
Satu bulan kemudian, setelah Inspektur Teo melaksanakan hukumannya, ia dan Aralyne melangsungkan pernikahan yang mengejutkan banyak pihak. Teo dan Aralyne tak pernah terlihat bersama selama ini, dan pandangan mereka Teo masih mengejar Zean.
Pernikahan itu dilaksanakan secara tertutup hanya dihadiri orang paling dekat mereka, dan hanya beberapa atasan Teo yang datang. Keduanya sepakat melakukan pernikahan sakral tanpa melakukan resepsi. Awalnya kedua orang tua Teo maupun Aralyne tidak setuju dengan rencana mereka, tapi setelah mengetahui alasannya, akhirnya keluarga mereka menyetujui pernikahan tertutup itu.
Alasan utama keduanya tak melakukan acara resepsi karena takut Aralyne kelelahan disaat ia sedang hamil muda, dokter cantik itu sedang mengandung setelah mereka melewati batas berpacaran sebulan yang lalu.
Namun kebahagiaan keduanya tetap terlihat saat melangsungkan acara sakral tersebut, Teo semakin over protective terhadap Aralyne. Pria itu bahkan tak mengizinkan istrinya untuk berdiri lebih lama setelah acara pernikahan selesai.
"Aku bukan sakit parah, tapi aku hanya hamil." bisik Aralyne saat suaminya lebih bawel dari biasanya.
"Karena itu aku harus lebih waspada sayang, kau tetaplah duduk manis, biar aku yang menemui keluarga dan atasanku." jawab Teo.
"Aku seorang dokter, aku tahu mana yang akan membahayakan kandunganku dan mana yang tidak."
"Menurutlah istriku, aku tak ingin terjadi sesuatu pada anak kita." pinta Teo.
"Tapi ini sangat memalukan suamiku, kau seperti sedang mengumumkan kehamilanku." ujar Aralyne kesal.
Teo terkekeh. "Tentu saja aku sedang mengumumkannya. Kau pikir kebahagiaan kita adalah kabar buruk untuk mereka."
"Tapi aku hamil diluar..."
Teo mengecup bibirnya sekilas untuk memotong ucapan istrinya. "Apa yang salah dengan itu sayang, bukankah kita sedang mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dan anak kita adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan. Jadi jangan pernah merasa malu karena kehadirannya." kata Teo seraya mengelus perut Aralyne yang masih rata.
"Tetaplah disini, aku akan menemui para tamu." sambungnya lalu meninggalkan istrinya.
Aralyne hanya bisa menuruti permintaan suaminya yang tidak masuk akal itu. Dan beberapa menit kemudian rombongan para dokter yang diundang Aralyne datang termasuk Brian. Seketika Aralyne berdiri dan menghampiri tamunya.
Teo pun akhirnya melihat kehadiran mereka, dengan cepat ia menghampiri istrinya sebelum sampai di hadapan tamu.
"Kau mau kemana?" tanya Teo.
"Jangan mulai berdebat, mereka tamuku. Aku akan baik baik saja." jawab Aralyne.
"Apa kau merindukan dokter Brian?" tanya Teo kesal.
Aralyne menatapnya tajam. "Apakah pernikahan ini belum cukup untuk membuktikan perasaanku? Kau jangan konyol inspektur, lihatlah mereka mulai menatap kita."
Teo mengikuti tatapan istrinya, ia akhirnya menggandeng tangan Aralyne untuk menemui mereka. Setelah saling menyapa, Teo mengucapkan terima kasih kepada Brian karena mau menghadiri pernikahannya setelah apa yang pernah ia lakukan padanya.
"Dimana kekasihmu?" tanya Aralyne pada Brian.
"Maaf Aralyne, ia tak bisa hadir karena pekerjaan. Selamat atas pernikahan kalian, aku juga tak bisa lama lama karena ada operasi sore ini." jawab Brian.
Aralyne mengangguk. "Aku mengerti, kau sudah mau hadir saja, aku sangat senang."
__ADS_1
"Aku sudah bilang padamu untuk memulai lagi dari awal pertemanan kita, tentu saja aku menghargai undangmu." kata Brian.
"Sepertinya Zean masih sulit memaafkanku." ucap Teo.
Brian tersenyum. "Anda pasti tahu pekerjaan bawahan anda pak inspektur. Itu bukan hanya alasan tapi ia benar benar sedang sibuk."
Brian kembali menatap Aralyne, ia sebenarnya masih enggan berhadapan dengan Teo. "Baiklah Aralyne, mungkin yang lain bisa lama disini, tapi aku harus kembali ke rumah sakit." ujarnya seraya mengulurkan tangannya. "Sekali lagi selamat atas pernikahanmu, aku pamit sekarang." sambungnya.
"Tapi setidaknya kau harus makan dulu." pinta Aralyne.
"Maafkan aku, operasi sore ini di mulai pukul 3. Jika aku makan, maka akan terlambat. Setidaknya aku sudah hadir dan menemuimu." jawab Brian.
Aralyne menghela nafasnya. "Baiklah, terima kasih."
"Terima kasih dokter Brian." sahut Teo.
Brian hanya menganggukkan kepalanya, ia berpamitan dengan yang lain dan meninggalkan acara pernikahan itu.
*****
Brian masuk ke mobilnya. "Mengapa kau berubah pikiran sayang?" tanyanya.
Ternyata Zean sebenarnya ikut dengan Brian, hanya saja tiba tiba kekasihnya mengurungkan niatnya untuk menemui Teo dan Aralyne. Itulah mengapa Brian mencari alasan untuk segera keluar.
Brian menghidupkan mobilnya, lalu membawa Zean keluar dari gedung pernikahan. "Aku tak ingin kau menungguku lebih lama sayang."
"Maaf sayang, entah mengapa aku tak ingin bertemu Teo walaupun aku sudah melupakannya. Jika saja bukan karena pekerjaan, mungkin aku juga enggan berhadapan langsung dengannya." jawab Zean.
Brian tersenyum. "Aku mengerti, tapi bukan karena cemburu pada Aralyne kan?" godanya.
"Ciiiih, terlalu percaya diri. Ia istri orang, bagaimana aku bisa cemburu."
"Akulah yang cemburu jika kau menemui Teo." kata Brian.
Zean tertawa. "Jika aku menginginkan pria itu, untuk apa aku menolak lamarannya sayang."
"Dari pihakmu, bagaimana dari pihaknya. Mungkin saja ia tak akan berhenti menatapmu yang sangat cantik dengan gaun pesta ini. Aku bersyukur kau tak jadi turun."
Zean tertawa lagi. "Aku tahu yang kau pikirkan. Aku cantik untukmu sayang."
"Jangan menggodaku, kau tahu pikiranku sedang mesum sekarang. Aku ingin membawamu ke kamarku." goda Brian.
"Tidak akan sampai 5 bulan mendatang." jawab Zean.
"Ya Tuhan lama sekali acara pernikahan kita sayang. Saat aku melamarmu di Lampung, aku ingin menikahimu satu minggu setelahnya. Tapi saat melakukan video call bersama kakak kakakmu disana, aku harus bersabar sampai usia kandungan istri mereka 7 bulan."
__ADS_1
"Usia kandungan 7 bulan sangat aman untuk melakukan perjalanan jauh, bukankah kau ingin aku bahagia dengan kehadiran mereka." ujar Zean.
"Tentu saja sayang, aku sudah berjanji akan menunggu walaupun sampai mereka melahirkan. Aku hanya bercanda tadi." jawab Brian.
"Lalu mau kemana kita sekarang?" tanya Zean.
"Makan." jawab Brian. "Aku belum makan karenamu." sambungnya.
Zean terkekeh. "Bukan salahku, tapi kau sendiri. Aku baik baik saja di dalam mobil walaupun harus menunggu satu jam. Lalu apa yang kau katakan pada mempelai?"
"Ada operasi sore ini."
Zean melepaskan tawanya, ia tak bisa menahannya lagi karena kelucuan kekasihnya. Brian menepikan mobilnya di tempat yang sepi lalu menarik Zean dan menciumnya. Zean seketika terdiam dan terkejut.
"Itu hukuman buatmu karena terlalu cantik saat tertawa." ujar Brian setelah melepaskan kekasihnya.
Wajah Zean memerah. "Kita melakukan di tempat umum sayang, itu melanggar hukum."
"Aku tak tahan lagi. Jangan pernah melepas tawamu di depan pria lain, jika kau melakukannya aku akan membunuh pria itu." ancam Brian.
"Aku mencintaimu." ujar Zean.
Brian menatap kekasihnya penuh kasih. "Tentu saja aku juga sangat mencintaimu Zee. Aku mencintaimu sampai tak ingin orang lain menatapmu."
"Biarkan mereka menatapku, tapi tatapanku hanya tertuju padamu."
"Kau berjanji akan hal itu?" tanya Brian.
Zean menganggukkan kepalanya. "Aku berjanji."
Brian memeluknya dengan erat. "Aku akan membuatmu bahagia sampai menutup mata."
"Jangan bicarakan kematian sayang, aku ingin hidup denganmu sampai berabad abad."
Brian terkekeh. "Kehidupan abadi hanya di surga, kita akan bersama selamanya."
"Terima kasih sayang, kau sudah menjagaku sejak aku kecil."
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai penjagamu dan hatimu." jawab Brian.
Keduanya melepaskan pelukannya, lalu melanjutkan perjalanan menuju restoran terdekat.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1