menuju ruangan Zean.


*****


Zean sedang berbicara dengan Brian di ruangannya, ia terus menerus meminta penjelasan kekasihnya karena menutupi segala perbuatan Teo.

__ADS_1


"Katakan Bri, mengapa kau berubah pikiran?" tanya Zean.


"Tidak ada hal yang penting sayang, kau harus bekerja. Aku tak ingin mengganggu dirimu. Aku juga harus kembali ke rumah sakit." jawab Brian.


"Tak akan ku izinkan kau keluar dari sini sebelum mengatakan yang sebenarnya." kata Zean.


"Aku akan menceritakan semuanya saat sudah pulang nanti, pembicaraan kita akan panjang Zee. Dan aku harus bersama Aralyne kembali ke rumah sakit, ia datang kemari bersamaku. Kau tidak marah kan?"


"Aku tidak marah soal itu, tapi aku benar benar penasaran Bri."


"Aku janji akan mengatakan semuanya sayang, aku rasa dokter Aralyne sedang menunggu di parkiran sekarang." kata Brian.


Zean menghela nafasnya, ia harus menunggu waktu yang tepat untuk mendengarkan penjelasan kekasihnya.


"Apa kau keberatan dengan keputusan Ankum?" tanya Brian.


"Aku tak perduli, tapi mendengar inspektur Teo tak diberhentikan, aku sangat lega. Aku tak ingin membuatnya semakin jahat." jawab Zean.


"Aku senang membuat rasa khawatirmu hilang, baiklah bu pol tidak baik aku terus berada di ruanganmu. Malam ini aku akan menjemputmu, jangan makan malam lebih awal karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


Zean mengerutkan keningnya. "Mau kemana?"


Saat Brian ingin melangkah keluar, Teo masuk tanpa mengetuk. "Bisakah kita bicara sebentar?"


Brian menautkan kedua alisnya, pria itu ingin bicara dengannya tapi ia sama sekali tak ingin melihat wajahnya. Brian menatap Zean, kekasihnya juga bingung namun menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya duduk bersama di sofa ruangan Zean.


"Terima kasih." ujar Teo. "Maaf selama ini aku menilaimu dengan salah." sambungnya.


"Jika sudah aku harus kembali ke rumah sakit." jawab Brian dingin.


"Aku tahu kau sangat membenciku, seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya untuk memberatkan hukumanku. Mengapa kau pura pura tak mengenalku, sedangkan aku pernah memukulmu?" tanya Teo.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku benar benar ingin berpura pura tak mengenalmu. Jadi jangan pernah muncul lagi di hadapanku, jangan juga mengganggu kekasihku kecuali soal pekerjaan. Hargailah wanita yang kau sukai, semakin kau tulus padanya, maka kau akan semakin mudah mendapatkannya. Jadilah polisi yang bisa menjadi panutan untuk warganya, berhentilah minum untuk membuatmu tetap waras." ejek Brian seraya meninggalkan ruangan.


Teo masih ternganga mendengar ucapan Brian. Pria yang seharusnya bisa menjatuhkannya ternyata membantunya walaupun ia tahu Brian sangat membencinya.


"Jika tak ada lagi yang ingin anda bicarakan, lebih baik anda keluar pak Teo. Maaf bukan maksudku mengusir anda, tapi aku memiliki banyak pekerjaan." ujar Zean.


"Apa kau mau memaafkan perbuatanku selama ini?" tanya Teo.


"Tentu saja, bagaimanapun kita satu pekerjaan. Dan anda adalah atasanku, sebaiknya kita lupakan masalah pribadi." jawab Zean.

__ADS_1


Teo berdiri, ia mengulurkan tangannya. "Bu Zean, aku adalah inspektur Teo. Senang bekerja bersama anda." ujarnya.


Zean tersenyum lalu menyambut uluran tangannya. "Senang bekerja dengan anda pak inspektur."


"Terima kasih." ujar Teo lalu berpamitan keluar.


*****


Di lain sisi, Aralyne masih menunggu Brian di parkiran. Wanita itu tampak lega tapi juga merasa bersalah.


Brian menghampirinya. "Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit."


"Terima kasih kau mau membantuku Brian, aku pikir semua mustahil karena Teo terlalu menyakiti kalian." jawab Aralyne.


"Seharusnya aku tak membantumu, tapi aku tak ingin melupakan pertemanan kita saat di Inggris. Kita bisa memulai dari awal lagi untuk memperbaiki semuanya." ujar Brian.


Aralyne menggeleng. "Aku terlanjur malu untuk memulainya dari awal, setidaknya kau sudah membantuku untuk yang terakhir kalinya. Terima kasih banyak Brian, semoga kau bisa lebih sukses kedepannya."


"Apa maksudmu Aralyne, lupakan saja semuanya. Aku berharap kau dan Teo bisa memulai dari awal hubungan kalian, jika kau bisa menyukainya maka lakukanlah. Teo memiliki pekerjaan yang baik, ia pasti bisa berubah bersamamu."


"Aku tak perlu kembali ke rumah sakit Pertamina karena aku sudah mengundurkan diri. Aku akan pindah ke rumah sakit di Bekasi. Jika kita memang berjodoh untuk berteman, pasti kita akan bertemu lagi." ujar Aralyne.


Brian terkejut mendengarnya. "Mengapa kau mengundurkan diri dari rumah sakit terbaik Aralyne, apa karena masalah ini?"


Aralyne menggeleng. "Dari awal aku bekerja disana, aku hanya terobsesi denganmu saja. Sebenarnya aku mencari tahu kau bekerja dimana, aku berusaha masuk ke rumah sakit Pertamina karena tahu kau akan bekerja disana. Dari awal aku memang salah, jadi aku akan memulai kembali dengan benar di Bekasi. Semoga hubunganmu dengan Zean berjalan dengan baik, aku berharap kau mau mengundangku datang di pernikahan kalian nanti."


Brian menghela nafasnya. "Apakah kau sudah memberitahu Teo tentang semua ini?"


"Hubungan kami sudah berakhir, aku tak ingin melihat kebelakang." jawab Aralyne.


"Tapi sepertinya pria itu benar benar menyukaimu, walaupun ini terkesan lebih cepat tapi aku bisa melihat dari tatapan cemburunya sekarang." ujar Brian.


Aralyne mengikuti tatapan Brian di belakangnya, ia terkejut saat Teo sedikit demi sedikit mendekatinya.


"Baiklah dokter Aralyne, aku akan kembali ke rumah sakit sekarang. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin." ujar Brian lagi seraya masuk ke dalam mobilnya.


Brian meninggalkan Aralyne bersama Teo disana, ia merasa lega bisa membuat semuanya berjalan dengan baik tanpa ada permusuhan baru lagi. Ia juga berharap Zean bisa menerima lamarannya malam ini.


*****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2