Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Bersabarlah


__ADS_3

Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya. Mereka berkumpul di ruang santai untuk berbincang bincang. Dimulai dengan ucapan Brian yang terus memuji masakan Sherly.


"Aku ikut andil dalam memasak." ujar Zean.


"Kau hanya memotong sayuran, aku juga bisa melakukannya." ejek Brian.


"Enak saja." jawab Zean.


Mereka semua tertawa melihat kekesalan Zean.


"Om harap, kau selalu memahami sikap Zean. Ia sangat manja walaupun seorang polisi." ujar Tora.


"Om tenang saja, sikapnya yang manja yang membuat aku jatuh cinta padanya." goda Brian.


"Kalau tante sih sebal sekali, makanya tante suka menjewer telinganya." kata Sherly.


"Mami jahat sama aku, bahkan aku suka dijewer saat sedang bermanja-manja dengan papi. Ia sangat cemburu." usil Zean.


"Eits, kau mulai lagi Zean." ujar Tora.


Brian hanya tertawa mendengar mereka.


"Bagaimana pekerjaanmu Brian?" tanya Tora.


"Lancar om, minggu depan aku akan melakukan operasi untuk pertama kalinya." jawab Brian.


"Pasiennya dari kalangan menengah ke atas pi, pasti yang ia bedah kebanyakan jantungnya." ejek Zean.


"Kau sok tahu, aku justru mengoperasi penyakit ginjal minggu depan." kata Brian.


"Selalu berhati-hati dalam menangani pasien Brian, apalagi ini operasi pertamamu." pesan Sherly.


"Tentu tante, oh ya bagaimana suasana rumahku? Kalian suka kan, besok sudah ada pelayan jadi tante tidak perlu memasak lagi." ujar Brian.


"Kami hanya menginap malam ini, besok akan ke apartemen Zean. Lusa kami akan kembali ke Lampung." ujar Tora.


"Cepat sekali, menginaplah lebih lama om, tante." kata Brian.


"Mereka sangat sulit meninggalkan kampung halamannya. Ya begitulah..." ujar Zean.


"Menginaplah disini sampai kalian pulang ke Lampung. Untuk apa ke apartemen Zean."


"Mereka orang tuaku Bri." ujar Zean.


"Mereka juga orang tuaku." kata Brian.

__ADS_1


"Hei hentikan, kami sudah memutuskan seperti itu. Biar adil, biarkan kami menginap satu malam di apartemen Zean. Lalu kami pulang tanpa mengganggu kalian lagi." ujar Sherly.


"Kalian sama sekali tak mengganggu, aku senang rumah ini terasa ramai." jawab Brian.


"Kau membeli rumah terlalu besar untuk sendiri Brian." kata Tora.


"Aku sedang menunggu kesediaan seseorang untuk tinggal disini." goda Brian pada Zean.


"10 tahun lagi." ejek Zean.


Tora dan Sherly tertawa mendengar mereka.


"Kau terlalu percaya diri Zee, aku tak menunggumu. Aku menunggu orang lain." ejek Brian.


"Oh benarkah, baiklah aku setuju. Aku mendukung semua keputusanmu." jawab Zean datar.


"Kau harus mendukungku, karena wanita itu seorang polisi yang dewasa tidak sepertimu." goda Brian lagi.


Tora dan Sherly terus tertawa mendengar perdebatan mereka.


"Terima kasih kalian membuat kami bahagia." ujar Sherly. "Nikmati masa lajang kalian sebelum ke jenjang yang lebih serius."


"Pasti tante, kalian jangan khawatir, aku akan menjaga Zean disini." jawab Brian.


"Akulah yang menjagamu, aku seorang polisi." ujar Zean.


"Wanita tomboi maksudmu, om sih tak pernah menganggap Zean sebagai wanita."


"Ikh...papi jahat..." ujar Zean kesal.


Canda tawa mereka terus mengisi malam yang panjang, sampai akhirnya mereka saling pamit untuk beristirahat. Sedangkan Zean minta diantarkan pulang karena seragamnya di apartemen. Dengan izin yang sangat alot, akhirnya Zean diizinkan kembali ke apartemennya tapi hanya untuk mengambil seragam, ia harus kembali dengan Brian ke rumah pria itu.


*****


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja, Brian mengantarkan Zean sampai apartemennya. Ia juga turut masuk menunggu Zean mengambil pakaian ganti untuk besok.


"Kau mau minum apa Bri?" tanya Zean.


"Tidak sayang, aku hanya butuh mandi jika kau izinkan." jawab Brian.


"Tentu saja, kau pakailah kamar mandi itu sepuasnya. Aku baru ingat jika kau belum mandi. Apa kau mau ganti pakaian?" tanya Zean.


"Ini baru aku ganti di rumah. Kau persiapkan saja seragammu, aku akan mandi sebentar." jawab Brian.


Zean mengangguk, ia membiarkan kekasihnya mandi. Sedangkan ia segera masuk ke kamarnya untuk menyiapkan baju ganti untuk besok pagi.

__ADS_1


Malam semakin larut, saat Zean keluar dari kamarnya. Brian sudah menunggunya di ruang santai dengan rambut yang masih terlihat basah, tapi justru membuatnya semakin tampan. Pria itu dengan seriusnya membaca sebuah majalah. Zean terus menatap Brian dari kejauhan.


"Hati hati matamu akan keluar sayang." goda Brian tanpa menatap Zean.


"Kau seperti patung porselen di bawah cahaya malam. Aku terkejut melihat pria di dalam apartemenku dengan rambut yang basah."


Brian tersenyum lalu menutup majalah yang ia baca. "Kemarilah..." pintanya.


Zean menghampirinya dengan tas yang sudah berisi pakaian gantinya. Ia duduk tepat di samping Brian.


"Tak bisakah kita segera menikah Zee, aku bahagia bersamamu disaat seperti ini." ujar Brian tiba tiba.


"Apa ini sebuah lamaran lagi pak dokter?" tanya Zean.


"Bisa dibilang seperti itu, tapi bukan yang sesungguhnya." jawab Brian.


Zean menyenderkan kepalanya di bahu Brian. "Bri, hubungan kita bukan untuk main main. Tapi bersabarlah sayang, kak JiJo baru saja menikah. Aku baru saja naik jabatan dan kau baru saja bekerja. Pernikahan harus kita persiapkan dengan matang, jangan terburu buru Bri."


Brian mengelus kepalanya. "Aku tahu, tapi membayangkan berpisah denganmu membuat hatiku sakit."


"Hei...siapa yang ingin kita berpisah?" tanya Zean.


"Maksudku bukan berpisah seperti itu, tapi berpisah di rumah yang berbeda. Aku bahagia saat bersamamu dalam satu atap. Seperti sekarang ini, hatiku sangat bahagia Zee. Aku ingin sekali menghentikan waktu saat ini juga." jawab Brian.


Zean terkekeh. "Ayo kita kembali sekarang, aku takut papi dan mami tidak bisa tidur karena kita belum pulang." ajaknya.


"Kau harus diberi hukuman karena menghindari pembicaraan ini." ujar Brian seraya menarik Zean dan menciumnya.


Keduanya bisa melewati batas jika mereka tak menyadarinya. Suasana apartemen yang sepi sangat mendukung keduanya melakukan kesalahan itu. Tapi Brian masih ingin menjadi pria yang baik, ia tak mau menghancurkan harga diri kekasihnya.


Brian menarik diri dan mengecup kening Zean. "Jika kita tidak berhenti akan bahaya. Apa hanya ini yang kau bawa?" tanyanya.


Zean mengangguk, wajahnya masih merona karena hawa panas yang masih bergejolak dalam dirinya saat mereka melakukan ciuman tadi. Brian tersenyum dan memeluk Zean dengan erat.


"Maaf aku selalu melakukannya dan berhenti seperti itu sayang, aku hanya ingin kau tetap suci." ujar Brian.


"Jangan punya pikiran macam macam, aku tak mengharapkan lebih dari ini." jawab Zean.


"Tapi wajahmu mengatakan yang sebaliknya." goda Brian.


Zean melepaskan pelukannya dan memukuli dada Brian dengan lembut. "Aku normal, tapi aku tak ingin menyerahkannya sekarang." ucapnya seraya berdiri. "Pak dokter yang terhormat, ayo kita keluar atau aku akan menguncimu di dalam." sambungnya.


Brian tertawa lalu mengikuti Zean keluar dari apartemennya. Keduanya segera kembali ke rumah Brian karena hari semakin larut. Walaupun jalanan kota masih sangat ramai, tapi keduanya butuh waktu beristirahat untuk melanjutkan pekerjaan mereka besok.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2