
Sudah waktunya tiba untuk Tora dan Sherly pulang ke Lampung, setelah makan siang bersama dengan berat hati Zean maupun Brian melepas kepergian mereka.
"Papa sudah menunggu di bandara Raden Intan, ia terus mengomel jika tidak aku beritahu." ujar Brian.
"Dokter Jack cerewet seperti biasanya, padahal kami tak ingin merepotkan kalian." jawab Tora.
"Tidak ada yang direpotkan om, kami keluarga kalian juga. Kapanpun kalian ingin ke Jakarta, aku dengan senang hati menerima kalian." kata Brian.
"Om dan tante hanya ingin kau terus menjaga Zean disini. Kami percayakan Zean padamu Brian. Kami akan sesering mungkin mengunjungi kalian di Jakarta." ujar Tora.
"Ciiihhh, itu tak mungkin terjadi. Kalian jika sudah pulang, mana mau untuk meninggalkan rumah itu." ejek Zean.
Sherly menarik telinganya. "Jangan nakal sayang, mami akan merindukanmu."
Dengan pelukan hangat akhirnya mereka berpisah, Tora dan Sherly melakukan boarding pass dan meninggalkan mereka dengan lambaian tangan. Air mata Zean akhirnya mengalir, ia akan sulit bertemu dengan tangan tangan yang mulai keriput itu.
Brian mengelus pundaknya. "Jangan menangis." bisiknya.
"Aku ingin bersama mereka. Tapi mereka..."
"Aku tahu sayang, jika kita punya waktu libur bersamaan, kita bisa mengunjunginya. Aku juga mulai merindukan papa." potong Brian.
"Kenapa kau terlambat lagi?" tanya Zean kesal.
"Jadi ini yang membuatmu tak ramah sejak tadi, ada pasien konsultasi sayang dan jalanan macet. Tapi sepertinya aku tak terlambat." jawab Brian.
"Hampir, kami sebenarnya sudah menunggu setengah jam di apartemen."
Brian membawa Zean ke parkiran lagi. "Maaf..." hanya itu kata katanya sebelum masuk ke mobilnya.
"Ke Polda atau ke apartemen terlebih dahulu?" tanya Brian.
"Aku tak ingin membuatmu repot antar jemput, lebih baik ke apartemen." jawab Zean.
"Apa kau masih menganggapku orang lain?" tanya Brian kesal.
"Tidak, bukan seperti itu."
"Apa kau tahu aku sangat merindukanmu Zee, sejak kemarin kita baru bertemu sekarang. Dan ya Tuhan, wajahmu sangat tak ramah. Aku kehilangan senyum cantik kekasihku." ujar Brian.
"Maaf." jawab Zean datar.
Brian menepikan mobilnya. "Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku sejak kemarin malam?"
"Tidak apa apa, aku hanya lelah."
"Aku akan membawamu ke Polda, lalu menjemputmu nanti malam."
"Aku ada pekerjaan, mungkin selesai malam hari."
"Aku akan menjemputmu jam berapapun Zee." jawab Brian.
"Baiklah, lebih baik kita kembali sekarang. Kita bisa terlambat, tidak ada hasilnya jika kita terus berdebat." ujar Zean.
"Salah siapa itu." ujar Brian tak juga menyalakan mobilnya, ia justru menatap wajah Zean. Zean salah tingkah, ia bingung harus bagaimana menghadapi kekasihnya sekarang.
__ADS_1
"Aku akan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal jika terus tidak mau tersenyum." ujar Brian seraya mendekati Zean.
Zean terbelalak, ia segera menatap Brian, mendorong tubuh pria itu lalu tertawa. "Cepat nyalakan mobilnya."
"Dasar wanita yang suka merajuk." jawab Brian seraya mengendarai mobilnya lagi.
Keduanya melanjutkan perjalanan menuju Polda terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, Brian tak melepaskan tangan Zean sekalipun.
*****
Mereka sudah sampai di Polda, Brian masih enggan melepaskan tangan Zean.
"Aku sudah terlambat sayang." ujar Zean.
"Jangan merajuk terus, aku bisa gila memikirkannya." kata Brian.
"Tidak, aku sudah baik baik saja. Kau kembalilah ke rumah sakit. Kau juga sudah terlambat bekerja, dan hati hatilah di jalan."
"Baiklah, kabari aku jika sudah mau pulang. Bolehkah aku memelukmu sebentar?" tanya Brian.
Zean menatap sekitar Polda lalu menggeleng. Mendapat penolakan dari kekasihnya, wajah Brian berubah menjadi masam. Zean melepaskan sit beltnya lalu dengan cepat ia mengecup pipi Brian, wanita itu segera keluar dari mobilnya. Sedangkan Brian masih terkejut dengan perlakuan kekasihnya.
Brian segera membuka kaca mobilnya. "Hei, tunggu..." panggilnya.
Zean menjulurkan lidahnya lalu meninggalkan Brian begitu saja. Brian hanya tersenyum, ia memegang pipinya lalu menyalakan mobilnya lagi. Ia meninggalkan Polda untuk kembali ke rumah sakit.
*****
Beberapa kali Zean tersenyum sendiri saat bekerja, ia terus mengingat ekspresi wajah Brian saat mendapatkan kecupan darinya. Sikap Zean yang seperti itu membuat anak buahnya kebingungan.
"Sepertinya anda punya hal baik setelah mengantarkan orang tua anda bu." ujar Ega.
"Tapi sejak tadi anda tersenyum sendiri, apa karena kekasih anda?" tanya Ega.
"Kau sangat ingin tahu ya, lupakan saja Ega." jawab Zean sambil tertawa.
Ega hanya menghela nafasnya, atasannya tak mau berbagi kebahagiaan dengannya.
"Apa sore ini semuanya sudah siap?" tanya Zean tentang pekerjaannya.
"Sudah bu, tapi menurut informasi tersangka belum terlihat di kediamannya, jadi yang bertugas sejak tadi pagi masih mengintai disana." jawab Ega.
"Seperti belut sangat licin, kali ini aku akan ikut kalian."
"Tapi bu, anda tak turun lapangan."
"Biarkan aku ikut kali ini, setidaknya aku bisa melihat kalian bekerja menangkap para penjahat." jawab Zean.
"Tapi..."
"Jangan terus menerus membantah perintahku Ega."
"Siap bu tak berani." jawab Ega tegas.
"Aku akan tetap di dalam mobil, aku hanya ingin melihat kalian bekerja saja. Bandar narkoba yang akan kita tangkap sudah menjadi incaran lama, jika kali ini team kita bisa menangkapnya bukankah akan menjadi prestasi terbaik kita. Jangan katakan apapun soal keluargaku, pekerjaanku tidak ada hubungannya dengan mereka." kata Zean.
__ADS_1
"Tapi pak komisaris akan..."
"Jangan sampai pak komisaris tahu." potong Zean.
Ega menarik nafasnya dalam-dalam, ia tak bisa membantah perintah atasannya. "Satu jam lagi kita akan berangkat bu." ujarnya.
"Baiklah." jawab Zean.
Ega meninggalkan Zean, dan Zean membereskan pekerjaannya sebelum berangkat ke lapangan. Suara ponselnya berdering, tentu saja itu dari Brian. Sepertinya pria itu baru sampai di rumah sakit.
"Halo..."
"Halo sayang, aku baru sampai. Kau pulang jam berapa nanti?" tanya Brian.
"Aku belum tahu, aku akan mengabarimu lagi." jawab Zean.
"Kau tidak bertugas di luar kan Zee?"
Zean terkejut, ia tak ingin membuat Brian khawatir. "Tidak..." ujarnya berbohong.
"Baiklah, kau hati hati saat bekerja."
"Kau juga Bri."
"Aku harus membuat perhitungan denganmu karena menciumku tanpa menungguku siap." ujar Brian.
Zean terkekeh. "Kau pendendam pak dokter."
"Aku bukan dendam, tapi sangat terkejut. Baiklah, sudah dulu sayang, aku harus meeting untuk mempersiapkan operasi besok. Dah..."
"Dah..." jawab Zean.
Ponselnya mati dan Zean segera menyiapkan dirinya untuk pergi bersama beberapa anak buahnya untuk menangkap seorang bandar narkoba.
Sudah waktunya ia berangkat, tapi Teo tiba tiba ke ruangannya. Wajah pria itu tak bersahabat. Ia menatap Zean dengan penuh kemarahan.
"Kemana kau akan pergi." bentak Teo pada Zean.
Zean mengumpat dalam hati, cepat sekali pria itu tahu. "Aku hanya mengikuti anak buahku pak."
"Sejak kapan kau turun ke lapangan menangkap penjahat, jangan mengubah tugasmu sendiri tanpa persetujuanku. Kau tak diizinkan keluar, jika kau membantah perintahku maka aku akan melaporkannya kepada pak komisaris." perintah Teo seraya meninggalkannya.
Zean mengumpat terus menerus sampai membuat Ega dan yang lainnya bergidik.
"Siapa yang melaporkan ke pak Teo." bentaknya, tapi tak ada satupun anggota kepolisian yang mengaku. "Oh sepertinya ruanganku di sadap olehnya sendiri atau ada mata mata pak Teo yang bertugas denganku." sambung Zean dengan marah.
"Siap bu, kami semua setia." jawab mereka semua.
Zean mengendalikan amarahnya, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi lagi. "Kalian pergilah tanpaku." perintahnya.
"Siap laksanakan." jawab semuanya dan meninggalkan Zean sendirian.
"Papi, kau membuatku menjadi seorang polisi pengecut. Mengapa kau menggunakan ketenaranmu, untuk putrimu ini? Aku ingin sepertimu bukan menjadi polisi yang berdiam diri di ruangan seperti ini." gumam Zean kesal.
Tapi ia tak bisa membantah perintah Teo, karena jika ia lakukan maka ia akan menerima hukuman disiplin dari komisaris. Dan yang lebih menakutkan adalah kemarahan ayahnya sendiri. Zean hanya menatap kesepian ruangannya sekarang.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘😘😘