Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Godaan Brian


__ADS_3

Setelah Brian menyelesaikan makannya, ia segera menghubungi dokter Mei untuk membawa keluarga pasien masuk ke ruangannya. Tak berapa lama, seorang pria bertubuh tegap menemuinya. Ia adalah adik dari pasien ginjal yang baru saja ia operasi.


Pria itu hanya mengucapkan terima kasih atas keberhasilan operasi yang dilakukan Brian, ia tak menuntut Brian untuk segera menyembuhkan pasien, tidak seperti putrinya.


"Apa kalian akan tetap ke luar negeri walaupun pasien belum sembuh total?" tanya Brian.


Pria itu menggeleng. "Aku sudah memberi nasehat pada keponakanku yang keras kepala itu, aku bahkan mengusirnya untuk pergi sendiri jika memaksa." jawab Robi.


"Aku sudah melakukan bagianku, tinggal Tuhan yang akan membantu setelahnya. Aku hanya ingin kalian terus berdoa agar pasien segera pulih. Sebenarnya aku masih tidak setuju, walaupun pasien sembuh nanti, melakukan perjalanan jauh akan membuat keadaannya kembali memburuk." ujar Brian.


"Ini semua perbuatan keponakanku dok, ia sedang hamil sekarang. Ia ingin segera menikah karena takut mempermalukan keluarga, walaupun sebenarnya memang sudah mencoreng nama baik kami." kata Robi kesal.


"Aku tak ingin tahu urusan pribadi keluarga anda pak Robi, kita tinggal menunggu saja. Pengobatan dan obat-obatan terbaik yang akan kami berikan pada pasien." ujar Brian lagi.


"Terima kasih banyak sekali lagi pak dokter, maaf mengganggu waktu anda. Aku sangat mengandalkan anda dalam menangani kakak kami." ujar Robi seraya berpamitan.


Brian hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu ia kembali memanggil dokter Mei.


"Ada apa dok?" tanya dokter Mei.


"Apakah masih ada tugas buatku?" tanya Brian.


Dokter Mei menggeleng. "Jika anda ingin pulang lebih awal silahkan dok, pasien anda akan ditangani oleh dokter Dori yang bertugas malam ini."


"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Hari ini sangat melelahkan buatku, tentu buatmu juga. Jika sudah tidak ada pekerjaan, kau juga boleh pulang." ujar Brian.


"Tugasku sampai jam 9 malam dok, selamat beristirahat dan hati hati di jalan." jawab dokter Mei.


Brian mengangguk, ia bersiap siap untuk pulang ke rumah. Ia kembali menatap ponselnya, kekasihnya belum juga membalas pesannya. Ia sedikit kesal, walaupun ia tahu Zean pasti sedang sibuk sampai tak mengecek ponselnya.


*****


Perjalanan pulang kembali membuatnya lelah, bagaimana tidak, sudah lebih dari satu jam ia terjebak kemacetan jalan ibukota Jakarta.


Brian terus saja mengumpat, ia tak sabar ingin sekali merebahkan tubuhnya di ranjang besarnya. Ia ingin sekali makan malam bersama Zean untuk merayakan keberhasilan operasi pertamanya, tapi sepertinya itu tidak mungkin.


Setelah dua jam, Brian akhirnya sampai juga di rumahnya. Ia kembali dikejutkan dengan keberadaan Zean di depan rumahnya. Lagi lagi wanita itu, memberi kejutan yang luar biasa.


Zean memegang dua kantong plastik di tangan kanan dan kirinya, ia tersenyum saat melihat kedatangan Brian disana.

__ADS_1


Brian turun dari mobilnya, ia merindukan kekasihnya. Ia berlari ke arah Zean dan memeluk wanita itu.


"Ya Tuhan, lagi lagi kau datang tanpa memberitahuku." ujar Brian.


"Tentu saja ini kejutan buatmu, selamat atas operasimu Bri." jawab Zean.


Brian melepaskan pelukannya. "Sejak kapan kau berdiri disini? Mengapa tidak masuk, bukankah ada bu Juma?"


"Setengah jam yang lalu, aku sengaja menunggumu disini. Aku ingin menyambut kekasihku pulang, maaf karena aku sengaja tidak membalas pesanmu." jawab Zean lagi.


"Kau jahat sekali sayang, aku sangat kesal karena kau mengabaikan pesanku." ujar Brian seraya menarik hidungnya.


Zean tertawa, ia mengangkat kantong plastik di tangannya. "Aku akan memasak buatmu, kita rayakan keberhasilanmu malam ini."


Brian tersenyum, ia membawa Zean masuk ke rumah. "Duduklah sebentar, aku mau mengurus mobilku dulu. Eit, dimana mobilmu Zee?" tanya Brian baru tersadar.


"Aku sengaja naik taksi kemari, aku ingin kau mengantarku pulang." jawab Zean.


"Baiklah nona cantik, apapun yang kau inginkan." ujar Brian seraya keluar lagi dari rumahnya untuk memasukkan mobilnya.


Beberapa menit kemudian, Brian kembali lagi menemui Zean. Ternyata wanita itu sudah mulai berkutat di dapur bersama bu Juma.


"Aku yang ingin memasak buatmu, sudah sana mandi dulu. Jangan ganggu kami disini." usir Zean.


Brian menghela nafasnya, ia tersenyum lalu meninggalkan Zean di dapur.


"Non, biar bu Juma saja yang memasak. Benar kata den Brian, non Zean pasti lelah." ujar bu Juma.


"Tidak apa apa bu, aku ingin memasak buat Brian. Ini hadiah buatnya karena melakukan pekerjaan dengan baik." jawab Zean. "Bu Juma bantu aku memotong saja, aku bisa memasak kok." sambungnya.


"Baiklah, tapi jika non lelah, tinggalkan saja ya non." pinta bu Juma.


"Siap bu."


Keduanya saling membantu menyiapkan makan malam spesial buat Brian, setelah siap Zean menuju kamar Brian karena kekasihnya tak kunjung keluar kamar. Zean mengetuk pintu kamar berkali kali, tapi tak ada jawaban.


Zean memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu. "Bri, kau dimana? Kau baik baik saja kan?"


Tak juga ada jawaban, Zean masuk ke kamar itu dan menemukan pemandangan yang begitu indah di atas ranjang. Pria tampan itu sepertinya ketiduran, ia terlihat sangat lelah. Zean mendekatinya, ia memandang wajah itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kau pasti sangat lelah karena melakukan operasi selama berjam jam, tapi kau juga butuh makan sayang." bisik Zean.


Brian bergerak dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas membuat Zean terkekeh geli.


"Baiklah, aku akan membiarkanmu tidur setengah jam lagi." ujar Zean.


Wanita itu berbalik tapi tangan Brian menahannya. Pria itu menariknya hingga Zean jatuh diatas tubuhnya. Brian memeluknya dengan erat.


"Aku mendengarmu terkekeh, jadi ini hukuman buatmu." gumam Brian.


"Bri, ada bu Juma di luar." ujar Zean.


"Aku tak perduli sayang, peluk aku sebentar saja." pinta Brian.


"Kau sudah sering memelukku pak dokter."


"Kalau begitu bagaimana dengan ini." ujar Brian seraya membalikkan tubuh Zean.


Kini Zean berada dibawah tubuh Brian, pria itu langsung menciumnya. Brian terus melakukan itu sampai Zean hampir kehabisan nafas. Suara lenguhan terdengar dari mulut wanita itu, membuat Brian semakin berani menciumnya.


"Ingin sekali aku melewati batas itu, tapi aku sudah berjanji tidak akan melakukannya." bisik Brian.


Wajah Zean memerah karena malu, ia juga ingin sekali melewati batas itu. Tapi ia tak akan membuat keluarga Sin malu. Brian melepaskan Zean, ia membangunkan kekasihnya lalu mengecup keningnya.


"Aku ingin sekali memakanmu malam ini, bolehkah?" tanya Brian.


Zean mendorong tubuh Brian seraya turun dari ranjang itu. "Pak dokter, aku sudah memasak. Sebelum makanan itu dingin, lebih baik kita keluar sekarang." kilahnya.


Brian tertawa, ia ikut turun dari ranjang itu lalu mendekati Zean lagi. "Wajahmu mengatakan sebaliknya." godanya.


"Bri..." ujar Zean seraya memukul dadanya pelan.


"Baiklah bu pol, ayo kita keluar sebelum aku kembali ingin memakanmu." goda Brian lagi.


"Dasar pria mesum." jawab Zean seraya berlari keluar.


Brian hanya tertawa dengan keras saat melihat kekasihnya malu dan meninggalkannya. Ia akhirnya ikut keluar menuju ruang makan.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2