Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Ucapan Selamat Aralyne


__ADS_3

Melakukan operasi transplantasi ginjal butuh waktu setidaknya 3 sampai 4 jam, cukup melelahkan bagi semuanya di dalam ruang operasi. Dengan kecakapan Brian sebagai dokter bedah yang cerdas, mereka lebih tenang membantunya.


Walaupun ini operasi pertama Brian, tapi pria itu terlihat sangat profesional. Berkali-kali profesor dan Dirut rumah sakit mengangguk anggukkan kepalanya saat mengawasi jalannya operasi.


Usai sudah operasi tersebut, berjalan dengan lancar dan berhasil melakukannya membuat Brian semakin percaya diri. Setelah menyelesaikan operasi tersebut, Brian keluar dari ruangan untuk membersihkan dirinya. Ia menghela nafasnya karena hampir tak bisa bernafas disana.


"Selamat atas keberhasilan anda dok." ujar dokter Ricky.


"Terima kasih, ini juga keberhasilan anda." jawab Brian.


Dokter Ricky menggeleng. "Aku hanya membantu sedikit, andalah yang melakukannya."


"Tanpa kalian, aku tak bisa melakukannya." ujar Brian.


"Selamat atas operasi pertama anda dok." ujar dokter Mei juga.


"Kau banyak membantu dokter Mei, terima kasih semuanya." jawab Brian.


"Pasien akan tetap disini selama satu jam, setelah keadaannya stabil maka akan segera di pindahkan ke ruang rawatnya. Dan anda diminta menemui Dirut." kata dokter Mei lagi.


"Hanya aku?" tanya Brian.


Dokter Mei mengangguk.


"Tentu saja hanya anda, ini adalah operasi anda dokter Brian. Aku akan kembali sekarang." kata dokter Ricky.


"Terima kasih sekali lagi." kata Brian.


Dokter Ricky dan dokter Mei meninggalkannya. Brian segera keluar dan menemui keluarga pasien. Disana sudah ada wanita yang pernah menemuinya, putri dari pasien yang sangat cerewet.


"Bagaimana ayahku?" tanyanya.


"Operasi berjalan dengan baik, setelah satu jam ia akan dipindahkan ke ruang rawat. Berdoalah agar pasien segera sehat." jawab Brian.


"Terima kasih dok." jawab keluarga pasien.


Brian menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan mereka menuju ruang Dirut. Ia mengetuk pintu itu, dan suara ibu Fathema terdengar, menyuruhnya masuk.


Brian membuka pintu itu dan terkejut melihat sambutan setidaknya ada 5 orang penting disana termasuk profesor bedah, mereka memberikan applaus saat Brian masuk kedalam.


"Selamat atas operasi pertama anda dok." ujar semuanya.


Brian menundukkan tubuhnya pada mereka, ia dipersilahkan duduk diantara mereka.


"Lebih dari profesional, kami menyaksikan operasi yang luar biasa hari ini. Anda seperti sudah sering melakukannya." ujar bu Fathema.

__ADS_1


"Anda terlalu memuji bu, aku hanya melakukan yang terbaik." jawab Brian.


"Benar benar diluar ekspektasi kami dokter Brian, ketenangan anda dalam melakukan operasi lebih dari dokter bedah yang biasa melakukannya." ujar profesor.


"Terima kasih prof." ujar Brian.


"Inilah putra dokter Jack yang aku ceritakan kepada kalian. Ia lulusan kedokteran universitas Oxford Inggris. Perkenalkan dokter Brian, ini adalah wakil direktur keuangan, wakil direktur pelayanan dan Kabag medis rumah sakit Pertamina yang belum anda temui." ujar bu Fathema.


Brian mengulurkan tangannya dan menundukkan kepalanya.


"Anda ingin tahu, aku mengumpulkan mereka karena mereka adalah teman teman ayahmu." ujar bu Fathema lagi.


"Ayahku banyak sekali menceritakan tentang teman temannya, tapi suatu kehormatan untukku karena bisa bertemu langsung dengan kalian semua." ujar Brian.


"Kau lebih tampan dari ayahmu, dan kau sangat membanggakan dokter Brian." sahut wakil direktur keuangan.


"Terima kasih pak."


"Bagaimana jika kita makan siang bersama, ini sudah waktunya makan kan." ajak Kabag medis.


"Sepertinya dokter Brian butuh istirahat setelah melakukan operasi, kita tidak bisa memaksanya." ujar profesor.


"Profesor benar, kita sampai lupa. Baiklah dokter Brian, kita bisa makan bersama di lain waktu. Anda beristirahatlah." kata wakil direktur keuangan.


Brian bernafas lega, ia kurang nyaman bersama para petinggi rumah sakit. Ia pun mengangguk dan berpamitan pada mereka semua. Ia meninggalkan ruangan Dirut menuju ruangannya sendiri.


Sudah jam 2 siang, makanan yang dipesan dokter Mei untuknya sudah berada di meja Brian. Tapi ia belum nafsu makan karena masih mengingat operasi yang ia lakukan. Ia sudah mengirim pesan pada Zean soal operasinya, dan kekasihnya belum membalasnya.


Hari semakin sore, Brian baru bisa memakan makanannya yang sudah dingin. Perlahan ia memasukkan sesuap demi sesuap ke dalam mulutnya. Zean masih juga belum membalas pesannya.


Dokter Mei kembali mengetuk pintunya.


"Masuk..." ujar Brian.


"Anda baru makan dok? Aku akan memesan yang baru." ujar dokter Mei, ia terkejut saat melihat Brian baru makan.


"Tak perlu dokter Mei, ini masih enak. Ada apa?" tanya Brian.


"Aku hampir lupa, keluarga pasien ingin menemui anda." jawab dokter Mei.


"Putrinya lagi?" tanya Brian.


Dokter Mei menggeleng. "Sepertinya adik dari pasien. Seorang pria dok."


"Temui aku satu jam lagi, aku masih ingin beristirahat."

__ADS_1


"Baik dok." jawab dokter Mei.


"Apakah aku perlu satu jam untuk menemui anda dok?" tanya seorang wanita tiba tiba masuk.


Dokter Aralyne menemuinya lagi tanpa izin, dokter Mei merasa kesal dibuatnya.


"Maaf aku sedang makan, ada yang bisa aku bantu dokter Aralyne?" tanya Brian.


Dokter Mei pamit keluar dan mendapat anggukkan dari Brian.


"Aku mendengar operasi pertamamu berhasil, aku datang untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Maaf aku mengganggu makanmu." jawab dokter Aralyne.


"Duduklah dan terima kasih Aralyne." kata Brian.


"Mengapa kau baru makan?" tanya Aralyne.


"Kau akan tahu jika melakukan operasi." jawab Brian.


Dokter Aralyne tertawa. "Sayangnya, aku tak akan pernah melakukannya. Bukan bidangku."


Brian memperhatikan wanita itu, ia teringat janjinya untuk makan malam di rumahnya. Ia sangat lelah, tapi ia harus menyelesaikan lebih cepat agar wanita itu tidak terus menerus mengganggunya.


"Aku akan menepati janjiku besok malam Aralyne, tapi ada siapa saja di rumahmu?" tanya Brian.


"Aku belum pernah mengatakannya ya, aku tinggal sendiri di apartemen. Tapi kau jangan takut, aku tak akan melakukan apapun padamu Brian, aku hanya ingin memasak buatmu." jawab Aralyne.


Brian terkejut, ia tak mungkin datang ke apartemen wanita yang masih lajang. Dan jika Zean tahu, akan habislah ia.


"Mengapa kita tidak makan di luar saja, sepertinya tidak pantas aku ke apartemenmu." ujar Brian.


"Oh ayolah Brian, bukankah kau sudah janji padaku. Aku akan kecewa jika kau membatalkannya." kata Aralyne.


Brian menatapnya lagi, ia memang sudah berjanji pada wanita itu sebagai permintaan maafnya karena meninggalkannya malam itu.


"Baiklah, besok malam aku akan kesana. Kirim alamat apartemenmu. Jangan terlalu berlebihan memasak, perutku tak sebesar yang kau kira. Cukup satu menu saja sudah membuatku kenyang." ujar Brian.


Aralyne sangat senang, setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya ia dapat waktu yang tepat untuk menjebak Brian. Besok malam adalah waktu dimana ia akan memiliki Brian seutuhnya.


"Terima kasih Brian, aku akan memasak untukmu yang sangat spesial. Aku kembali sekarang, selamat menikmati makanmu." ujarnya senang seraya berpamitan.


Brian mengangguk dan membiarkan wanita itu meninggalkannya. Ia kembali menikmati makanannya yang terlambat, ia akan memberi tahu Zean tentang makan malam ini, agar kekasihnya tidak salah paham.


*****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2