Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Lamaran Tak Terduga


__ADS_3

Teo menarik tangan Aralyne saat wanita itu meninggalkannya. "Tunggu Aralyne." pinta Teo.


Aralyne menepiskan tangannya. "Jangan coba coba sentuh aku, mulai hari ini kita tak ada hubungan apa apa." bentaknya.


Harga diri Teo terluka, ia tak bisa membiarkan wanita itu mengabaikannya. "Tidak ada yang boleh seperti Zean lagi, kali ini aku tak akan membiarkannya." pikir Teo.


Teo menarik tangan Aralyne menuju tangga darurat rumah sakit. Disana sangat sepi hingga ia bisa leluasa berbicara dengan wanita itu.


"Lepaskan tanganku pak polisi, anda melanggar hukum." ujar Aralyne.


"Bagaimana kita bisa melupakan satu sama lain setelah apa yang terjadi diantara kita." bentak Teo.


"Tidak ada apapun yang terjadi diantara kita, lupakan semuanya. Aku sudah kehilangan teman sekaligus orang yang aku cintai, aku tak membutuhkanmu. Anggap saja kita tak pernah bertemu, lupakan..."


Teo memotong ucapan Aralyne dengan mendorong tubuh wanita itu ke dinding lalu menciumnya. Aralyne terkejut, ia terus memukul dada Teo dengan keras. Wanita itu tak ingin terjebak lagi, ia berusaha mendorong Teo sekuat tenaga. Tapi Teo adalah polisi yang kuat, pria itu sama sekali tak menggeser tubuhnya.


Teo semakin senang melihat penolakan wanita itu karena lidahnya bisa leluasa masuk kedalam mulutnya. Nafas yang bergemuruh karena kelelahan melawan Teo terdengar, pria itu tak ingin berhenti karena ia benar benar ingin tahu perasaan apa yang ia miliki untuk dokter cantik itu.


Air mata Aralyne mengalir dengan derasnya, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Teo terkejut karena membuat wanita itu kembali menangis. Ia melepaskan Aralyne dan menatapnya.


"Menikahlah denganku dokter Aralyne." pinta Teo.


Ucapan yang tiba-tiba itu membuat Aralyne terkejut. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menatap wajah Teo.


"Aku serius dengan ucapanku, lupakan Brian dan Zean. Menikahlah denganku." pinta Teo lagi.


Kaki Aralyne goyah, ia hampir menjatuhkan dirinya tapi dengan sigap Teo menangkap tubuh wanita itu.


"Aku menyukaimu, setelah ciuman malam itu aku tak bisa melupakanmu. Aku sudah membuktikan hari ini, aku benar benar menyukaimu." kata Teo lagi.


Aralyne melepaskan pelukan Teo. "Kau pria gila yang pernah aku kenal, kau semudah itu menyukai wanita lain setelah kau berusaha memisahkan Brian dan Zean."


"Aku baru menyadarinya Aralyne, aku hanya terobsesi pada Zean karena wanita itu terus menolakku, harga diriku terluka dan tak mau menerimanya. Tapi setelah aku bertemu denganmu, aku baru menyadari jika aku bisa menyukai wanita lain."


"Dan kau takut harga dirimu terluka lagi jika aku menolakmu. Kau tak mungkin menyukaiku semudah itu dan menjadikanku istrimu secepat itu." potong Aralyne.


Teo terkejut mendengarnya, ucapan Aralyne tidak sepenuhnya salah tapi ia yakin akan perasaannya kali ini. Teo berjongkok di depan Aralyne membuat wanita itu terkejut.


"Dokter Aralyne, will you marry me?" ujar Teo seraya mengeluarkan kotak perhiasan dari sakunya.


Teo membuka kotak itu, dan terlihat sebuah cincin berlian yang cantik disana.

__ADS_1


"Kau jangan salah paham nona, ini bukan cincin yang aku beli untuk melamar Zean. Ini benar benar baru aku beli, karena ingin membuktikan perasaanku padamu. Setelah aku yakin, inilah yang aku inginkan. Menikahlah denganku dokter cantik." sambung Teo.


Entah apa yang harus dilakukan Aralyne, ia dilamar pria yang baru ia kenal. Lokasi lamaran di tangga darurat rumah sakit, benar benar tidak biasa. Dan ia tidak yakin bisa menyukai pria licik di depannya.


"Aku tak bisa." jawab Aralyne.


Teo berdiri, ia kembali ditolak. Entah apa dosanya hingga ia selalu saja ditolak oleh wanita. Wajahnya yang sombong berubah menjadi sedih.


Melihat kesedihan Teo, membuat Aralyne berubah pikiran. "Aku tak bisa menikah sekarang karena belum sepenuhnya mengenalmu. Bisakah kita mengenal satu sama lain terlebih dahulu sampai kita yakin akan seserius itu?" tanya Aralyne.


Teo terkejut mendengarnya, ia tak sepenuhnya ditolak oleh Aralyne. Seperti pria yang berbeda, Teo menganggukkan kepalanya dengan senang lalu memeluk wanita itu.


"Aku janji akan membuatmu percaya dan yakin untuk menikah denganku. Terima kasih sayang." ujar Teo.


Aralyne mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Teo, ia menganggukkan kepalanya. Teo senang mendapat persetujuan dari wanita itu.


"Jangan menangis lagi, kau akan membuat anak anak ketakutan karena melihat matamu yang bengkak." kata Teo.


"Aku akan bekerja sekarang." jawab Aralyne.


"Bolehkah aku menjemputmu sore ini?" tanya Teo.


Aralyne ragu tapi ia sudah mengatakannya ingin mengenal pria itu. Ia mengangguk membuat Teo kembali senang. Wanita itu segera masuk lewat pintu darurat. Teo hanya bisa melihatnya menghilang dari hadapannya.


*****


"Apa kau belum selesai?" tanya Brian.


Cukup lama Brian menunggu balasan dari Zean, akhirnya kekasihnya itu membalas pesannya.


"Kau melupakan aku seharian ini."


Brian terkejut membaca pesannya, ia segera menghubungi kekasihnya.


"Apa kau marah sayang?" tanya Brian setelah Zean mengangkat teleponnya.


"Sangat." jawab Zean datar.


Brian terkekeh. "Maaf kekasihku yang cantik, aku tak sanggup lagi menghubungimu hanya lewat ponsel."


"Lalu apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Zean.

__ADS_1


Brian kembali terkejut dengan pertanyaan kekasihnya. "Kau benar aku kembali menghubungimu lewat ponsel, tapi aku sudah hampir dua jam menunggumu di depan Polda."


"Kau di Polda selama itu dan baru menghubungiku sekarang. Kau pria gila." bentak Zean seraya menutup ponselnya.


Brian mengerutkan keningnya, tak lama wanita itu keluar dari Polda dengan wajah yang marah. Ia menghampiri Brian, tapi Zean tak menghiraukan Brian yang keluar dari mobilnya, Zean justru memutari mobil dan masuk kedalam. Brian terkejut, ia masuk lagi ke dalam mobil. Saat itulah Zean memarahinya tanpa henti.


"Kau seharusnya menghubungiku lebih awal, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat Bri, ya Tuhan apa yang kau lakukan selama dua jam disini. Kau membuat dirimu seperti patung di dalam mobil, bagaimana jika aku lembur? Apa kau akan menungguku hingga larut malam? Mengapa kau mengirim pesan selama itu? Apa kau takut menggangguku bekerja? Hanya pesan tak mungkin menggangguku Bri. Aku sangat kesal sekarang, seharusnya aku bisa bertemu denganmu lebih awal jika kau menghubungiku lebih cepat. Kau membuat dirimu kelelahan dengan menungguku disini Bri."


Brian mendengarkan omelan kekasihnya yang tiada henti. Ia sangat merindukan kekasihnya yang cantik itu. Setelah Zean berhenti berbicara, Brian menarik tubuhnya dan memeluknya.


"Aku merindukanmu sayang." ujar Brian.


"Kau tak mendengarkan aku." jawab Zean.


"Aku mendengar semuanya Zee, dan aku senang dimarahi olehmu." kata Brian.


"Aku marah dan kau malah senang."


"Bagaimana aku tidak senang, kau sangat mengkhawatirkan aku. Aku benar benar merindukanmu." ujar Brian lagi.


Zean menghela nafasnya lalu membalas pelukan kekasihnya. "Aku juga sangat merindukanmu pak dokter. Ehm... Aku lapar..."


Brian tertawa seraya melepaskan pelukannya. Ia menghidupkan mobilnya dan membawa Zean keluar dari kawasan Polda menuju restoran. Zean terus menatap wajah kekasihnya saat mengemudi.


"Jangan menatapku seperti itu Zee." ujar Brian.


"Kau jadi salah tingkah." kata Zean sambil terkekeh.


"Terus saja menggodaku, maka aku akan membawamu ke tempat yang sepi." ancam Brian.


"Sayangnya kota ini begitu ramai."


"Jangan mengujiku sayang, aku bisa menemukan tempat itu." jawab Brian.


"Saat ini hanya makan yang aku pikirkan pak dokter, jangan coba coba melakukan hal yang lain." kata Zean.


Brian tertawa. "Baiklah, aku akan memikirkan hal lain setelah makan."


Zean ikut tertawa mendengarnya, keduanya menemukan restoran yang cukup ramai. Mereka turun menuju restoran tersebut, keduanya makan malam bersama setelah beberapa hari keduanya tak saling bertemu.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2