Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
BONUS ( END )


__ADS_3

Perjalanan bulan madu mereka sangat melelahkan. Sesampainya di Paris, keduanya langsung tertidur pulas di hotel yang mereka pesan. Bahkan untuk menikmati makan malam pun keduanya sudah tak mampu lagi karena lelah.


Kamar hotel paket bulan madu yang mereka pesan sudah disiapkan, tapi keduanya justru merusak hiasan hiasan itu karena ketiduran. Brian yang pertama kali terbangun setelah beberapa jam, ia terkejut saat melihat jam tangannya.


"Ya Tuhan, ini sudah larut." gumamnya lalu segera menghubungi pihak hotel untuk menyiapkan makan malam mereka yang terlambat.


Brian menatap istrinya yang masih tertidur pulas, ia tak tega membangunkannya tapi wanita itu harus makan untuk mengisi tenaganya.


"Zee, sayang... Bangunlah..." ujar Brian pelan membangunkan istrinya.


Zean membuka matanya perlahan, wanita itu terkejut lalu terbangun seketika membuat kepalanya terbentur dengan kening Brian. Brian berteriak kesakitan.


"Kau kenapa?" tanya Brian sambil memegang keningnya.


"Kau sedang apa disini?" tanya Zean.


Rasa sakit Brian seketika hilang, ia tertawa terbahak-bahak. "Kau jetlag sampai lupa ingatan sayang." ejeknya.


Seketika Zean menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tersadar jika mereka sudah menikah dan sekarang sedang berbulan madu di Paris. Zean seketika melihat kening suaminya.


"Kau baik baik saja kan? Maaf aku sepertinya sedang bermimpi saat kau membangunkanku." tanya Zean.


Brian menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Pertahananmu sebagai wanita suci sungguh luar biasa bu polisi. Aku baik baik saja, maaf aku membangunkanmu tiba tiba. Kau butuh makan, dan lihat kita merusak kamar pengantin kita."


"Seharusnya kita tidak tertidur." jawab Zean.


"Siapa yang akan disalahkan sayang, kita benar benar kelelahan. Setelah menikah dan melakukan resepsi yang begitu panjang, kita malah melakukan perjalanan yang jauh." jawab Brian. "Gantilah pakaianmu, tak perlu mandi karena kita terlambat makan malam." sambungnya.


"Kemana kita akan makan?" tanya Zean sambil mengganti pakaiannya.


"Aku sudah menyiapkannya di restoran hotel ini." jawab Brian sambil menatap tubuh istrinya.


"Jangan melihatku seperti itu." pinta Zean.


"Kenapa? Kau milikku sekarang."


"Tapi aku masih malu pak dokter."


"Baiklah, aku ke kamar mandi sebentar." kata Brian seraya meninggalkan istrinya.


Beberapa menit kemudian, keduanya sudah siap menuju restoran. Zean terkejut saat sampai disana, ruangan khusus dan dihias dengan indah di depan matanya. Tempat itu ternyata sudah di pesan oleh suaminya untuk makan malam bulan madu mereka.


"Kau yang meminta mereka melakukan ini?" tanya Zean.


"Tentu saja." jawab Brian seraya menarik kursi untuk Zean. "Tunggu sebentar." ujarnya.


Brian meninggalkan Zean sendirian, beberapa menit kemudian ia kembali lagi.


"Darimana?" tanya Zean.

__ADS_1


"Ada sesuatu sedikit dengan pihak hotel. Apa kau sudah tak pusing lagi?"


Zean menggeleng. "Bagaimana denganmu?"


"Aku tak lupa ingatan sayang, aku masih sadar jika kau istriku." goda Brian.


"Kau membuatku malu dengan mengingatnya."


Brian tertawa. "Maaf aku menggodamu."


Pelayan restoran menyiapkan beberapa menu makanan mewah di meja mereka.


"Makanlah, ini semua makanan spesial buatmu." ujar Brian.


Zean mulai mencicipi makanan itu. "Semuanya enak, terima kasih sayang."


"Apapun untukmu Zee. Setelah ini, bagaimana jika kita ke pantai, kebetulan bintang bintang malam ini sangat indah."


Zean mengangguk setuju. "Apa kau sudah tidak lelah lagi?"


Brian menggeleng. "Tenagaku sudah kembali dan kita butuh penyegaran." jawabnya.


"Baiklah." jawab Zean.


Keduanya menikmati makan malam romantis mereka sampai menu penutup. Setelah selesai, Brian menggenggam tangan istrinya menuju pantai di belakang hotel. Lagi lagi Zean terkejut, suaminya memberi kejutan lagi. Sepanjang pantai dihiasi lilin lilin dan bunga bunga yang cantik.


"Ini kau lagi?" tanya Zean.


Zean mengagumi pemandangan itu, tak terasa air matanya menetes. Jadi saat di restoran tadi, suaminya meninggalkannya untuk memesan semuanya.


"Tidak sayang jangan menangis di depanku." ujar Brian seraya memeluk istrinya.


"Aku beruntung memiliki suami sepertimu. Terima kasih atas semuanya Bri." ucap Zean.


"Aku sudah mengatakannya akan membuat mimpimu menjadi kenangan terindah dalam hidupmu sayang. Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia, tapi aku tak suka air matamu." kata Brian.


"Ini air mata kebahagiaan, kau pun tahu itu."


"Aku tetap tidak suka, aku tak akan membuatmu mengeluarkan air mata walaupun sedikit, kau lebih baik memukulku jika aku berbuat salah." jawab Brian.


Zean tertawa. "Jika kau berbuat salah, bukan tanganku yang berbicara tapi pistolku." godanya.


"Aku terima itu, asal bukan air matamu."


Zean memeluk suaminya dengan erat. "Aku mencintaimu."


"Aku pun mencintaimu. Sampai kapan kita akan berpelukan?" tanya Brian.


Zean melepaskan pelukannya lalu tertawa. Keduanya kembali berjalan jalan di tepi pantai. Setelah cukup menikmati malam itu, keduanya duduk bersamaan di atas pasir pantai.

__ADS_1


"Kau masih ingat saat kita berada di Amerika, bukankah pose seperti ini saat aku mengungkapkan perasaanku padamu." ujar Brian.


Zean mengangguk. "Aku tak akan pernah melupakan hal itu sayang."


"Dan kali ini aku akan mengulanginya lagi, tapi bagian ini..." kata Brian seraya menarik kepala Zean dan menciumnya.


Keduanya berciuman cukup lama, hingga hasrat keduanya tersulut. Suara desahan Zean keluar saat suaminya menyentuh bagian sensitifnya.


"Aku tak bisa menahannya lagi." kata Brian seraya membangunkan istrinya.


Brian membawa Zean kembali ke kamar hotel, baru membuka pintu kamar, Brian menariknya lagi dan mencium istrinya. Zean tak menyadari jika kamar sudah diperbaiki bahkan lebih indah dari sebelumnya.


"Bri, aku belum mandi." gumam Zean parau.


"Kita akan mandi setelah ini." jawab Brian seraya mendorong istrinya ke atas ranjang.


Perlahan lahan Brian membuka pakaian istrinya, begitu juga dengan Zean yang mulai mengikuti permainan suaminya. Brian terus menerus menyentuhnya tanpa ampun, pria itu menyentuh dengan bibir, lidah dan jari jemarinya.


Sesekali Zean mengeluarkan suara lenguhan dan nafasnya semakin memburu. Untuk pertama kalinya, ia merasakan tubuhnya menjadi panas karena sentuhan.


"Bri..." panggilnya parau.


"Rasakan apa yang aku lakukan sayang." jawab Brian parau.


Hampir setengah jam, Brian membuat Zean menggila. Kini suaminya berada di atas tubuhnya dan siap menyatukan cinta mereka. Brian ragu melakukannya karena takut menyakiti istrinya. Ia menautkan jarinya ke tangan Zean, dan penyatuan itu pun terjadi.


Suara desahan lembut berubah menjadi teriakan saat Zean merasakan sakit di area miliknya. Brian seketika berhenti, ia butuh dorongan sekali lagi untuk memasukinya lebih penuh. Pria itu menundukkan kepalanya lalu mencium bibir Zean kembali, setelah istrinya kembali merasa nyaman, dengan dorongan yang kuat ia berhasil menembus kesucian istrinya.


Zean merasakan perih dan darah mengalir di bagian intinya.


"Katakan jika kau tak nyaman sayang." ujar Brian dengan suara yang berat karena dipenuhi hasrat.


"Aku baik baik saja." jawab Zean.


Brian meneruskan permainannya, dan keduanya akhirnya mencapai puncak kenikmatan bersama. Brian jatuh terkulai di atas tubuh istrinya. Zean memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu Zee." ujar Brian seraya mengecup wajah istrinya.


Zean hanya mengangguk dan matanya mulai terpejam.


"Tidurlah sayang." ucap Brian.


Pria itu menarik selimutnya, lalu memeluk istrinya hingga pagi hari. Keduanya melakukan malam pertama mereka dengan penuh cinta.


*****


Happy Reading All...😘😘😘


TAMAT...

__ADS_1


Minggu depan Author akan mulai melanjutkan novel "Chef Cantik Pilihanku 2"...


Terima kasih sudah mengikuti seluruh novelku...


__ADS_2