
Satu minggu setelah kejadian itu, Aralyne terus menghubungi Brian, bahkan wanita itu sering datang ke ruangan Brian tapi Brian selalu menolak menemuinya. Begitu juga dengan Teo, sejak kejadian ciuman itu mereka tak pernah saling berhubungan maupun bertemu.
Brian dan Zean saling sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Keduanya jarang sekali bertemu, mereka hanya berhubungan lewat telepon.
Aralyne menjalani pekerjaannya sebagai dokter anak dengan perasaan bersalah yang terus menghantuinya. Saat ini ia sedang berada di kantin rumah sakit. Ia berharap bisa bertemu dengan Brian disana. Harapannya ternyata terkabul, pria itu datang ke kantin bersama dokter bedah yang lain.
Aralyne menghela nafasnya, ia harus memberanikan diri untuk menemui Brian. Wanita itu berdiri, langkah kakinya yang pelan mulai menghampiri Brian.
"Dokter Brian, bisakah kita bicara sebentar." pinta Aralyne setelah sampai di meja pria itu.
Brian terkejut mendengar suara wanita yang tidak ingin ia temui sama sekali. Pria itu mendongak dan menatap wajah Aralyne yang penuh harap. "Maaf bu dokter, aku sedang menikmati makan siang bersama rekanku." tolaknya.
"Aku mohon, hanya sebentar saja." Aralyne kembali memelas.
Pandangan dokter bedah yang lain penuh tanya, mereka terkejut melihat sikap dingin Brian pada dokter yang sering mengunjunginya. Bahkan mereka tahu jika Aralyne adalah teman kuliah Brian selama di Inggris. Brian menyadari tatapan teman temannya, ia akhirnya mengangguk dan berdiri dari duduknya.
Aralyne tersenyum pada semuanya, ia menganggukkan kepalanya untuk membawa Brian sebentar ke tempat yang lebih privasi. Brian mengikuti wanita itu dengan enggan.
Setelah mereka cukup memiliki ruang privasi, Brian mulai pembicaraan itu.
"Sepertinya tak ada lagi yang harus kita bicarakan." ujar Brian dingin.
"Brian, aku mohon maafkan aku. Aku tahu semua ini salah, aku sangat menyukaimu Brian." jawab Aralyne.
Pengakuan Aralyne membuat Brian terkejut, wanita itu akhirnya mengakui perasaannya pada Brian.
"Seharusnya aku tak melakukan itu, seharusnya aku tak menjebakmu. Aku sangat menyesal, tolong maafkan aku." kata Aralyne lagi.
"Kau seorang dokter yang tak memiliki etika." jawab Brian kasar. "Jika kau berhasil menjebakku, apa kau akan meminta maaf seperti ini. Apa menyukaiku harus melakukan hal sejauh ini Aralyne? Kau aku anggap teman baikku, aku tak menyangka kau memiliki pemikiran kotor seperti itu." bentaknya.
Air mata Aralyne tumpah, ia sangat menyesali perbuatannya. "Aku dibutakan, aku menuruti permintaan pak Teo."
Pengakuan Aralyne membuat Brian kembali terkejut, ternyata semua ini perbuatan Teo.
"Aku tak bisa memaafkanmu, dan aku juga tak ingin bertemu lagi denganmu. Anggap saja kita tak pernah kenal satu sama lain." kata Brian seraya meninggalkan Aralyne.
Tangisan Aralyne semakin keras, tapi Brian tak memperdulikannya. Ia sudah berjanji pada Zean untuk tidak berhubungan dengan wanita itu. Walaupun pengakuan Aralyne mengejutkannya, tapi tetap saja wanita itu mengikuti perbuatan kotor untuk menghalalkan segala cara.
__ADS_1
Brian kembali ke kantin dan menemui rekan rekannya. Ia menutupi wajah kesalnya dengan tersenyum kepada mereka, tapi mereka sangat ingin tahu.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter Ricky.
"Tidak ada, hanya bicara sedikit." jawab Brian.
"Anda selalu menolak bertemu dengannya dok." kata dokter Mei.
"Karena aku tak ingin." jawab Brian datar.
"Sepertinya ada masalah serius diantara kalian, karena seingatku kau berteman baik dengan dokter cantik itu." ucap dokter Ricky.
Brian mengangkat kedua bahunya, ia tak ingin menjawab keingintahuan rekannya. Mereka semua menggeleng, karena seberapa keras pun, mereka tak mungkin tahu urusan pribadi Brian. Mereka melupakan pembicaraan itu dengan membicarakan hal lain sambil menikmati makan siang mereka.
*****
Inspektur Teo selama satu minggu penuh terus berada dalam mood yang buruk, ia terus membentak dan menghukum anak buahnya saat melakukan kesalahan kecil. Pria itu merasa terganggu saat mengingat ciumannya dengan dokter Aralyne.
Setelah kejadian itu, ia sama sekali tak menghubungi Aralyne karena ia tak tahu harus bicara seperti apa pada wanita itu. Bahkan ia sama sekali tak memikirkan Zean, wanita yang ia cintai selama ini. Pikirannya benar benar penuh dengan wajah Aralyne.
"Aku bisa gila, apa yang terjadi di kepalaku ini. Seharusnya aku bisa melupakan kejadian itu, aku sudah sering mencium wanita di bar." gumamnya kesal. "Dan mengapa wanita itu sama sekali tak menghubungiku." sambungnya.
Keyakinan Teo akan hal itu membuatnya memiliki ego semakin tinggi, ia tak suka ditolak itulah mengapa ia terus mengganggu Zean. Dan untuk kedua kalinya, ia ditolak seorang wanita dan wanita itu adalah seorang dokter yang baru ia temui.
Teo mengumpat, ia keluar dari ruang kerjanya lalu mengunjungi ruang kerja Zean. Kedatangan Teo membuat anak buah Zean terkejut.
"Siang pak." sapa semuanya.
Teo hanya mengangguk, ia langsung menuju ruangan Zean tanpa mengetuk pintunya.
"Sepertinya kau sangat sibuk." ujar Teo pada Zean.
Zean menyapanya lalu menjawab. "Seperti biasa anda masuk tanpa mengetuk."
"Aku tak memerlukan itu untuk mengunjungi bawahanku."
"Setidaknya bersikap sopan sebagai atasan." jawab Zean.
__ADS_1
"Kau masih tetap sama Zean, kasar tapi menggemaskan." goda Teo.
"Ada perlu apa pak Teo, sepertinya aku sudah menyelesaikan tugasku hari ini." tanya Zean.
"Hanya memastikan, beberapa hari ini kita jarang bertemu." kata Teo.
"Dan yang aku dengar, anda selalu menghukum anak buah anda selama beberapa hari ini." ejek Zean.
Teo tertawa. "Aku tak menyangka ternyata kau sangat memperhatikanku. Sepertinya kau menyesal telah menolakku berkali-kali, apa sekarang kau berubah pikiran?"
Zean mengumpat dalam hati, ingin sekali ia menendang pria itu keluar dari ruangannya. "Sama sekali tak ada pikiran tentang anda, tapi kabar di Polda cepat menyebar, dan aku memiliki telinga yang baik."
"Kasar dan pedas, selalu seperti itu. Ingin sekali aku menarik bibirmu itu." ejek Teo.
"Aku harap anda lebih sopan pak Teo, ini jam kerja dan ucapan anda termasuk pelecehan."
Teo kembali tertawa, saat membahas soal ciuman ia justru kembali mengingat wajah Aralyne. Teo mengumpat dalam hati, setelah berbicara dengan Zean pun ia justru masih mengingat wanita itu.
"Baiklah nona cantik, sepertinya sudah cukup aku menggodamu hari ini. Selamat melanjutkan pekerjaanmu." ujar Teo seraya meninggalkan ruangan Zean.
"Dasar pria gila, mengapa kau tak mau berhenti juga. Seharusnya kau masuk rumah sakit jiwa bukannya menjadi seorang inspektur. Ingin sekali aku membuatmu diberhentikan dari anggota kepolisian." gumam Zean setelah Teo menghilang.
Ega mengetuk pintu dan masuk menemui Zean. "Bu Zean, apa pak Teo mengganggu anda lagi?" tanyanya.
"Kau datang kemari hanya ingin tahu soal itu?" tanya Zean.
"Tentu tidak bu, itu hanya tambahan." jawab Ega seraya menyerahkan dokumen kepada Zean.
Zean tertawa. "Lebih tepatnya, pria itu semakin gila Ega. Aku harap hanya ada satu pria di dunia ini yang seperti itu."
Ega terkekeh mendengarnya, setelah dokumen selesai ditandatangani, wanita itu pamit keluar. Zean menghempaskan tubuhnya ke kursinya, ia menanti telepon dari Brian. Tetapi sampai saat ini, kekasihnya belum juga menghubunginya.
Zean sangat merindukan Brian, sudah beberapa hari mereka sama sekali belum bertemu. Keduanya selalu pulang larut malam hingga tak bisa bertemu, memang beberapa kali Brian memintanya untuk menginap di rumah pria itu. Tetapi Zean menolak, karena akhir akhir ini, mereka selalu nyaris melewati batas setiap kali berciuman.
Zean memejamkan matanya sejenak, dering ponselnya berbunyi. Ia menatap layar ponsel, ternyata panggilan dari luar negeri. Tentu saja kakaknya lah yang menghubunginya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘