
Dokter Aralyne sudah mendengar kabar jika Brian sudah memiliki kekasih berseragam kepolisian sejak 2 minggu yang lalu. Sejak itu ia belum pernah menemui Brian lagi. Ia sangat penasaran dan ingin tahu dari mulut Brian sendiri, tapi kesibukan mereka membuatnya sulit bertemu hingga sekarang.
Aralyne menghempaskan tubuhnya di kursi setelah ia menangani pasien anak terakhirnya.
"Benar benar melelahkan." gumamnya sendiri. "Aku ingin bertemu dokter Brian." sambungnya.
Aralyne merapikan mejanya, lalu segera bergegas keluar menuju lift. Ia sangat merindukan dokter tampan yang sangat ia sukai itu.
"Sore dok." sapa dokter Mei pada Aralyne.
"Sore juga, ada dokter Brian?" tanya Aralyne.
"Ia sedang bersama Profesor untuk membahas operasi 2 minggu lagi. Apa anda sudah membuat janji temu?" tanya Mei.
Aralyne menggeleng. "Aku hanya mengunjungi saja. Baiklah, aku akan kembali besok." jawabnya.
Dokter Mei hanya mengangguk. Saat Aralyne ingin meninggalkan ruangan, ia bertemu Brian. Keduanya sama sama terkejut.
"Dokter Aralyne... Apa yang membawamu kesini?" tanya Brian.
"Kita sudah lama tidak bertemu, aku hanya ingin menyapamu." jawab Aralyne.
"Maaf aku sibuk akhir akhir ini. Jika ada hal penting, mari masuk ruanganku." ajak Brian.
Aralyne menggeleng. "Brian, bisakah kita makan malam bersama?"
Brian memikirkan Zean, tapi ia tak enak menolak temannya. "Mungkin sudah saatnya aku mengatakannya malam ini." pikirnya.
"Baiklah, tentukan tempatnya. Aku akan mengikutimu." jawab Brian.
Wajah Aralyne berseri seri, ia tak menyangka Brian mau makan malam dengannya. "Baiklah, aku akan menghubungimu lagi. Terima kasih Brian."
Brian hanya mengangguk, Aralyne meninggalkannya.
"Sepertinya dokter Aralyne menyukai anda." ujar dokter Mei.
Brian tertawa. "Ia temanku sejak kuliah, kami memang dekat saat di Inggris tapi tak mungkin ia menyukaiku."
"Tapi aku bisa melihat tatapannya pada anda, ia dokter yang sangat cantik." kata Mei.
"Tak secantik kekasihku, kau pun sudah tahu itu." jawab Brian seraya tertawa.
"Anda benar dok, aku terkejut saat wanita cantik berseragam itu mendatangi anda. Dan aku sudah menebak ia bukan pasien tapi..."
"Jangan bergosip dokter Mei, aku akan menyelesaikan pekerjaanku. Kau boleh pulang jika sudah selesai." potong Brian.
Dokter Mei mengangguk. "Baik dok..."
Dokter Brian meninggalkan ruangan menuju ruangannya sendiri. Ia segera menghubungi Zean.
"Halo sayang..." ujar Brian.
"Halo sayang, apa kau sudah selesai bekerja?" tanya Zean.
__ADS_1
"Sebentar lagi, bagaimana denganmu? Kita sudah satu minggu tak bertemu, aku merindukanmu Zee."
"Maaf Bri, aku harus lembur lagi. Aku juga merindukanmu. Besok aku akan menyempatkan makan siang denganmu."
"Baiklah tak apa sayang, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Aku harap kau tak marah." ujar Brian.
"Katakanlah..."
"Bolehkah aku makan malam bersama temanku malam ini, sebenarnya aku sengaja menerima ajakannya untuk memberitahu tentang hubungan kita." kata Brian.
"Teman kuliahmu itu, tapi mengapa kau mengatakannya padaku?" tanya Zean.
"Aku harus jujur padamu, aku tak ingin kau tahu dari orang lain karena melihatku bersama wanita lain. Aku tak ingin kau salah paham Zee."
Zean tertawa. "Aku percaya padamu Bri, bukankah aku sudah mengatakannya jika aku ingin membangun hubungan kita dengan kepercayaan. Kau tak perlu menjelaskan hubungan kita pada wanita itu, bukankah terlalu aneh dan canggung."
"Tidak, aku ingin ia berhenti mengajakku makan. Setidaknya itu yang harus aku hindari."
"Tapi ia temanmu Bri, aku tak ingin kau melakukannya karena aku."
"Kau gadis bodoh, aku melakukan semuanya memang karenamu. Karena aku mencintaimu." ujar Brian.
"Aku percaya padamu, aku masih ada pekerjaan. Setelah kau makan malam, hubungi aku lagi."
"Baik sayang, bye..." jawab Brian seraya menutup ponselnya.
Brian memejamkan matanya sejenak, ia tahu ini tidak benar. Tapi ia akan melakukannya untuk yang terakhir kalinya dan menjelaskan semuanya pada Aralyne sebelum wanita itu semakin menyukainya seperti yang dikatakan dokter Mei.
*****
"Ayolah Zee, kau harus percaya pada kekasihmu. Brian mengatakannya karena tak ingin kau salah paham." pikirnya sendiri.
Zean kembali melanjutkan pekerjaannya, sudah 2 minggu Inspektur Teo tak mengganggunya, pria itu hanya melakukan pekerjaan bersama Zean secara profesional. Mungkin sudah ada peringatan setelah Jidan Sin menghubungi Komisaris Besar.
"Bu..." panggil Ega.
Zean terkejut dengan lamunannya. "Ya Ega, ada apa?"
"Ini berkas yang harus anda tanda tangani dan malam ini Inspektur Teo meminta anda menemaninya makan malam dengan anggota dewan." jawab Ega.
"Ah, aku? bukankah seharusnya ia bersama pak inspektur jenderal."
"Pak Inspektur Jenderal ingin anda yang menggantikannya karena ada urusan lain." kata Ega.
"Baiklah, dimana pertemuan itu?" tanya Zean.
"Anda akan berangkat bersama pak Inspektur Teo, ia sudah menunggu anda di parkiran." jawab Ega.
Zean menghembuskan nafasnya dengan keras, membuat Ega terkekeh.
"Jangan tertawa Ega, hal yang tak aku inginkan justru terjadi."
"Maaf bu Zean, selamat menikmati perjalanan anda." ejek Ega seraya meninggalkan Zean sebelum wanita itu memakinya.
__ADS_1
"Sialan." umpat Zean dalam hati. "Aku paling benci berada satu tempat dengan Teo, tapi sekarang bahkan aku harus satu mobil dengannya." pikirnya kesal.
Zean merapikan mejanya, ia segera keluar dari ruangannya menuju parkiran. Pria yang sangat ia benci sedang berdiri di samping mobilnya. Pria itu menyenderkan tubuhnya sambil menatap ponselnya.
"Pak Teo." sapa Zean.
Teo menatap Zean lalu membukakan pintu mobilnya. "Masuklah, kita bisa terlambat." ujarnya.
Zean masuk ke mobilnya dengan malas sambil menghela nafasnya. Ia duduk tepat di samping Teo.
"Santai saja Zean, aku tak akan menggigitmu." kata Teo.
"Ini bukan rencanamu kan?" tanya Zean.
Teo tertawa. "Jangan terlalu percaya diri, aku tak berniat makan malam denganmu jika bukan karena Inspektur Jenderal."
"Aku juga tak sudi." jawab Zean kasar.
"Kasar sekali pada atasanmu." ujar Teo.
"Bukankah anda yang memulainya." ejek Zean.
"Semakin kau marah, kau semakin terlihat cantik. Sayangnya aku harus menjaga jarak untuk sementara waktu."
"Seharusnya kau lakukan bukan untuk sementara waktu, tapi selamanya." kata Zean kesal.
Tawa Teo lepas. "Kau akan menyesal karena terus menolakku."
"Ciiihhh..." ujar Zean seraya memalingkan wajahnya ke jendela.
Tak ada perdebatan lagi diantara mereka sampai akhirnya keduanya sampai di sebuah restoran ternama di Jakarta tepat pukul 7 malam. Keduanya turun dari mobil dan masuk ke restoran itu. Zean terus mencari keberadaan anggota dewan yang ingin bertemu mereka.
"Kita lebih cepat datang, jangan kau pikir aku menipumu. Pak Bambang akan datang setengah jam lagi." ujar Teo.
"Apa aku mengatakan itu?" tanya Zean.
"Mulutmu memang tak mengatakannya, tapi matamu seolah olah mengatakan ini hanya alasanku saja. Aku tekankan sekali lagi, aku tak berniat makan malam denganmu." ejek Teo.
"Masa bodoh." jawab Zean.
Teo terkekeh melihat Zean yang semakin menggemaskan. Ia membawa Zean menuju meja yang sudah mereka pesan.
Setengah jam kemudian...
Zean terbelalak saat melihat Brian bersama wanita cantik masuk ke dalam ke restoran. Begitu juga dengan Brian, tatapannya justru sangat tajam dan dipenuhi amarah saat melihat seorang pria bersama Zean di sampingnya.
*****
Apa yang akan terjadi...???
Nantikan episode selanjutnya...
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1