Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Kencan Pertama


__ADS_3

Zean menghubungi Brian, tapi pria itu tak mengangkat ponselnya.


"Apakah aku terlambat?" gumam Zean seraya menatap jam tangannya.


Zean terus mempercepat mobilnya dan saat sampai di rumah Brian, pas sekali mereka akan berangkat.


"Bri..." teriak Zean.


Brian menatapnya. "Mengapa kau kesini?" tanyanya.


"Maaf aku sangat sibuk tak sempat menjawab panggilanmu dan membalas pesanmu, tapi mengapa kau dendam padaku?" tanya Zean.


Brian menautkan kedua alisnya. "Apa maksudmu sayang?" tanyanya.


"Mana ponselmu, aku berkali kali menghubungimu." jawab Zean.


"Ya Tuhan, aku meninggalkannya di kamar. Maaf sayang, sebentar aku ambil." ujar Brian seraya masuk ke rumahnya.


"Pagi jelang siang om, sudah siap berangkat?" sapa Zean pada dokter Jack yang sudah berada di dalam mobil.


"Terima kasih sudah datang Zean, jika kau sibuk, kembalilah bekerja. Om sudah melihat wajahmu." kata dokter Jack.


"Tidak apa-apa om, aku sudah izin." jawab Zean.


"Baiklah, lebih baik kau naik mobil Brian saja. Tinggalkan mobilmu disini." pinta dokter Jack.


"Benar Zee, masuklah." ujar Brian seraya membuka pintu mobil belakangnya. "Sini kunci mobilmu, biar aku parkirkan di dalam." sambungnya.


Zean memberikan kunci mobilnya pada Brian, lalu ia masuk ke mobil Brian. Brian memasukkan mobilnya ke halaman rumahnya lalu mengunci gerbangnya. Mereka akhirnya berangkat menuju bandara.


"Maaf aku tak menerima panggilanmu Zee." ujar Brian.


"Tak apa apa Bri, untung saja aku cepat sampai disini." jawab Zean.


"Jangan kau ulangi lagi mengendarai mobilmu dengan kecepatan tinggi Zee, kau seorang polisi, kau pasti tahu akibat dari kelalaian berkendara." kata Brian terdengar sangat kesal.


"Maaf." kata Zean.


"Brian benar Zean, sangat berbahaya. Apalagi kau masih sangat lelah, bagaimanapun kita baru sampai setelah melakukan perjalanan jauh." sambung dokter Jack.


"Iya maaf om, aku hanya takut tak bertemu om Jack saja." jawab Zean.


"Tak ada alasan yang dibenarkan Zee, aku tak suka kau seperti itu." bentak Brian.


"Apa kau marah pak dokter?" tanya Zean.


Brian bergeming, ia memang sangat marah saat melihat kendaraan melaju kencang ke arahnya dan ternyata itu Zean.


Dokter Jack berdeham, ia mencairkan suasana. "Bagaimana pekerjaanmu Zean?"

__ADS_1


"Sangat sibuk om, tapi aku juga bahagia, anak buahku menyambut kedatanganku dengan antusias. Mereka memenuhi ruangan kerjaku dengan bunga bunga yang sangat cantik." jawab Zean.


"Sepertinya mereka sangat menyukaimu, baguslah. Tempat bekerja memang harus nyaman seperti itu." kata dokter Jack.


Zean mengangguk. "Mami, papi akan kembali lusa. Mereka benar benar tak mau di Amerika."


Dokter Jack tertawa. "Itu sudah tebakanku sejak awal, mereka tak akan mau meninggalkan Tulang Bawang."


"Tapi kak JiJo menyewa 1 perawat dan 2 pelayan untuk mereka. Entah bagaimana mereka mengaturnya." kata Zean.


"Benarkah? Apa mereka setuju?" tanya dokter Jack.


"Mau tidak mau, karena pilihannya tetap di Amerika atau menerima keputusan kak JiJo." jawab Zean sambil tertawa.


"Kalian memang harus seperti itu jika ingin mereka menurut. Kedua orang tua kalian sangat keras kepala." ujar dokter Jack.


"Apa bedanya dengan papa, aku menyuruh papa berhenti bekerja dan tetap tinggal bersamaku. Tapi papa selalu menolak." kata Brian.


"Kau seorang dokter Bri, kapan kau pernah mendengar dokter berhenti bekerja kecuali sakit parah. Kau lihat papa masih sangat sehat." jawab dokter Jack.


"Papa bisa membuka praktek di rumah, disini pa." ujar Brian.


"Jangan bahas papa, jagalah kesehatanmu disini nak, walaupun kau seorang dokter tapi terkadang dokter juga lupa makan karena sibuk. Kau juga Zean, jaga kesehatanmu. Om titip Brian padamu ya." ujar dokter Jack.


"Pasti om." jawab Zean.


Mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta, mereka semua mengantar dokter Jack sampai ke tempat check in. Brian memeluk ayahnya dengan erat.


"Tentu nak, kau tenang saja. Papa memiliki pelayan di rumah." jawab dokter Jack lalu ia memeluk Zean. "Om senang kau bersama Brian, baik baiklah kalian berdua. Jika Brian macam macam, kau bisa telepon om." pesannya.


"Tentu om, jaga juga kesehatan om Jack disana. Sering sering menghubungi kami." ujar Zean.


Dokter Jack mengangguk, sudah waktunya ia berangkat ke Lampung sekarang. Mereka akhirnya berpisah disana. Brian dan Zean kembali ke parkiran, tapi Brian masih juga mendiamkan Zean.


*****


"Bri..." panggil Zean.


Brian menatapnya, ia akhirnya menarik Zean ke pelukannya. "Apa kau tahu betapa aku khawatir padamu Zee, jangan pernah mengendarai mobil seperti itu lagi."


"Maaf sayang, aku janji tak akan lagi." jawab Zean.


Brian melepaskan pelukannya. "Aku akan mengantarmu ke Polda, hubungi aku setelah selesai bekerja, aku akan menjemputmu."


Zean mengangguk lalu menatap jam tangannya. "Masih ada waktu buat makan siang, lebih baik kita mampir ke restoran." ujarnya.


"Tentu sayang." jawab Brian seraya menyalakan mobilnya dan membawanya menuju restoran terdekat.


Keduanya menemukan restoran terdekat. "Menurutmu, apa makanan disini enak?" tanya Brian.

__ADS_1


Zean terkekeh. "Mana aku tahu, kita sama sama baru kesini."


Brian ikut terkekeh. "Semoga saja enak, jika tidak kau boleh menghukumku karena ini kencan pertama kita."


"Dengan senang hati pak dokter." jawab Zean.


Keduanya turun dari mobilnya dan masuk ke restoran. Menu utama restoran ditawarkan pelayan, mereka hanya mengangguk setuju. Beberapa menit kemudian, makanan tersaji begitu banyak di meja.


"Aku tak bisa memakan semua ini pak dokter, kau yang harus menghabiskannya." ujar Zean.


"Jika enak, maka akan habis tanpa sisa. Ayo makan."


Zean mengangguk, keduanya mencicipi makanan itu. Ini adalah tempat pertama kencan mereka di Jakarta, dan sungguh beruntung, makanan yang tersaji semuanya sangat enak. Zean yang awalnya bilang tak bisa menghabiskannya, justru terlihat lebih lahap membuat Brian senang.


"Jika aku berubah menjadi gemuk, itu salahmu pak dokter." ujar Zean.


Brian terkekeh. "Dan aku suka melihat polisi gemuk, lebih tepatnya terlihat lebih seksi."


"Dan hukumanku akan berlari 100 kali keliling lapangan Polda."


"Siapa yang berani menghukum kekasihku?" tanya Brian.


"Aku sendiri, aku tak mau membuat baju seragamku sempit." jawab Zean.


Brian tertawa. "Kau ini, makan banyak sekali sekali tak mungkin membuatmu gemuk sayang."


"Dan kau beruntung sayang, kekasihmu ini tak pernah gemuk walaupun makan banyak setiap hari." kata Zean.


"Benarkah? Aku sangat beruntung sekali." jawab Brian.


"Aku banyak berolahraga yang bisa membakar lemak dalam tubuh, aku sudah selesai, kita kembali sekarang." ujar Zean.


"Tentu sayang." jawab Brian seraya memanggil pelayan dan membayar tagihannya.


"Seharusnya aku yang membayarnya, aku kan yang sudah bekerja." ujar Zean.


"Tak ada dalam kamusku, makan ditraktir wanita apalagi itu kekasihku sendiri." jawab Brian.


"Awas saja kalau kau makan dengan wanita lain." ancam Zean.


Brian kembali tertawa. "Tak akan sayang, aku melakukan itu sebelum memilikimu. Aku janji itu bu pol."


"Aku pegang janji seorang dokter." ujar Zean.


"Dan tempat ini akan menjadi tempat favorit kita, karena menjadi saksi kencan pertama kita." ujar Brian.


"Kau benar, untung saja tidak mengecewakan." jawab Zean seraya tertawa diikuti tawa Brian.


Keduanya keluar dari restoran lalu segera menuju Polda untuk mengantarkan Zean kembali bekerja.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘


__ADS_2