Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Feeling Zean


__ADS_3

Setelah melakukan makan malam, keduanya duduk bersantai sambil menonton acara televisi. Brian dan Zean duduk bersebelahan, sesekali Zean bermanja-manja dengan merebahkan kepalanya di bahu Brian.


"Terima kasih Zee, makanannya sangat enak." ujar Brian.


"Kau mengejekku Bri, tak seenak masakan mamiku."


"Aku serius sayang, benar benar lezat. Aku beruntung memiliki kekasih sepertimu. Semuanya sempurna." kata Brian.


"Kesempurnaan hanya milik Tuhan sayang, aku masih banyak kekurangan. Sekali lagi selamat atas keberhasilan operasi pertamamu. Pasti sangat berat ya?" tanya Zean.


Brian menggeleng. "Aku tak menyangka, justru aku sangat percaya diri dan tenang melakukannya. Mungkin karena sebelum operasi, aku mendapat dukungan dari orang orang yang aku sayangi."


"Berapa orang?" tanya Zean.


Brian mengerutkan keningnya. "Apa maksud pertanyaanmu?"


Zean terkekeh. "Kau bilang orang orang yang kau sayangi, aku bertanya berapa orang?"


Brian menarik hidungnya lagi. "Tentu saja keluarga dan kau sayang."


"Bukankah dokter cantik itu masih mendekatimu, pasti ia juga..."


"Tidak termasuk..." potong Brian.


Zean melepas tawanya, wanita itu sangat senang menggoda kekasihnya.


Brian meneruskan ucapannya setelah Zean berhenti tertawa. "Zee, kebetulan kau membahas wanita itu. Aku ingin membicarakannya, kau masih ingat kan saat aku bersalah meninggalkannya di restoran. Aku meminta maaf padanya, tapi aku harus mengganti waktu itu dengan makan malam yang lain."


"Lalu?" tanya Zean.


"Lalu...ehm...aku setuju...tapi..." jawab Brian ragu.


"Aku tak apa apa sayang, aku paham. Bagaimanapun kalian berteman, kau pasti merasa tidak enak karena malam itu. Aku yang harusnya minta maaf karena semua itu karenaku." ujar Zean menyesal.


Brian menggeleng, ia mengecup puncak kepala Zean. "Aku yang terlalu emosi saat itu, bukan salahmu Zee. Tapi kau pasti akan marah padaku, wanita itu mengajakku makan malam di apartemennya. Ia ingin memasak sendiri, dan aku harus mencicipinya." ujar Brian.


Zean terbelalak. "Apakah harus seperti itu?" tanyanya kesal.


"Itulah mengapa aku mengatakannya padamu Zee, ini tidak pantas tapi aku terlanjur janji padanya. Tapi kau jangan salah paham dulu, sebelumnya aku tak tahu saat setuju makan malam dengannya. Saat itu ia bilang di rumahnya, aku pikir ia tinggal bersama keluarganya. Tapi ternyata..."


"Itu lebih tidak pantas lagi." potong Zean. "Jika ada keluarganya, kau seperti ingin dikenalkan kepada mereka." sambungnya.


Brian menggenggam tangannya. "Jika kau tidak setuju, aku akan membatalkannya. Jangan marah sayang, aku tak suka melihat wajahmu seperti ini."


Zean menghela nafasnya. "Apa ini yang terakhir?" tanyanya.

__ADS_1


Brian mengangguk. "Aku harus mengakhirinya, jika sudah aku tepati kali ini, aku janji tidak akan pernah makan berdua lagi dengannya."


"Baiklah, aku pegang janjimu. Setelah makan malam, kau tak boleh berlama-lama disana, segeralah pulang ke rumah Bri." ujar Zean.


"Tentu saja, untuk apa aku berlama-lama disana."


"Dimana apartemennya?" tanya Zean.


Brian menggelengkan kepalanya. "Aku belum tahu sayang, besok ia akan mengirimkan alamatnya."


"Kabari aku, dan kirim alamatnya juga padaku. Setidaknya aku tahu dimana kau berada besok malam."


Brian mengangguk. "Bagaimana jika kau ikut saja? Mungkin Aralyne tak akan keberatan."


"Kau menyebut namanya lagi. Aku tak mau ikut." jawab Zean kesal.


"Ups aku lupa sayang, maaf. Kau yakin tak mau menemaniku."


"Aku percaya padamu Bri. Baiklah pak dokter, sudah cukup malam ini, bisakah anda mengantarkanku pulang?" pinta Zean.


"Bisakah kau bermalam disini?" tanya Brian.


"Tidak, aku tak mau mengundang jiwa mesummu." ejek Zean.


Brian tertawa, ia menggelitik Zean hingga wanita itu terkekeh geli. Canda tawa mereka membuat bu Juma tersenyum senang melihatnya. Setelah itu, Brian mengantarkan Zean kembali ke apartemennya.


*****


"Kau yakin bisa melakukan itu dengan baik?" tanya Teo.


"Itu sangat mudah, tapi apa Brian akan percaya jika melakukannya denganku saat ia tak sadarkan diri?" tanya Aralyne.


Teo tertawa. "Kau akan membuatnya pingsan? Aku tidak menyuruhmu melakukan hal itu dokter, anda pasti lebih paham."


"Aku hanya memiliki obat penenang bukan obat perangsang. Dan ya Tuhan pak polisi, aku bukan wanita seperti itu." ujar Aralyne.


"Aku tak perduli kau wanita seperti apa, jika kau ingin ini berhasil maka lakukan apa yang aku pinta." jawab Teo.


"Mengapa kau memerintahku, aku bukan bawahanmu. Kau lakukan saja sendiri pada wanita itu." kata Aralyne kesal.


"Kita sudah sepakat akan melakukan ini, jika kau tidak berhasil maka aku yang akan melakukannya. Dengar dokter Aralyne, aku bukan menganggapmu bawahanku tapi kau rekanku sekarang. Tapi terserah padamu, aku tak akan memaksa. Ini kesempatan terbaik buatmu."


Aralyne berpikir dengan keras. "Kau akan melindungiku secara hukum kan?" tanyanya.


Teo tertawa lagi. "Tentu saja, kau jangan khawatir. Itulah mengapa aku yang memintamu melakukan ini terlebih dahulu, karena akulah yang akan melindungimu secara hukum."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi aku akan tetap menggunakan obat penenang, itu sudah cukup untuk menjebaknya." jawab Aralyne seraya menutup ponselnya.


Aralyne menghela nafasnya dalam dalam, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan cinta pertamanya. Ia tidak perduli lagi akan merusak reputasinya sendiri sebagai seorang dokter.


*****


Di lain sisi, menjadi seorang polisi membuat Zean lebih waspada dan memiliki feeling yang sangat kuat. Setelah pembicaraannya bersama Brian semalam, ia memiliki firasat buruk soal makan malam kekasihnya nanti.


Zean tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja, Brian sudah mengirimkan alamat apartemen dokter itu padanya. Tapi ia semakin yakin ada yang salah dengan makan malam itu.


"Wanita itu sangat memaksa Brian untuk makan malam berdua di apartemennya, wanita lajang mana yang akan melakukan hal itu jika tak memiliki maksud tertentu. Perasaanku semakin buruk soal ini. Apakah aku harus mengikuti Brian? Tidak, tidak... Jika aku melakukan hal ini maka aku tak percaya pada kekasihku sendiri. Tapi, perasaanku benar benar tidak enak. Bri, aku harap kau bisa menjaga dirimu sendiri." pikir Zean.


"Bu, bu Zean... Bu..." panggil Ega.


Zean terkejut karena ia sejak tadi melamun.


"Maaf Ega, aku sedang kurang sehat." kata Zean.


"Aku bisa melihatnya, sejak tadi anda melamun dan wajah anda terlihat pucat. Apakah anda perlu obat?" tanya Ega.


Zean menggeleng. "Tidak perlu, aku hanya lelah saja setelah apel tadi. Ada apa Ega?"


Ega menyerahkan dokumen. "Ini berkas izin penggerebekan yang perlu anda tanda tangani. Lokasi berbeda, tapi kami yang harus tetap melakukannya."


Zean mengangguk, ia membuka berkas itu lalu menandatanganinya. "Kapan akan ke lokasi?"


"Team pengintai sudah ada di daerah tersebut, tapi belum ada informasi selanjutnya. Pak inspektur berpesan seperti biasa untuk tidak membawa anda ke lapangan." jawab Ega.


Zean mengumpat dalam hati. "Aku ingin sekali ikut kalian, aku akan menemui komisaris walaupun itu tidak mungkin, tapi aku akan mencobanya."


"Aku harap bu Zean tetap mengikuti peraturan, kami bisa menangani ini. Percayalah kepada kami bu." pinta Ega.


Zean menatap wajah Ega. "Aku seperti bukan atasan yang bertanggung jawab atas kalian. Aku duduk manis, sementara kalian selalu menghadapi kematian setiap saat."


Ega menggeleng. "Ibu sangat bertanggung jawab, kami menyukai anda bu. Tugas tetap tugas, jika anda tidak ditugaskan ke lapangan, maka kami mewakili anda. Seperti itulah sebuah team."


"Kau menghiburku Ega, laporkan apapun dari lapangan padaku. Kau boleh kembali." perintah Zean.


"Siap laksanakan." jawab Ega seraya pamit.


Zean menghempaskan tubuhnya ke kursi lagi, ia memejamkan matanya. Pikirannya masih tetap sama yaitu Brian.


*****


Akankah Aralyne dan Teo berhasil menjebak Brian?

__ADS_1


Tunggu Episode selanjutnya...


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2