
Sepanjang perjalanan menuju rumah Sin, dokter Jack tak henti hentinya menasehati putranya soal teman wanitanya tadi.
"Oh ayolah pa, wanita itu hanya teman kuliahku di Inggris. Dan secara kebetulan ia bekerja di rumah sakit yang sama denganku." ujar Brian.
"Papa tetap tidak suka, papa hanya ingin Zean yang menjadi menantu papa." kata dokter Jack.
Brian tertawa. "Bagaimana jika Zean menolakku?" tanyanya.
"Terus yakinkan wanita itu sampai mau denganmu." jawab dokter Jack.
"Papa ada ada saja, aku akan berhati hati soal wanita pa, aku akan meminta persetujuan papa soal itu." kata Brian.
"Papa tak mau kau meminta persetujuan soal wanita lain selain Zean." ujar dokter Jack keras kepala.
"Baiklah, menantu papa hanya Zean. Apa papa senang sekarang?" tanya Brian.
Dokter Jack tersenyum senang. "Jangan pernah sakiti Zean, gadis itu sempurna Brian. Berhati hatilah pada wanita tadi, papa punya firasat aneh tentangnya."
"Papa mulai berlebihan, wanita tadi seorang dokter anak. Mana mungkin ia akan melakukan hal aneh. Jangan perpanjangan lagi, papa sudah tahu bagaimana perasaanku. Kita sudah sampai." ujar Brian.
Keduanya memang sudah sampai di rumah besar Sin, mereka turun dari taksi menuju pintu masuk. Ternyata Zean sudah menunggu mereka disana.
"Kalian lama sekali, padahal mami dan papi menunggu kalian untuk sarapan bersama." ujar Zean.
"Maaf Zee, kami sudah sarapan di restoran hotel." jawab Brian.
"Om, masuklah. Mereka ada di ruang santai." pinta Zean.
"Tentu cantik." jawab dokter Jack seraya masuk.
Zean ikut berbalik mengikuti dokter Jack masuk, tapi tangannya ditahan oleh Brian.
"Kenapa?" tanya Zean.
"Aku merindukanmu." jawab Brian.
"Hentikan, ini di rumah." kata Zean.
"Aku ingin mengatakannya sekarang, mau sampai kapan kita merahasiakannya Zee." ujar Brian.
"Ini bukan waktu yang tepat Bri, oh ayolah bersabar." pinta Zean.
"Bukankah bagus mengatakannya sekarang, keluargamu tak perlu khawatir tentangmu di Jakarta." kata Brian lagi.
Zean menundukkan kepalanya. Ia belum siap menikah sekarang, karena ia yakin keluarganya akan segera menikahkannya dengan Brian jika mereka tahu soal hubungannya. Brian memperhatikan raut wajah Zean, dan terlihat sangat jelas rasa cemas pada wajahnya.
"Maafkan aku Zee, aku bisa menunggu. Ayo kita masuk." ajak Brian seraya menarik tangannya. Brian segera melepaskan tangannya setelah sampai di ruang santai.
"Ini dia dokter tampan kita." ujar Tora.
"Selamat pagi om, tante dan semuanya." sapa Brian.
"Selamat pagi..." jawab mereka bersamaan.
"Duduklah pak dokter, kalian masih punya waktu setengah jam lagi." ujar Sherly.
__ADS_1
Mereka duduk bersantai sebelum berangkat ke bandara, Sherly dan Tora tak henti hentinya meminta Brian menjaga putri mereka.
"Kemungkinan kami akan kembali 2 minggu lagi." ujar Tora.
"Om tenang saja, aku pasti akan menjaga Zean di Jakarta." jawab Brian.
"Oh ayolah pi, mi, aku bukan anak kecil lagi. Bahkan aku seorang polisi, bukan hanya Brian yang menjagaku tapi masih banyak anggota yang lain." kata Zean.
"Tetap saja Zean, hanya Brian yang bisa kami percaya." kata Sherly.
"Pak dokter ini bukan pengangguran, ia juga akan sibuk di rumah sakit. Bagaimana bisa menjagaku." ujar Zean.
"Tentu aku bisa, jangan harap kau bisa lepas dari pengawasanku." ujar Brian.
Semuanya tertawa, mereka tahu Brian akan melakukan itu. Brian adalah orang yang paling dekat dengan Zean. Mereka berharap Brian mau menjadi suami Zean kelak.
"Jangan menatapku seperti itu. Kalian seperti ingin memakanku saja." ujar Zean saat mereka terus menatapnya. Tapi berbeda dengan Ae-Ri, wanita itu jelas sudah tidak khawatir lagi karena ia sudah tahu tentang mereka. "Aku akan mengambil barang barangku sekarang." sambung Zean seraya meninggalkan mereka.
"Mengapa kalian belum bersiap siap ke pesta?" tanya Brian.
"Acaranya dimulai pukul 1 siang, kami masih bisa mengantar kalian ke bandara." kata Jidan.
"Tidak perlu, kalian pengantin tak boleh kemanapun." ujar dokter Jack.
"Benar Ji, kalian tak perlu mengantar ke bandara. Biar mami dan papi saja." ujar Sherly.
"Tapi..."
"Kak Jo, kalian lebih baik beristirahat saja. Acara kalian masih banyak. Aku pasti menjaga Zean selama perjalanan." potong Brian.
"Itu sudah pasti, Zean akan aman bersama kami." jawab dokter Jack.
"Bukan hanya Zean, kalian juga selalu berhati-hati." ujar Tora.
"Tentu saja pak komandan, aku harap kau dan istrimu tetap tinggal disini. Di Indonesia kalian jauh dari anak-anak." ujar dokter Jack.
Seketika keduanya menggeleng.
"Om tenang saja, kami akan membujuk mereka." kata Jidan.
"Tak perlu Ji, jawabannya tetap tidak." jawab Sherly.
"Bagaimana jika kami memiliki anak dan tak bisa mengurusnya?" tanya Jordan.
Sherly tertawa. "Maka serahkan cucu cucu kami."
"Oh tidak, aku bisa mengurus anakku nanti." kata Aerum panik.
Semuanya tertawa mendengar Aerum. "Kau ini, aku hanya mencoba membujuk mereka untuk tinggal disini. Mana mungkin kita mengirimkan anak kita pada mereka yang semakin tua. Itu akan menambah beban bagi mereka." ujar Jordan.
"Siapa bilang kami tua, kami lebih baik dari kalian." kata Tora.
Canda tawa mereka kembali terdengar sampai akhirnya Zean kembali.
"Sudah saatnya, kami takut terlambat." ujar Zean.
__ADS_1
Semuanya menatap jam dinding. "Oh ya Tuhan, kapan lagi aku akan bertemu adik nakalku ini." ujar Jidan seraya merentangkan tangannya.
Zean menghambur ke pelukannya. "Kalianlah yang harus kembali ke Indonesia, ajak eonni mengunjungi negara kita."
"Tentu sayang, kami pasti akan ke Indonesia." jawab Jidan.
Zean memeluk Ae-Ri. "Eonni jaga kak Ji baik baik, jika ia nakal katakan padaku, aku akan mengacungkan senjataku padanya." candanya.
Ae-Ri tertawa. "Pasti aku akan mengatakannya padamu." jawabnya. "Kau juga jaga hubungan kalian." bisiknya membuat wajah Zean merona.
Zean berpindah ke pelukan Jordan. "Jangan terlalu keras kepala, kau bukan lagi pria lajang. Jaga eonni Aerum, aku akan menghukummu jika sampai membuatnya menangis."
"Kau mulai mengajariku Zean, jaga dirimu baik-baik disana." jawab Jordan.
Zean mengangguk lalu memeluk Aerum. "Eonni yang cantik, aku pasti merindukanmu disana. Segera ajak kak Jo ke Indonesia." ujarnya.
"Pasti sayang, kau juga cepatlah cari pria yang baik untuk menjagamu. Dan aku harap dokter Brian orangnya." goda Aerum.
Zean terkekeh. "Ya ampun, aku pasti akan merindukan kalian semua."
"Sudah waktunya Zee, kita akan terlambat." ujar Brian.
Zean mengangguk, mereka semua mengantarkan Zean, dokter Jack dan Brian keluar. Tora yang mengendarai mobilnya, ia dan Sherly yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Mereka akhirnya berangkat, terlihat Ae-Ri dan Aerum menangis dari kejauhan.
"Aku senang sekali memiliki eonni yang cantik cantik itu. Mereka sangat mencintai kak JiJo." ujar Zean.
"Kau benar sayang, mereka saling mencintai. Mereka juga sangat menyayangimu." kata Sherly.
"Siapapun akan menyayangiku mi." jawab Zean bangga.
"Kau percaya diri sekali." ujar Brian.
"Apa kau tidak menyayangiku pak dokter." goda Zean.
Brian menggeleng membuat yang lain tertawa. Zean langsung memberengut, wajahnya terus ditekuk sampai mereka di bandara. Pelukan perpisahan membuat Sherly menangis.
"Jangan menangis, jaga kesehatan kalian disini." ujar Zean.
"Kami akan mengunjungimu saat pulang nanti." kata Sherly.
"Tetaplah disini bersama kak JiJo. Aku lebih tenang jika kalian..."
"Tidak..." jawab keduanya.
Zean tertawa, memang akan sulit membuat orang tuanya meninggalkan tulang bawang Lampung.
"Baiklah kami pamit sobat." ujar dokter Jack.
"Kabari kami setelah sampai Indonesia. Brian, om titip Zean padamu." ujar Tora.
"Pasti om, kalian berhati hatilah kembali ke rumah." jawab Brian.
Keduanya mengangguk, dengan berat hati Zean meninggalkan mereka menuju tempat check in bandara. Lambaian tangan sebagai ucapan perpisahan mereka.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘