Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Ciuman Tak Terduga


__ADS_3

Brian keluar dari gedung apartemen itu dengan sangat kecewa, ia marah sekaligus lega karena tidak masuk dalam permainan Aralyne. Saat sudah sampai di pintu masuk apartemen, Brian terkejut melihat Zean berdiri menunggunya disana tapi wanita itu memunggunginya, walaupun demikian Brian masih tetap mengenalinya. Ia mempercepat jalannya lalu segera memeluk Zean.


"Maaf, maafkan aku Zee." ujar Brian.


Zean terkejut namun lega karena ternyata yang memeluknya adalah Brian. "Kau baik baik saja kan? Apa yang terjadi?" tanya Zean seraya membalikkan tubuhnya.


Brian menatap kekasihnya. "Seharusnya aku percaya firasatmu sejak awal sayang, tapi aku menolak untuk percaya karena aku pikir wanita itu adalah teman yang baik."


"Apa yang terjadi Bri, katakan?" tanya Zean kebingungan.


"Bagaimana kau bisa ada disini? Bukankah kau bilang masih banyak pekerjaan." tanya Brian balik.


"Aku tak bisa tenang, jadi aku menunggumu disini. Hatiku merasa ada yang salah, jadi selalu memaksa untuk datang kemari. Apa yang terjadi Bri, jangan membuatku penasaran?" tanya Zean lagi.


Brian menarik tangannya menuju parkiran. Keduanya masuk ke dalam mobil. Zean terus memperhatikan kekasihnya, ia menunggu Brian sampai tenang.


Brian menghela nafasnya. "Aku hampir terjebak dalam permainan wanita itu Zee. Untunglah aku sadar disaat-saat terakhir, entah tujuannya seperti apa. Tapi minumanku ia campur dengan obat penenang."


Zean terbelalak. "Bagaimana kau bisa lolos dari semua itu?"


"Kekasihmu ini sangat cerdas." jawab Brian sambil tertawa.


"Tidak lucu." ujar Zean kesal. "Aku akan menghajar wanita itu." sambungnya seraya ingin keluar dari mobil.


Brian menarik Zean lagi kedalam pelukannya. "Tenang sayang, aku menukar minumanku dengan miliknya, aku melakukan itu karena ia terus menerus menyuruhku minum. Aku tahu ada yang salah walaupun sampai akhir aku berharap tidak benar. Dan kau tak perlu menghajarnya, ia sudah tidak sadarkan diri sekarang. Aku meninggalkannya begitu saja."


Zean melepaskan pelukan Brian, alih alih marah ia justru tertawa terbahak-bahak membuat Brian terkejut mendengarnya. Brian menarik hidungnya dengan keras agar wanita itu berhenti. Setelah Zean mampu menghentikan tawanya, wanita itu menatapnya.


"Aku membayangkan bagaimana wanita itu pingsan di depanmu. Padahal seharusnya kau lah yang tak sadarkan diri." ujar Zean.


"Ingin sekali aku membiarkannya jatuh ke lantai dan membuat kepalanya sendiri terbentur dengan keras." kata Brian.


Zean kembali tertawa, ia menahan perutnya yang geli karena cerita itu. "Kau jahat pak dokter."


"Kau tak mungkin tertawa seperti ini, jika kejadiannya sebaliknya Zee."


"Untunglah, kekasihku memang cerdas. Ya Tuhan, terima kasih Kau telah melindungi kekasihku." jawab Zean. "Lalu bagaimana selanjutnya?"


Brian menggeleng. "Aku tak tahu, ingin sekali aku melaporkannya pada polisi."


"Kau sudah melakukannya sayang, kau lupa jika aku seorang polisi, aku akan memprosesnya." jawab Zean.

__ADS_1


"Tidak perlu sayang, sudah cukup sampai disini, aku akan menghukumnya dengan melepaskannya sebagai temanku." kata Brian.


"Benarkah? Kau akan menyesal melupakan wanita cantik itu." goda Zean.


Brian menghidupkan starter mobilnya, ia ingin segera sampai di rumahnya untuk melupakan kejadian gila tersebut. Ia juga tak ingin menanggapi godaan kekasihnya itu.


"Aku bawa mobil sendiri pak dokter." ujar Zean.


"Aku tak perduli, aku membutuhkanmu saat ini. Aku akan menghubungi orang yang akan mengambil mobilmu." jawab Brian seraya keluar dari kawasan apartemen itu.


Zean tak menolaknya, karena ia tahu kekasihnya memang membutuhkannya saat ini. Keduanya menuju rumah Brian, walaupun malam semakin larut tetapi Zean bersedia berada di rumah kekasihnya malam ini.


*****


Tengah malam Aralyne terbangun dengan kepala yang berdenyut, ia baru sadar jika ia tertidur di sofa. Dengan memegang kepalanya, ia memaksakan diri untuk duduk.


"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya sendiri.


Kesadarannya berangsur angsur pulih, matanya terbelalak lebar saat mengingat semuanya.


"Bukankah aku sedang makan malam dengan Brian, lalu aku... Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan." ujarnya berteriak.


Aralyne memaksakan dirinya bangun untuk mencari ponselnya, dengan tangan yang gemetar ia menghubungi Brian. Ia tak perduli itu sudah tengah malam, ia harus menjelaskan semuanya. Tapi sudah puluhan kali Aralyne menghubungi pria itu, tak ada jawaban sama sekali.


"Hai nona cantik, aku yakin kau berhasil melakukan tugasmu dengan baik. Sejak tadi aku menunggu teleponmu, kau bahkan belum mengirimkan foto kalian saat tidur bersama." ujar Teo.


Aralyne menangis, ia tak tahu harus berkata apa pada pria itu. Suara tangisannya terdengar oleh Teo membuat pria itu terkejut.


"Ada apa? Apa kau gagal?" tanya Teo.


"Lebih dari gagal, bahkan aku mempermalukan diriku sendiri. Ini semua karena ide gilamu Teo, apa yang harus aku lakukan sekarang." ujar Aralyne sambil terisak.


"Apa maksudmu, mengapa kau menyalahkan aku? Kaulah yang bodoh, aku pikir kau seorang dokter yang cerdas, tapi ternyata kau bodoh." bentak Teo.


"Jika saja aku tak mengikuti ide gilamu, mungkin aku tak akan seperti ini. Brian menyadari rencanaku, ia sepertinya menukar minumannya dan aku berakhir seperti ini. Aku tak memiliki wajah lagi untuk bertemu dengan Brian, apa yang harus aku lakukan?" kembali Aralyne menangis dengan keras.


"Tenangkan dirimu Aralyne, kau akan baik baik saja." ujar Teo menenangkan.


"Itu tidak mungkin, aku tidak akan baik. Aku lebih baik mati saja."


"Jangan lakukan hal yang bodoh, kirimkan alamat apartemenmu. Kita harus bicara langsung, tenanglah..."

__ADS_1


"Ini semua karenamu, aku akan kehilangan semuanya. Aku tak bisa..."


"Dengarkan aku Aralyne, kau akan baik baik saja. Aku akan membantumu, jangan lakukan hal bodoh. Aku kesana sekarang, tolong kirimkan alamatmu." potong Teo seraya menutup ponselnya.


Teo segera menuju apartemen Aralyne, wanita itu akhirnya mengirimkan alamatnya. Sedangkan Aralyne harap harap cemas menanti kedatangan Teo.q


Beberapa jam kemudian...


Suara ketukan pintu apartemen terdengar, dengan lemah Aralyne membuka pintu itu. Disanalah Teo berdiri dengan wajah yang penuh tanya. Aralyne mencium bau alkohol pada tubuh pria itu.


"Bagaimana seorang polisi bisa mabuk dan mengendarai mobil kemari?" tanya Aralyne.


"Aku belum mabuk, lihatlah matamu yang bengkak itu." jawab Teo seraya masuk tanpa disuruh oleh pemiliknya.


Pria itu duduk di sofa dengan wajah sombongnya.


"Jadi kau lebih dari bodoh, kau malah menjebak dirimu sendiri." ejek Teo.


Aralyne mengangkat tangannya ke pinggang. "Jangan menghinaku, kau lah yang memiliki ide gila ini." teriaknya marah.


"Tenangkan dirimu Aralyne, kita bisa mencari solusi atas masalah ini."


"Solusi apa? Aku mempermalukan diriku sendiri, bagaimana aku harus menghadapi Brian. Pria itu temanku, setelah kejadian ini aku yakin ia bahkan tak ingin melihat bayanganku." bentak Aralyne.


Teo tertawa. "Kau berlebihan, mungkin saja pria itu belum menyadari soal obat itu."


"Kau yang bodoh, Brian adalah seorang dokter. Ia menukar minumannya karena menyadarinya sejak awal. Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?"


Aralyne kembali mengeluarkan air matanya membuat Teo kebingungan. Ia tak bisa melihat wanita menangis di depannya. Teo menarik Aralyne untuk duduk di sampingnya.


"Aku minta maaf jika membuatmu sedih, tapi jangan menangis Aralyne. Aku tak suka melihat air mata wanita." ujar Teo kembali menenangkan. "Aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini, kau tenanglah." sambungnya.


Aralyne menatap wajah Teo, begitu juga dengan Teo. Keduanya saling bertatapan.


"Aku tak tahu harus bagaimana sekarang." ujar Aralyne.


Tapi Teo justru menatap bibir cantik Aralyne saat berbicara, alkohol yang ia minum mulai mempengaruhi kesadarannya. Teo menarik kepala Aralyne dan mencium wanita itu. Aralyne terkejut, ia menolak pria itu dengan keras. Tapi penolakannya justru membuat Teo semakin menggila, pria itu terus menciumnya sampai akhirnya Aralyne menyerah dan justru membalas ciuman pria itu.


Setelah kesadaran Aralyne kembali, wanita itu seketika mendorong tubuh Teo, tamparan keras mendarat pada pipi Teo. Wanita itu berlari ke kamarnya, dan menguncinya tanpa memperdulikan Teo lagi yang masih ada di apartemennya.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2