
Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan bagi dokter Jack, Brian dan Zean. Akhirnya mereka sampai juga di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Di Jakarta, mereka sampai dini hari. Tentu saja Zean langsung menghubungi orang tuanya.
"Apa kata mereka?" tanya Brian.
"Mereka tenang setelah kita sampai, dan titip salam buat om Jack dan kau Bri." jawab Zean.
"Syukurlah... Zee pulanglah bersama kami. Aku tak akan membiarkanmu mengendarai mobilmu sendiri." pinta Brian.
"Benar kata Brian, lebih baik kau ikut bersama kami. Ini sudah sangat larut bahkan sudah dini hari." sambung dokter Jack.
"Lalu mobilku?" tanya Zean.
"Aku akan mengambilnya besok." jawab Brian.
"Tidak perlu, aku tak ingin merepotkanmu Bri. Aku bisa menyuruh anak buahku mengambilnya besok." kata Zean.
Brian menggeleng. "Biar aku saja, aku juga ingin tahu dimana apartemenmu."
"Biarkan Brian yang mengurusnya, ayo kita pulang." ajak dokter Jack.
Zean mengangguk, ia tak mau berdebat lagi karena mereka semua sudah lelah. Zean mengikuti mereka. Ternyata Brian membawa Zean ke rumah barunya di Jakarta.
"Beristirahatlah semalam di rumahku, disini banyak kamar. Besok aku akan mengantarmu pulang. Jangan menolakku, aku punya kewajiban menjagamu." ujar Brian.
"Masuklah Zean, om akan memastikan kau aman disini." goda dokter Jack sambil tertawa.
Zean ikut tertawa. "Aku hanya merasa tak pantas menginap di rumah pria lajang."
"Kan masih ada om, jika om kembali ke Lampung, tentu saja kau tak boleh kemari sendirian." jawab dokter Jack.
"Aku bukan pria hidung belang, hentikan pembicaraan kita. Aku sangat lelah, dan kalian juga butuh tidur." ujar Brian.
"Baik pak dokter." jawab dokter Jack dan Zean bersamaan hingga mereka tertawa.
Brian membawa Zean ke kamar. Sedangkan dokter Jack sudah masuk ke kamarnya sendiri.
"Beristirahatlah sayang, aku tahu kau pasti lelah." ujar Brian.
"Kau juga pasti lelah kan. Tapi rumahmu terlalu besar untuk kau tinggal sendirian." kata Zean.
"Ini akan menjadi rumah kita. Atau kau ingin pindah kemari sekarang, temani aku disini." jawab Brian.
"Itu tak mungkin dokter, kita masih lajang. Tak baik tinggal bersama." ujar Zean.
Brian menarik Zean ke pelukannya. "Kita akan memulai hubungan ini pelan pelan Zee, setelah kau yakin, menikahlah denganku."
__ADS_1
"Apa ini sebuah lamaran?" tanya Zean.
Brian mengecup puncak kepalanya. "Bukan, aku tak akan melamarmu seperti ini. Tapi setidaknya kau tahu, aku serius dengan hubungan kita."
"Aku tahu Bri, aku juga serius. Aku tak ingin menjadikan hubungan kita hanya sekedar main main saja." jawab Zean.
Brian melepaskan pelukannya dan menatap wajah Zean, ia mengecup kening Zean lalu beralih ke bibirnya sekilas. "Aku mencintaimu."
Zean mengecup bibir Brian sekilas juga. "Aku juga mencintaimu Bri."
Brian tak kuat menahannya, ia menarik pipi Zean dan mereka kembali melakukan ciuman mesra itu. Setelah puas, Brian meminta Zean tidur lalu meninggalkan kamarnya.
*****
Brian membersihkan dirinya sebelum tidur, walaupun terlalu larut untuknya mandi tapi ia tak bisa tidur dengan tubuh yang berkeringat akibat perjalanannya dari Amerika. Ia mengeringkan rambutnya sambil memikirkan wanita cantik di sebelah kamarnya.
"Aku tak tahu, ternyata aku sangat bahagia setelah mendapatkanmu Zee. Jika kau sudah siap, aku akan segera menikahimu. Persahabatan kita sudah terlalu lama, dan aku sangat takut kehilanganmu." gumam Brian. "Tapi aku harus bekerja dengan baik agar kau semakin yakin denganku." sambungnya seraya menaiki ranjangnya.
Di lain sisi, Zean sama sekali tak bisa tidur. Wanita itu terus tak bisa mengendalikan jantungnya setelah ciuman mereka. Ia membalikkan tubuhnya di ranjang berkali kali.
"Ya ampun, ada apa denganmu Zean..." ujarnya seraya duduk di atas ranjang.
Zean mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Brian.
"Apakah kau sudah tidur?"
"Entahlah, aku sulit memejamkan mata."
"Apa tempat tidurnya kurang nyaman?"
"Tidak, bukan itu."
"Apa kau masih merindukanku?"
"Terlalu percaya diri, but may be yes."
"Hehehe... keluarlah..."
Zean menatap ponselnya lalu segera keluar dari kamarnya. Ternyata Brian sudah menunggunya di pintu.
"Apa kau ingin menonton film?" tanya Brian.
"Jika itu bisa membuatku tidur, aku setuju." jawab Zean.
Brian memegang tangannya lalu mengajaknya ke ruang santai. "Film romantis, horor atau action."
__ADS_1
"Apa saja." jawab Zean lagi.
Brian memilih film action kesukaannya. Keduanya terlarut dalam film tersebut. Zean lebih nyaman sekarang. Matanya mulai mengantuk. Brian mengambil bantal kursi dan meletakkannya di atas pahanya.
"Tidurlah disini sayang." pinta Brian.
Zean mengangguk seraya merebahkan kepalanya disana. Dengan belaian lembut, Brian terus membuat kekasihnya nyaman hingga akhirnya wanita itu memejamkan matanya. Brian tersenyum saat melihat wajah cantik itu terlelap. Ia pun menyenderkan tubuhnya di sofa lalu ikut terpejam.
*****
Hari semakin pagi, dokter Jack keluar dari kamarnya setelah membersihkan dirinya. Ia terkejut saat melihat putra dan Zean di ruang santai. Televisi dalam keadaan hidup tapi keduanya terlelap disana dengan posisi yang membuat dokter Jack bahagia.
"Apakah persahabatan kalian seperti ini? Kalian lebih pantas menjadi sepasang kekasih. Aku harap kalian terus bersama dan hidup bahagia, aku akan lebih tenang jika Brian bersamamu Zean. Kau adalah putri sahabatku, pria terhormat dan sudah sangat jelas siapa keluargamu. Aku tak akan membiarkan Brian bersama wanita lain." gumam dokter Jack.
Dokter Jack meninggalkan keduanya menuju dapur, ia tahu Brian belum mencari pelayan di rumah barunya. Jadi ia akan membuat sarapan pagi, tentu saja ia bisa memasak karena ia sejak kecil sudah mandiri. Seandainya Istrinya masih hidup, mungkin ia akan lebih bahagia sekarang.
Aroma masakan dokter Jack membangunkan Brian, ia terkejut dan menyadari dimana ia berada. Ia menatap kekasihnya yang masih terlelap, Brian tersenyum bahagia. Dengan perlahan ia memindahkan kepala Zean ke sofa. Setelah berhasil ia segera menuju dapur.
"Selamat pagi pa..." sapa Brian.
"Pagi Brian, kau bangun." jawab dokter Jack.
"Aroma masakan papa membuatku lapar. Apa yang papa buat?" tanya Brian.
"Seperti biasa, nasi goreng kesukaanmu. Mandilah, bangunkan Zean agar kita bisa sarapan bersama." pinta dokter Jack.
"Papa membuatkan makanan kesukaanku setelah 5 tahun, aku bahagia sekali. Aku akan mandi, tapi aku tak tega membangunkan Zean. Sepertinya ia sangat lelah. Papa melihat kami?" tanya Brian.
"Adegan romantis seperti drama Korea." goda dokter Jack sambil tertawa.
"Papa, jangan menggodaku. Zean sulit tidur, jadi aku membawanya menonton film, tapi kami malah ketiduran." kata Brian.
"Papa tak minta penjelasan Brian, papa tahu kalian saling merindukan satu sama lain. Itulah mengapa papa bersikeras ingin kau bersamanya. Cepatlah ungkapkan isi hatimu yang sebenarnya, jangan kau selalu menganggap Zean sebagai sahabat atau adikmu." ujar dokter Jack.
Brian mendekati ayahnya. "Papa bisa kan merahasiakan ini dari keluarga Zean, sebenarnya..."
"Selamat pagi om Jack, Brian." sapa Zean.
"Selamat pagi nona cantik, kau sudah bangun." jawab dokter Jack.
"Maaf aku ketiduran di pangkuan Brian. Om masak apa?" tanya Zean.
"Om buat nasi goreng, kalian berdua segera mandilah lalu kita sarapan bersama." perintah dokter Jack.
Brian dan Zean mengangguk, keduanya meninggalkan dapur menuju kamar masing-masing untuk mandi.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘