
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Zean pamit pulang untuk mengganti bajunya. Tapi Brian melarangnya, ia ingin kekasihnya tetap beradaptasi di rumahnya.
"Aku harus berganti pakaian Bri. Aku juga mau ambil mobilku di Polda."
Brian menggeleng. "Aku akan mengambil pakaianmu. Kita jemput orang tuamu bersama sama. Tetaplah disini sayang."
"Pergilah bekerja sayang, aku tak ingin merepotkanmu." jawab Zean.
"Jangan keras kepala, aku sudah menghubungi dokter Fathema, aku akan bekerja setelah menjemput orang tuamu. Dan aku mendapat izin itu."
"Baiklah, kita ke apartemen bersama. Aku akan mengganti bajuku lalu kita istirahat sebentar sebelum menjemput papi mami di bandara. Bagaimana?" tanya Zean.
Brian tersenyum. "Oke, itu lebih baik daripada membiarkanmu pulang sendiri."
Zean mengangguk, ia membereskan meja makan.
"Biar aku saja Zee, kau bersiaplah. Terima kasih sarapannya, sangat lezat." ujar Brian.
"Jangan membohongiku, makanan yang aku buat tak seenak itu."
"Aku serius sayang, sudah sana." kata Brian seraya mendorong tubuh Zean agar bersiap siap.
Zean akhirnya setuju dan meninggalkan Brian di ruang makan. Untung saja, seragamnya sudah dikeringkan Brian jadi ia bisa memakainya untuk kembali ke apartemen. Beberapa menit kemudian, Zean kembali menemui Brian. Ruang makan dan dapur sudah rapi kembali. Pria itu sangat cepat membereskannya.
Brian terkejut saat kekasihnya memakai seragam kemarin. "Hei, mengapa kau gunakan seragammu. Bajuku ada di lemari."
"Aku harus memakainya untuk pulang, aku tak ingin mengotori pakaianmu lagi. Kita kembali sekarang, aku takut memakan waktu lebih banyak di jalan dan tidak sempat menjemput orang tuaku." jawab Zean.
"Baiklah, ayo..." ajak Brian.
Keduanya keluar rumah dan segera menuju apartemen Zean. Kemacetan ibukota Jakarta membuat perjalanan mereka lebih lama, sudah lebih dari satu jam mereka belum juga sampai.
Zean menghela nafasnya. "Benar benar akan terlambat."
Brian melihat jam tangannya, sudah hampir jam 9 pagi. "Bergantilah pakaian dengan cepat, kita langsung ke bandara."
"Harusnya kita istirahat sebentar Bri, kau pasti lelah."
Brian menggeleng. "Aku sama sekali tidak lelah Zee."
Keduanya akhirnya sampai di apartemen Zean, Brian akan ikut turun mengantar Zean masuk ke apartemen tapi wanita itu melarangnya.
"Tetaplah disini, aku akan cepat." ujar Zean.
"Kau yakin?" tanya Brian.
Zean mengangguk seraya meninggalkan Brian begitu saja. Benar saja, hanya 15 menit wanita itu sudah kembali dengan pakaian yang santai. Wanita yang ia cintai tetap saja wanita tomboi yang cantik.
Zean segera masuk ke mobil Brian. "Kita langsung ke bandara, kita pasti terlambat."
Brian mengangguk tapi tatapan matanya membuat Zean bertanya tanya.
"Ada yang aneh?" tanya Zean.
Brian tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Ia segera membawa Zean menuju bandara.
__ADS_1
*****
Sudah pukul 10.30 tapi putrinya belum juga menjemput mereka. Tora dan Sherly terus menunggu disana, mereka tak bisa menghubungi putrinya karena ponsel keduanya kehabisan baterai.
"Apa Zean lupa untuk menjemput kita?" tanya Sherly.
"Tidak mungkin sayang, mungkin Zean masih ada pekerjaan." jawab Tora.
"Kita naik taksi saja pi."
"Zean akan marah jika kita naik taksi, kemarin ia terus berkata agar kita menunggunya di bandara."
"Aku sangat lelah." ujar Sherly.
"Aku tahu sayang, tunggulah sebentar lagi. Zean pasti datang."
Setelah satu jam mereka menunggu di bandara, akhirnya sosok putrinya terlihat. Zean berlari ke arah mereka dengan wajah yang sangat menyesal. Putrinya memeluk mereka.
"Maaf mi, pi, maafkan aku. Jalanan sangat ramai." ujar Zean.
Tora dan Sherly tersenyum, terlebih saat mereka melihat keberadaan Brian.
"Om, tante...maaf kami terlambat." ujar Brian.
"Tak apa, kami tak tahu jika Zean akan menjemput kami bersamamu Brian." jawab Tora.
"Tentu saja aku akan menjemput kalian. Mari, pasti kalian sudah sangat lelah." kata Brian.
"Sangat melelahkan Brian, tante benar benar ingin menemukan tempat tidur yang nyaman sekarang." ujar Sherly.
"Kami baik baik saja Zean, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Tora.
"Sangat lancar, aku pikir kalian akan berubah pikiran dan menetap di Amerika. Tapi kalian tetap keras kepala." jawab Zean.
Sherly menarik telinga Zean, sampai putrinya memekik kesakitan. "Mami, Zean bukan anak kecil lagi."
"Kau sangat nakal mengatakan kami keras kepala." ujar Sherly.
Brian hanya terkekeh geli. Brian membawa mereka ke jalan bukan arah apartemen Zean.
"Kemana kau akan membawa kami?" tanya Zean.
"Maaf om, tante... Rumahku akan lebih nyaman dibandingkan apartemen Zean. Jadi aku mohon kalian bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu." pinta Brian.
"Tidak nak, kami akan merepotkan." jawab Sherly.
Brian menggeleng. "Tidak ada kata merepotkan tante, aku sangat senang jika kalian mau tinggal bersamaku."
"Kau tak bisa mengambil orang tuaku Bri, biarkan mereka tinggal bersamaku. Kau juga tak mengatakan hal ini sebelumnya." kata Zean kesal.
"Jika dari awal aku mengatakannya padamu, kau tak mungkin setuju. Om, tante maukah kalian tinggal bersamaku?" tanya Brian lagi.
Tora menatap istrinya, memang akan merepotkan tapi rumah lebih baik dibandingkan apartemen. "Kami akan memutuskan setelah sampai di rumahmu, kami ingin tahu seperti apa rumah pria lajang yang tampan ini." jawab Tora.
"Oke,,, aku setuju." ujar Brian.
__ADS_1
"Kalian tak mau mendengarkan aku." kata Zean kesal.
"Jangan merajuk sayang, mami juga ingin tahu tempat tinggal Brian." kata Sherly.
"Tapi perjanjian awal tidak seperti ini mi." ujar Zean semakin kesal.
"Kau boleh memarahiku sepuas hatimu, tapi kau pikirkan tempat tinggal mereka. Apartemenmu hanya ada satu kamar, apa kau mau tidur bertiga dalam satu ranjang. Kau akan berubah menjadi bayi lagi." ejek Brian.
"Aku bisa tidur di sofa ruang santai, disana sangat nyaman." jawab Zean keras kepala.
"Sudah jangan berdebat lagi, kami akan memutuskannya setelah sampai. Hentikan rengekanmu Zean. Kau seperti anak berusia 10 tahun, padahal kau seorang polisi sekarang." goda Tora.
"Papi..."
Brian tertawa mendengarnya, mereka terus bercanda sampai akhirnya tiba di rumah Brian. Baik Tora maupun Sherly sangat mengagumi rumah pilihan Brian. Brian membawa mereka masuk ke dalam rumah.
"Kalian beristirahat dulu, aku akan menyiapkan kamarnya." ujar Brian.
"Jangan repot repot Brian, kami istirahat disini sudah cukup." ujar Sherly.
"Aku mohon tante, tinggallah disini sampai kalian kembali ke Lampung. Disini lebih aman, aku akan menyewa pembantu sementara." kata Brian.
"Maksudmu apartemenku tidak aman." kata Zean.
"Bukan itu Zee, pokoknya kalian harus tinggal disini." ujar Brian seraya meninggalkan mereka.
Tora tertawa melihat kekesalan pada wajah Zean. "Apa kekasihmu selalu seperti itu Zean?"
"Sangat mengesalkan." jawab Zean.
"Benarkah? Sepertinya matamu mengatakan sebaliknya." goda Sherly.
"Terus saja menggodaku. Aku akan membantu Brian, sepertinya ia tak ingin ditolak. Jadi mau tak mau kalian tinggallah disini." ujar Zean dan meninggalkan orang tuanya.
Tora dan Sherly menatap putrinya dengan bahagia. "Sepertinya kita tak salah mencari calon suami buat putri kita." ujar Tora.
"Papi benar, aku senang Zean akhirnya bersama Brian. Tapi apa kita harus tinggal disini?" tanya Sherly.
"Bukankah kau sudah dengar, Brian tak mau ditolak dan sepertinya Zean akhirnya setuju."
"Rumah ini terlalu besar untuk pria lajang." kata Sherly sambil menatap sekeliling rumah itu.
"Aku harap mereka segera menikah dan tinggal bersama. Itu membuatku lebih tenang mi." kata Tora.
"Jangan terburu buru pi, aku ingin Zean menikmati masa lajangnya."
"Aku tak memaksa mereka." jawab Tora.
Brian dan Zean keluar bersama dan membantu mereka masuk ke kamar untuk beristirahat, Brian memesan makanan untuk makan siang mereka.
"Maaf om, tante. Aku harus ke rumah sakit sekarang, anggap saja rumah ini rumah kalian sendiri. Aku sudah memesan makan siang kalian. Beristirahatlah disini, aku akan pulang lebih cepat. Zee aku titip rumahku dan calon mertuaku." goda Brian membuat wajah Zean memerah.
Tora dan Sherly tertawa lalu mengangguk, sedangkan Zean mengantarkan Brian keluar rumahnya. Brian pamit pada Zean dengan mengecup keningnya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘