Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Keluarga Pasien


__ADS_3

Sesampainya Brian di rumahnya, ia terus menghubungi Zean tapi wanita itu tak mengangkat ponselnya. Brian merasa tidak tenang, ia tak mungkin ke apartemen Zean selarut ini.


"Apakah kau sudah tidur Zee, ini baru jam 10 malam. Apa kau marah padaku?" gumam Brian.


Ia terus mencoba menghubungi Zean, dan akhirnya suara malas terdengar dari balik ponsel.


"Siapa?" tanya Zean malas.


Brian terkejut dengan pertanyaan kekasihnya. "Apa nomor ponselku kau hapus?"


"Oh, maaf Bri. Aku tak melihat layar ponselnya. Aku ketiduran." jawab Zean.


"Maaf aku mengganggu, aku pikir kau masih terjaga."


"Kau sudah pulang?" tanya Zean.


"Aku baru saja sampai, aku menghubungimu sejak tadi. Bolehkah aku ke apartemenmu sekarang?" tanya Brian.


"Untuk apa? Ini sudah sangat larut Bri, kau beristirahatlah." jawab Zean.


"Aku ingin menemui orang tuamu." kata Brian.


"Mereka sudah tidur Bri, penerbangan besok jam 1 siang. Kau bisa mengantarkan mereka saat istirahat."


"Benarkah, apa mereka mengatakan sesuatu karena aku tak datang malam ini?" tanya Brian.


"Orang tuaku bukan orang kolot yang tak memahami pekerjaanmu Bri, mereka sangat memahamimu. Kau tenang saja, mereka baik baik saja."


"Lalu bagaimana denganmu? Sepertinya kau masih terdengar kesal."


Zean terkekeh. "Aku tak apa apa sayang, kekhawatiranmu sangat berlebihan. Aku benar benar baru bangun, jadi suaraku masih malas. Kau istirahat saja, kita bertemu besok siang." jawab Zean.


"Zee, aku merindukanmu." ujar Brian.


"Aku juga, jangan punya pikiran macam macam Bri. Aku akan berusaha memahami pekerjaanmu." ujar Zean.


"Baiklah, besok aku akan ke apartemenmu. Kita bisa ke bandara bersama sama."


"Oke, good night." kata Zean seraya menutup ponselnya.


Brian bisa bernafas lega, ternyata Zean dan orang tuanya tak merasa kecewa seperti yang dipikirkan Brian sejak makan malam bersama para dokter bedah. Ia segera masuk ke kamar mandinya, ia tidak bisa tidur jika belum mandi.


*****


Keesokan harinya, aktifitas seperti biasanya dilakukan mereka. Kali ini Brian tak boleh mengingkari janjinya lagi, ia harus mengantarkan calon mertuanya untuk pulang ke Lampung.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Dokter Brian, ada pasien VVIP ingin berkonsultasi." ujar dokter Mei.


"Bukankah aku tak ada janji." jawab Brian.


"Memang kosong dok, tapi pasien ingin menemui anda tanpa membuat janji. Apakah anda bersedia?" tanya dokter Mei.


"Lain kali tidak, tapi hari ini aku terima karena tak ada pekerjaan. 5 menit lagi suruh pasien masuk. Tapi ingat dokter Mei, tak ada pasien yang bisa menemuiku tanpa membuat janji." ujar Brian.


"Maaf dok, aku sudah mengatakannya tapi wanita ini memaksa." kata dokter Mei menyesal.


"Kali ini tak apa." jawab Brian datar.


Dokter Mei keluar dan memanggil pasien yang ingin menemui dokter Brian. Lima menit kemudian, seorang wanita masuk ke ruangan Brian. Wanita yang cantik dan masih muda. Ia adalah putri dari pasien ginjal yang akan Brian operasi 2 hari lagi.


"Silahkan duduk nona." ujar Brian.


"Aku Mariet putri dari pak Hasdo. Maaf karena menemui anda tanpa membuat janji. Tapi aku ingin bertanya sesuatu." jawab Mariet.


"Katakan, anda bisa bertanya apapun padaku." ujar Brian.


"Apakah ayahku bisa segera sembuh setelah melakukan operasi, aku akan membawanya ke Perancis karena aku akan menikah disana."


"Apakah pernikahanmu lebih penting dari kesehatan ayahmu. Dengar nona, anda mengubah jadwal operasi saja sebenarnya sudah menyalahi peraturan disini. Tapi karena keluarga anda dekat dengan Dirut rumah sakit, kami bisa menerimanya. Tapi untuk pertanyaan anda, aku tak bisa menjawabnya dengan pasti karena aku bukanlah Tuhan. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan operasi dan berusaha menyelamatkannya. Tapi takdir hanya ada di tangan Tuhan nona, kita hanya bisa berusaha dan berdoa." jawab Brian sedikit kesal.


"Jawabannya tetap sama nona, kami akan berusaha sebaik mungkin." jawab Brian.


"Jika ayahku tak bisa sembuh total, apakah aku tetap bisa membawanya ke luar negeri?" tanya Mariet lagi.


Brian menatap wajah wanita itu, sepertinya ada masalah lain selain masalah pernikahan. "Apakah anda tak bisa menikah tanpa ayah anda?" tanya Brian.


Mariet terbelalak. "Tidak bisa, ia harus hadir dalam pernikahanku."


"Undurlah pernikahan anda sebisa mungkin sampai ayah anda benar benar pulih nona. Kesehatan ayah anda lebih penting diatas apapun." perintah Brian.


Wanita itu tertunduk sedih. "Terima kasih atas saran anda dok, tapi aku harap anda memberikan yang terbaik sehingga kami bisa berangkat minggu depan." ujarnya seraya pamit meninggalkan ruangan Brian.


Brian mengumpat, ia sangat kesal menghadapi keluarga pasien yang menghalalkan segala cara dengan uang.


"Keluarga yang aneh." gumam Brian.


Brian menatap jam tangannya, sudah pukul 11 siang, ia akan istirahat lebih awal untuk menemui Zean dan orang tuanya, Brian merapikan mejanya lalu bersiap siap akan keluar. Ia pamit pada dokter Mei, dan saat menuju pintu lift, ia bertemu dengan dokter Aralyne. Wanita itu tersenyum padanya.


"Apakah kau mau keluar?" tanya Aralyne.

__ADS_1


Brian mengangguk. "Kau mau kemana?"


"Aku tadinya ingin bertanya soal makan malam denganmu. Sejak hari itu, kau belum memberikan jawaban." kata Aralyne.


"Maafkan aku Aralyne, aku sedang terburu-buru. Aku banyak sekali pekerjaan, jadwal operasiku semuanya dimajukan. Aku akan segera mengabarimu jika sudah ada waktu." jawab Brian.


Sebelum Aralyne berbicara lebih lanjut, pintu lift terbuka.


"Aku akan menghubungimu lagi." ujar Brian seraya meninggalkan wanita itu.


Aralyne sedikit kesal saat ia ditinggalkan begitu saja, ia terus didesak oleh Teo untuk menjalankan rencana mereka, tapi Brian sangat sulit ditemuinya. Ia mengumpat tanpa sadar ada beberapa dokter yang sedang menatapnya disana. Tatapan yang menurutnya justru mengejek.


Sedangkan Brian tak ingin terlambat, ia segera memacu kendaraannya menuju apartemen Zean. Sudah satu jam perjalanan, akhirnya ia sampai juga. Brian segera menuju pintu lift, pintu lift terbuka dan disanalah ketiganya ada di dalam lift untuk keluar.


"Kau benar datang Bri." ujar Zean.


"Tentu saja, kalian ingin meninggalkan aku?" tanya Brian.


"Tentu tidak nak, kami berniat menunggumu di parkiran." jawab Tora.


"Maaf om, tante... Semalam aku benar benar ada pekerjaan." ujar Brian.


"Kami mengerti nak, kita berangkat sekarang." ajak Sherly.


"Zee, mobilku lebih baik." pinta Brian.


Zean menatap orang tuanya, mereka semua setuju. "Baiklah, kami belum makan siang Bri. Kita bisa ke restoran sebelum ke bandara."


"Tentu saja dengan senang hati." jawab Brian.


Brian membawakan koper mereka ke bagasi mobil. Lalu dengan perlahan, ia mengendarai mobilnya menuju restoran terdekat. Tapi Brian mengingat tempat kencan pertama mereka di dekat bandara.


"Apa tidak sebaiknya kita makan di restoran dekat bandara?" tanya Brian.


"Kami ikut saja." jawab Tora.


"Terlalu jauh, apa kalian tidak lapar." kata Zean.


"Kami bisa menahannya sayang, lebih baik dekat bandara." sahut Sherly.


Brian menatap Zean, wanita itu tak seramah biasanya. "Kita makan di tempat pertama kali kita makan Zee, kau masih ingat kan."


"Baiklah, terserah kalian saja." jawab Zean.


Brian tak bertanya lebih lanjut karena masih ada orang tua Zean. Ia hanya fokus pada jalanan yang ramai menuju restoran dekat bandara.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2