
Ponsel Zean terus berbunyi, padahal ia masih menggosok giginya. Zean segera keluar dari kamar mandi.
"Halo Bri..." jawab Zean.
"Ya Tuhan, kau membuatku khawatir Zee. Mengapa lama sekali mengangkat panggilanku?" tanya Brian.
"Maafkan aku Bri, aku di kamar mandi setelah menghubungi keluargaku." ujar Zean.
"Aku hanya takut pria itu mendatangimu dan menculikmu sayang." kata Brian.
"Teo seorang polisi Bri, mana mungkin ia menculikku. Kau sudah sampai?" tanya Zean.
"Aku menghubungimu karena sudah sampai sayang, bagaimana kabar keluargamu?" tanya Brian.
"Sangat baik, tapi benar dugaan ayahmu, kedua orang tuaku tak mau tinggal di Amerika. Dan satu hal lagi yang membuat mereka mungkin sampai sekarang masih terguncang. Aku mengatakan kita sudah jadian." jawab Zean.
"Kau sudah mengatakannya, bukankah kau bilang belum siap?" ujar Brian.
"Aku tadi sudah mengatakannya padamu akan mengatakannya pada keluargaku." kata Zean.
"Apa mereka baik baik saja. Ehm... maksudku apa mereka setuju tentang hubungan kita?"
Zean tertawa. "Kau sangat lucu pak dokter, tebaklah sendiri, apakah menurutmu mereka akan menolak?"
"Jangan membuatku penasaran Zee, aku tak tahu. Mungkin mereka berubah pikiran atau bagaimana." jawab Brian.
"Dasar dokter gila, mereka menginginkan kita bersama. Mana mungkin mereka menolak. Aku belum sempat mendengar pendapat mereka, karena aku langsung menutup panggilannya. Tapi aku yakin mereka tentu akan mendukung hubungan kita. Bahkan sebelum aku memberitahukan kak JiJo, keduanya berharap aku bersamamu." kata Zean.
Brian bernafas lega. "Syukurlah, aku harap keluargamu mendukung hubungan kita, aku tahu mereka tak pernah membenciku tapi saat itu kita masih berteman."
"Seandainya mereka tak mendukung pun, aku akan berusaha agar hubungan kita disetujui. Bri, aku mencintaimu sejak dulu. Keluargaku sudah tahu perasaanku, hanya saja kita baru mengungkapkannya sekarang. Jadi jangan pernah berpikir macam macam." ujar Zean.
"Aku juga sangat mencintaimu Zee, aku hanya khawatir saja. Baiklah, aku percaya padamu sayang. Beristirahatlah, malam semakin larut. Besok kau mulai bekerja. Kau tak perlu mengantar ayahku jika memang sibuk." kata Brian.
"Akan aku usahakan untuk mengantar om Jack, aku tak ingin ayahmu kecewa karena aku tak datang." jawab Zean.
"Terima kasih sayang, aku juga mempercepat pekerjaanku. Aku tak ingin berlama-lama di rumah."
"Beristirahatlah secukupnya Bri, kau tak perlu terburu-buru bekerja." kata Zean.
"Aku sudah cukup beristirahat sayang, tutup ponselnya." perintah Brian.
"Aku masih ingin berbicara denganmu." jawab Zean.
__ADS_1
"No honey, you need rest. Aku tak mau kau kelelahan, kita baru sampai kemarin malam." kata Brian.
"Baiklah, aku akan tidur sekarang. Bye Bri..."
"Bye Zee..."
Zean menutup ponselnya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, menarik selimutnya lalu akhirnya tertidur.
*****
Alarm berbunyi sangat memekakan telinga Zean, ia mengambil jam wekernya lalu menatapnya.
"Sepertinya aku baru saja tidur tapi ternyata sudah pagi." gumamnya seraya membuka selimutnya lalu turun dari ranjangnya.
Zean segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu segera bersiap-siap menuju Polda Metro Jaya. Sebelum sampai ke kantornya, ia terlebih dahulu berhenti di sebuah restoran untuk sarapan. Zean menatap layar ponselnya, Brian belum menghubunginya.
"Dokter yang malas, pasti ia belum bangun." gumam Zean sambil menikmati sarapannya.
Cuaca yang sangat cerah, ia menatap hiruk-pikuk keramaian kota Jakarta. Kemacetan mulai terlihat di sepanjang jalan.
"Aku sudah berangkat pagi saja, sudah sangat macet. Bagaimana jika aku kesiangan." gumamnya lagi.
Zean segera menyelesaikan sarapannya, ia takut akan terlambat di hari pertamanya bekerja setelah cuti. Zean akhirnya sampai di kantornya, ia menepikan mobilnya di tempat parkir.
"Selamat pagi, terima kasih Ega." jawab Zean.
"Ada kejutan untuk anda di dalam kantor." kata Ega.
"Singkirkan itu jika dari Inspektur Teo." kata Zean.
"Siap bu, bukan dari pak Inspektur." jawab Ega tegas.
Zean tertawa. "Jangan terlalu formalitas denganku jika kita berdua saja."
"Siap bu, tak berani." jawab Ega.
Zean menghela nafasnya, tibalah ia di kantornya. Dan ta...da... ruangannya dipenuhi banyak bunga dan ucapan selamat datang kembali. Semuanya dipersiapkan oleh anak buahnya. Zean sungguh terkejut mendapat sambutan itu, padahal ia cuti tak terlalu lama.
"Ya Tuhan, terima kasih banyak. Ini sangat indah, apa kalian merindukanku?" tanya Zean.
"Siap bu, benar." jawab mereka bersamaan.
Zean tersenyum. "Sekali lagi terima kasih sambutannya, kembalilah bekerja jangan sampai pak inspektur tahu tentang ini."
__ADS_1
"Siap bu, kami sudah mendapat izin untuk melakukannya." jawab Ega.
"Benarkah, kalian perhatian sekali. Terima kasih. Kembalilah bekerja." perintah Zean.
"Siap bu laksanakan..." jawab mereka semua.
Zean memang baru menjabat sebagai brigadir polisi, tapi pesonanya mampu membuat siapapun terkejut. Wanita itu adalah salah satu polisi tercantik di Polda Metro Jaya. Banyak sekali yang mengejarnya termasuk Teo, pria yang pernah melamarnya di Poltabes Bandar Lampung. Dan anehnya, pria itu dipindahtugaskan juga ke Jakarta.
Dari awal pelantikan hingga sekarang, Teo masih juga mengganggunya. Hampir seluruh anggota kepolisian tahu perasaan Teo pada Zean, dan mereka juga tahu jika Zean sudah menolak pria itu. Pekerjaan yang sangat sibuk mulai memenuhi waktunya, sekali sekali Zean menatap jam tangannya. Ia tak mau membuat kecewa dokter Jack, tapi pekerjaannya masih juga belum selesai.
Ponselnya sejak tadi berbunyi, ia tahu itu pasti Brian. Tapi ia sama sekali tak sempat menerima panggilan maupun membalas pesannya.
"Bu Zean, anda dipanggil pak inspektur." ujar Ega.
Zean mengangguk, ia meninggalkan pekerjaannya menuju ruang inspektur. Malas sekali ia bertemu dengan Teo, tapi ini masalah pekerjaan. Bagaimanapun ia harus profesional. Sepanjang lorong menuju ruang Inspektur, ia terus mendapat sapaan dari anggota yang lain. Hingga akhirnya ia sampai di ruangan Teo.
Zean mengetuk pintu dan berusaha seformal mungkin pada Teo. Pria itu tersenyum sambil menatapnya penuh cinta.
"Duduklah Zean, lepaskan sikap formal itu saat berdua saja denganku." ujar Teo.
"Ada apa pak Teo?" tanya Zean sambil duduk di depan Teo.
"Maaf soal kemarin Zean, aku terbawa emosi. Aku tak seperti itu, kau tahu aku sejak masih bertugas di Lampung. Tapi Zean..."
"Maaf pak inspektur, aku masih banyak pekerjaan. Jika tak ada hal yang penting, aku lebih baik kembali." potong Zean.
"Zean, siapa pria itu?" tanya Teo.
"Apa yang ingin anda ketahui pak? Bukankah kami sudah memberitahu anda." jawab Zean.
"Aku tak akan menyerah Zean, aku akan buktikan padamu jika aku lebih baik darinya." kata Teo.
"Terima kasih pak, aku akan kembali sekarang. Oh ya pak, aku minta izin sebentar untuk ke bandara." ujar Zean seraya meninggalkan Teo.
Zean terus mengumpat, ia pikir Teo akan membicarakan soal pekerjaan. Tapi pria itu sangat tidak profesional, ia masih saja membahas masalah pribadi di jam kerja. Anak buah Zean tak ada satupun yang berani bertanya padanya, mereka tahu apa yang terjadi pada Zean dan Inspektur.
"Ega, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Aku ingin keluar sebentar, aku sudah izin pada pak Inspektur." ujar Zean.
"Siap bu, hati hati." jawab Ega.
Zean hanya mengangguk dan meninggalkan Polda menuju rumah Brian.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘