
Mendengar Zean cuti satu hari untuk menjemput orang tuanya di bandara membuat Teo berpikir bagaimana caranya mendekati orang tua Zean. Saat ia bertugas diluar Polda, ia mampir ke sebuah toko buah dan segera menuju apartemen Zean.
"Jika aku tak bisa mendekati Zean, maka orang tuanya yang harus aku dekati." gumam Teo.
Teo sudah sampai di apartemen Zean, ia menekan tombol bel pintu berulang kali tapi tak ada satu orang pun muncul disana.
"Apa mereka belum sampai, baiklah akan aku tunggu disini." gumam Teo lagi sambil menunggu.
Sudah lebih dari satu jam ia berdiri disana tapi tak ada yang muncul juga. Ia meletakkan keranjang buahnya di depan pintu apartemen, dan meninggalkan apartemen itu dengan kesal.
"Sepertinya aku salah informasi, jangan jangan Zean cuti untuk berkencan. Orang tuanya hanya alasannya saja." ujar Teo kesal. "Lihat saja Zean, aku tak akan pernah membiarkanmu bahagia bersama pria lain." sambungnya.
Teo segera kembali ke Polda, ia sudah menghabiskan waktu istirahatnya dengan menunggu Zean. Ia sangat kesal, ia harus segera merencanakan sesuatu untuk memisahkan keduanya. Lalu ia teringat pada wanita yang datang bersama kekasih Zean ke restoran. Dokter Aralyne, wanita yang akan membantunya untuk menghancurkan hubungan Zean dan kekasihnya.
Alih-alih kembali ke Polda, Teo justru menuju rumah sakit Pertamina. Ia akan menemui dokter Aralyne segera, ia tak ingin menunda lebih lama lagi. Jika orang tua Zean semakin dekat dengan kekasihnya, maka akan sangat sulit buatnya untuk mendekati Zean lagi.
Satu jam telah berlalu, ia akhirnya sampai di rumah sakit. Ia menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan dokter Aralyne. Para suster menunjukkan ruang dokter anak di lantai 3. Teo tersenyum, ternyata wanita itu adalah seorang dokter anak. Maka akan lebih mudah untuknya memisahkan Zean dan kekasihnya itu.
Sesampainya di lantai 3, ia mendaftarkan dirinya agar bisa bertemu dengan dokter Aralyne. Walaupun ia bukan seorang anak, tapi ia bisa mendaftar dengan alasan ingin berkonsultasi tentang anaknya. Cukup banyak pasien anak yang menunggu, dengan sabar Teo menunggu. Ia sudah menghubungi anak buahnya karena akan datang terlambat ke Polda. Sudah saatnya ia masuk ke ruangan.
Wanita cantik itu masih serius dengan data data pasien di mejanya.
"Silahkan duduk..." ujar dokter Aralyne tanpa mendongak.
Teo duduk di depannya. "Anakku suka merengek di malam hari dok, apakah anda punya solusi."
"Dimana a..." ujar Aralyne terputus saat menatap pria di depannya. "Apa yang anda lakukan disini?" tanyanya.
Teo tertawa. "Kau begitu serius dalam bekerja, sampai kau tak tahu siapa yang datang. Apa setiap dokter akan melakukan hal itu?" tanyanya.
"Maaf, begitu banyak pasien hari ini. Apa anda sudah memiliki anak? Apa anda seorang duda? Maaf aku bertanya, karena yang aku ingat anda sedang mengejar seorang wanita." ujar Aralyne.
Teo kembali tertawa, ia merasa dokter Aralyne sangat lugu. "Aku hanya mencari alasan, aku masih single. Aku ingin bertemu denganmu, karena aku pikir kita tak punya banyak waktu lagi."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Aralyne.
"Tawaranku saat kita bertemu di restoran, apa anda lupa?"
"Aku pikir anda hanya bercanda, dan itu bukan ide yang bagus pak. Aku tak suka melakukan hal hal yang kotor untuk mendapatkan cinta seseorang." jawab Aralyne.
"Kau terlalu naif, panggil aku Teo saja. Kita tak mungkin bisa memisahkan keduanya jika dengan cara baik Aralyne. Apa kau sudah mendapatkan kata maaf atas apa yang dilakukan pria itu dengan meninggalkanmu di restoran?" tanya Teo.
Aralyne terdiam, bahkan sampai detik ini Brian sama sekali tak menghubunginya. Mendapat keraguan di wajah Aralyne. Teo menambahkan.
"Sudah jelas pria itu tidak menghargaimu. Jadi untuk apa kau menunggu sikap baiknya."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aralyne.
"Kau cantik, kau juga seorang dokter. Kau bisa gunakan pesonamu untuk menggodanya. Seorang dokter akan bertanggung jawab atas perbuatannya." jawab Teo.
Aralyne masih tak mengerti apa yang dimaksud Teo. Ia terus menautkan alisnya karena bingung. Teo mendekati telinga wanita itu, ekspresi terkejut Aralyne terlihat dengan jelas di wajahnya.
"Aku tak menyuruhmu melakukan yang sebenarnya, manfaatkan saja. Aku yakin pria itu akan meminta maaf padamu, saat itulah kau bisa mengajukan syarat untuk makan di rumahmu. Selanjutnya, kau pasti mengerti maksudku." ujar Teo.
Aralyne sangat ragu dengan permintaan Teo. Tapi jika memang berhasil, ia bisa membuat Brian bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia bisa bersama pria yang disukainya.
"Hanya itu saja untuk saat ini, aku harap kau bisa berhasil." ujar Teo seraya meninggalkan ruangan.
Aralyne menutup matanya sejenak. Haruskah ia melakukan hal sejauh ini untuk mendapatkan Brian, tapi melihat pria itu sangat mencintai kekasihnya, tidak ada cara lain lagi untuknya.
"Baiklah akan aku coba, setidaknya aku akan melihat bagaimana reaksi Brian setelah tahu kita tidur bersama." gumam Aralyne.
*****
Brian sudah sampai di rumah sakit, ia memang belum melakukan operasi pertamanya, jadi pekerjaannya hanya menerima konsultasi beberapa pasien VVIP. Setelah itu, ia segera menuju ruangan dokter Aralyne. Sejak kejadian malam itu ia belum menghubungi Aralyne dan meminta maaf padanya. Ia adalah seorang pria, seharusnya ia tidak meninggalkan Aralyne begitu saja.
Brian merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lakukan. Ia sudah sampai di lantai 3, suatu kebetulan Aralyne sudah tidak menangani pasien. Ia menyampaikan niatnya untuk bertemu pada suster, beberapa menit kemudian, suster mempersilahkan Brian masuk.
__ADS_1
"Selamat siang dok." sapa Brian.
Aralyne mendongak. "Selamat siang, duduklah."
"Aku kemari ingin meminta maaf." ujar Brian.
"Lupakan saja, jadi wanita itu kekasihmu?" tanya Aralyne.
Brian mengangguk. "Seharusnya aku memperkenalkannya padamu, tapi aku terlalu marah. Dan dengan perbuatan jahat aku malah meninggalkanmu."
"Tidak apa apa Brian, waktunya tidak pas untuk kita makan bersama." jawab Aralyne.
"Tapi tetap saja, perbuatanku itu tidak dibenarkan. Untuk itu aku minta maaf, dan sebagai gantinya kita bisa makan bersama lagi. Kali ini aku tidak akan meninggalkanmu." kata Brian.
"Benarkah? Heeem... aku setuju. Tapi dengan syarat, kau makanlah di rumahku." ujar Aralyne. Ia akan mengikuti ucapan Teo untuk menjebak Brian.
"Mengapa harus di rumahmu?" tanya Brian.
"Aku ingin kau mencicipi masakanku, tapi aku tak memaksa." jawab Aralyne pura pura sedih.
Brian merasa bersalah jika menolaknya, ia harus menebus kesalahannya dengan mengikuti keinginan Aralyne.
"Baiklah aku setuju, tapi bisakah kau menunggu waktu yang pas. Aku masih banyak urusan. Jika memang sudah ada waktu, aku akan memberimu kabar." kata Brian.
Aralyne tersenyum. "Baiklah, oke... Aku tunggu kabarmu lagi, terima kasih Brian."
"Tentu, bagaimanapun kita teman. Terima kasih kau mau menerima maafku, aku akan kembali sekarang." jawab Brian.
Aralyne hanya mengangguk dan membiarkan Brian meninggalkan ruangannya. Ia berharap, semuanya berjalan dengan lancar.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1