
Setelah mereka berpisah di kediaman masing-masing, Zean maupun Brian beristirahat. Keduanya akan melakukan aktivitas pekerjaan mereka besok. Terutama Brian yang akan melakukan operasi pertamanya.
Keesokan harinya, sebelum Brian berangkat bekerja, ia menghubungi ayahnya.
"Pagi pa, om Tora dan tante Sherly masih di rumah?" tanya Brian.
"Pagi juga putraku, ya mereka masih disini sedang bersiap siap untuk pulang. Bagaimana persiapanmu hari ini?" tanya dokter Jack.
"Itulah mengapa aku menghubungi papa, aku ingin meminta doa darimu supaya aku berhasil melakukan operasi pertama ini." jawab Brian.
"Pasti Brian, papa selalu berdoa setiap hari untukmu. Satu pesan papa, apapun yang terjadi saat operasi tetaplah tenang dan yakin pada dirimu sendiri. Apa kau sudah sarapan?" ujar dokter Jack.
"Aku akan selalu mengingat pesan papa. Papa jaga kesehatan selalu disana, aku sudah sarapan, sekarang ada bu Juma yang mengurusku. Aku berangkat sekarang pa. Salam untuk om dan tante Sin."
"Baik Brian, kau berhati hati. Dah..." ujar dokter Jack seraya menutup ponselnya.
Brian bersiap siap berangkat, saat ia keluar rumah, ia sangat terkejut melihat kekasihnya berdiri di depan pintu gerbang sambil menyunggingkan senyum cantiknya. Brian segera membuka pintu gerbang itu.
"Apa yang kau lakukan pagi pagi disini, dan ya ampun sudah berapa lama kau berdiri sayang?" tanya Brian.
Zean memeluknya. "Aku baru sampai 5 menit yang lalu, aku mengkhawatirkanmu Bri."
Brian membalas pelukan kekasihnya. "Apa yang kau khawatirkan cantik? Aku baik baik saja."
"Kau akan melakukan operasi pertamamu, dan aku ingin memberimu semangat secara langsung. Aku menyempatkan diri kemari sebelum ke Polda." ujar Zean.
Brian membawa masuk Zean kedalam, tanpa menunggu lama ia langsung menarik wajah kekasihnya dan menciumnya habis habisan. Zean hampir kehabisan nafas karena Brian tak mau berhenti.
"Bri..." ucapnya di sela ciuman itu.
Brian melepaskan Zean lalu tersenyum. "Kau membuatku gila pagi pagi seperti ini Zee, jika kau lakukan ini terus menerus, aku akan menarikmu ke kamarku." bisiknya.
Zean terkekeh. "Aku akan melakukannya jika kau akan melakukan operasi, aku akan memberimu semangat setiap pagi sayang."
Brian kembali memeluknya. "Jangan lakukan itu sayang, jarak dari apartemen kemari sangat jauh."
__ADS_1
"Aku berangkat sangat pagi, tidak terlalu macet." jawab Zean.
"Lalu bagaimana sekarang, kau akan terlambat datang ke Polda." ujar Brian.
"Lepaskan aku sekarang Bri, aku akan berangkat sebelum terlambat. Aku akan mengabarimu lagi sesampainya di Polda."
Dengan enggan Brian melepaskan pelukannya. "Aku ingin sekali mengantarmu."
Zean menggeleng. "Aku bisa sendiri, sayang berhati hatilah saat operasi, semoga berhasil di operasi pertamamu. Kabari aku setelah kau selesai melakukannya." ujarnya seraya mengecup pipi Brian.
Zean melangkahkan kakinya untuk keluar rumah tapi ia kembali ditarik oleh Brian kedalam pelukannya.
"2 menit..." ujar Brian.
Zean membalas pelukan itu dengan erat. Dengan enggan keduanya saling melepaskan pelukan mereka. Brian mengecup kening Zean dengan lembut.
"Berhati hatilah...Dah..." ujar Brian sambil mengantarkan Zean keluar rumah dan menuju mobilnya.
Zean mengangguk seraya masuk ke dalam mobilnya, ia melambaikan tangannya lalu meninggalkan Brian menuju Polda.
Brian menghela nafasnya, ia sangat bahagia pagi ini diberi semangat oleh kedua orang yang sangat ia sayangi. Ia semakin semangat untuk melakukan operasi pertamanya. Ia segera masuk juga ke mobilnya lalu menuju rumah sakit Pertamina.
*****
"Pak dokter, persiapan meeting sudah selesai. Semuanya sudah menunggu di ruangan." ujar dokter Mei.
"Aku akan segera kesana." jawab Brian.
Dokter Mei mengangguk dan meninggalkan Brian, pria itu mempersiapkan diri lalu menuju ruang meeting.
Di dalam ruangan sudah ada beberapa dokter bedah dan profesor yang akan membantu dan mengawasinya dalam melakukan operasi pertamanya. Mereka pun memulai meeting itu.
"Anda sehat dok?" tanya profesor.
"Sangat sehat." jawab Brian.
__ADS_1
"Aku percaya anda bisa melakukannya, karena keluarganya ingin segera membawa keluar pasien, maka kita akan melakukan prosedur yang berbeda dengan obat-obatan yang lebih mahal. Keluarga ini menyetujui untuk melakukan pembayaran dua kali lipat dari sebenarnya." ujar profesor lagi.
"Ini bukan masalah bayaran prof, aku selalu mengutamakan keselamatan pasien dan juga kesembuhannya. Justru dari awal aku sangat tertekan dengan permintaan keluarga pasien." ujar Brian.
"Anda benar dok, keluarga pasien lebih cerewet, aku hampir pusing mendengar permintaan mereka setiap hari." ujar dokter Ricky.
"Mengubah jadwal operasi saja sudah membuat kita kewalahan." sahut dokter Mei.
"Jangan mengeluh lagi, ini sudah harinya. Kita lakukan yang terbaik untuk pasien pertama dokter Brian. Karena ini membawa nama baik dokter bedah disini." ucap profesor.
"Aku akan melakukan yang terbaik prof, aku tak akan mengecewakan dokter bedah disini." jawab Brian.
"Itulah mengapa aku sangat menyukaimu dokter Brian, kita akan tahu setelah melihat hasilnya. Tetap tenang dalam keadaan kritis, ketenangan itu yang akan membuahkan hasil dalam melakukan operasi. Kita sudahi saja meeting hari ini, persiapkan diri kalian untuk membantu dokter Brian." pinta profesor.
"Terima kasih prof." jawab semuanya.
Meeting pun selesai, mereka semua kembali ke ruangan masing masing untuk mempersiapkan diri menuju operasi. Brian merasa semakin tegang, bebannya berat bukan hanya karena pasien tapi juga ia bertanggungjawab atas nama baik dokter bedah di rumah sakit Pertamina.
Brian memegang ponselnya dan mengetukkan jarinya di meja. Ia ingin sekali berbicara dengan Zean sebelum masuk ke ruang operasi. Tapi saat ini pasti kekasihnya sedang sibuk, ia tak mungkin mengganggunya.
Brian meyakinkan dirinya sendiri, ia membuka galeri ponselnya dan menatap foto Zean yang sedang tertawa. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Dokter Mei mengetuk pintu dan masuk.
"Dok, sudah waktunya. Pasien sudah berada di ruang operasi." ujarnya.
Brian menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. "Beri aku 5 menit lagi." pintanya.
"Baik dok." jawab dokter Mei dan meninggalkan ruangan.
Brian kembali menyenderkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya sejenak. Ia kembali meyakinkan dirinya, setelah 5 menit akhirnya ia berdiri dan menuju ruang operasi.
Disana sudah ada dokter Ricky, dokter Mei, dan 3 asisten. Sedangkan prosefor dan Dirut sudah ada diatas tempat mengawasi jalannya operasi. Dengan seragam operasi yang sudah ia kenakan, ia dengan keyakinan besar bisa melakukannya.
"Pasien sudah diberi anestesi 5 menit yang lalu dok." ujar dokter Mei.
Begitu juga dengan yang lain, mereka sudah membacakan hasil pemeriksaan seperti tekanan darah, oksigen dan lain lain pada Brian. Setelah merasa semuanya dalam keadaan baik dan normal, akhirnya Brian pun memegang pisau bedahnya dan memulai operasi.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘😘😘