Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Kelembutan Brian


__ADS_3

Brian membawa Zean ke dalam mobilnya. Ia kembali memeluk kekasihnya yang masih ketakutan.


"Aku hampir ingin mengambil pistolku." ujar Zean.


"Aku akan mendukungmu untuk membunuhnya." kata Brian kesal. "Pria itu pantas mati ditanganmu Zee." sambungnya.


"Kau jangan membuatku semakin takut Bri, aku benar benar nyaris membunuhnya jika kau tak datang." jawab Zean.


Brian mengeratkan pelukannya. "Maaf sayang, aku tak bisa menahan emosiku."


"Tapi bagaimana kau bisa masuk?" tanya Zean.


"Tentu saja dengan melewati pintu depan." godanya.


"Aku serius Bri, tak ada orang lain yang bisa masuk tanpa izin." ujar Zean.


Brian tersenyum. "Aku masuk dengan izin penjaga sayang, aku menunjukkan kartu identitasku, aku menunjukkan identitas dokter, aku bilang tunanganmu dan aku menggunakan nama ayahmu."


Zean terbelalak. "Kau gila."


"Aku memang gila, aku penasaran dengan siapa kau bekerja sampai larut malam, aku penasaran dimana kantormu. Dan aku memiliki firasat buruk, itulah mengapa aku segera masuk. Mereka menahanku sangat lama di pos, tapi setelah aku menyebut nama Tora Sin, seketika wajah mereka berubah dan mengizinkanku masuk. Aku beruntung memiliki calon mertua seterkenal itu." goda Brian lagi.


"Calon mertua, apa aku sudah setuju?" tanya Zean.


Seketika Brian menekuk wajahnya membuat Zean tertawa geli.


"Akhirnya aku berhasil membuatmu tertawa sayang." goda Brian.


"Bri..."


Brian tertawa seraya menghidupkan starter mobilnya. Ia segera membawa Zean ke sebuah restoran, ia tahu kekasihnya belum makan malam.


"Apa kau yakin akan baik baik saja setelah memukul Teo?" tanya Zean dalam perjalanan.


"Ia pria pengecut, aku yakin tak akan berani memperpanjang masalah ini. Tapi aku lah yang akan membuat laporan." jawab Brian. Melihat ekspresi wajah Zean, cepat cepat Brian menambahkan. "Jangan melarangku, pria itu sudah keterlaluan."


"Tapi..."


"Apa aku harus membuat ayahmu segera kemari?" tanya Brian.


"Mengapa kau bawa ayahku. Aku justru takut mereka tahu." jawab Zean.


"Mereka harus tahu Zee, kau putri kesayangan mereka. Kau terancam, aku tak bisa bersamamu 24 jam penuh. Setidaknya buat pria sinting itu dipecat." ujar Brian.


"Itu akan membuatnya semakin mendendam Bri, aku tak ingin melibatkanmu dalam masalah ini." kata Zean.


Brian tertawa dengan keras. "Ya Tuhan sayang, aku sudah terlibat sejak ia memukulku di apartemenmu. Itu tidak bisa dihindari Zee, kita harus memberinya pelajaran. Dan masalahmu sekarang adalah masalahku."

__ADS_1


"Beri ia kesempatan sekali lagi, aku mohon." pinta Zean. Ia benar benar takut akan mengalami hal yang sama seperti orang tuanya dulu.


"Tidak... Tidak ada lagi kesempatan buat pria itu untuk menyakitimu lagi." jawab Brian.


Mereka ingin kembali berdebat jika saja belum sampai di restoran.


"Hentikan untuk saat ini, kau harus makan." ujar Brian seraya turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Zean.


"Aku tak memiliki nafsu makan." kata Zean.


"Aku akan menyeretmu, aku tak perduli dengan tatapan orang lain." ancam Brian.


Dengan kesal Zean turun dari mobilnya, dan terpaksa mengikuti Brian masuk ke dalam restoran. Brian memesan makanan untuk Zean tanpa bertanya lebih dulu, ia sangat tahu makanan kesukaan Zean.


Setelah meja dipenuhi makanan, Brian segera menyuruh Zean makan. "Makanlah, ini semua makanan kesukaanmu."


Zean terus menatap meja itu. "Jika saja aku tak banyak pikiran, mungkin aku mampu menghabiskan semua ini."


Brian menarik tangan Zean dan mengelus punggung tangannya. "Lupakan sejenak masalah ini sayang, aku tak ingin kau sakit."


"Bagaimana aku bisa melupakannya, aku sudah membawamu ke dalam masalah ini. Bagaimana jika Teo..."


"Jangan sebut nama itu." potong Brian. "Aku sangat muak mendengarnya Zee, bisakah kita membicarakan hal lain." sambungnya.


"Kau terlalu santai Bri." jawab Zean.


Zean mengangguk dan mulai mengangkat sendok dan garpunya untuk memakan steak kesukaannya. Brian bisa tersenyum melihat Zean yang bisa melahap makanan itu dan akhirnya ia ikut makan juga walaupun ia masih kenyang.


Setelah keduanya selesai makan, Brian langsung mengantarkan Zean ke apartemennya. Keduanya sama sekali tak membahas masalah Teo lebih lanjut. Bahkan setelah sampai di apartemen, ternyata Zean tertidur dengan lelapnya seperti anak kucing. Brian terus menatap wajah lelah itu.


"Kau sangat cantik Zee, aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Kau milikku, tak ada satupun yang boleh menyentuhmu." gumam Brian.


Brian turun dari mobilnya, ia tak ingin membangunkan kekasihnya. Brian mengangkat tubuh Zean dan membawanya ke dalam apartemen. Wanita itu benar benar kelelahan, ia sama sekali bergeming. Dengan susah payah Brian berhasil menemukan kartu pintu apartemennya di dalam tas Zean.


Brian berhasil menurunkan Zean ke ranjang, dengan pelan ia membuka sepatu Zean lalu menyelimutinya.


"Aku tak bisa mengganti seragammu, bisa bisa besok kau menembakku." gumam Brian sambil terkekeh.


Brian mengambil kunci mobil Zean di dalam sakunya dan meletakkannya di atas meja. Ternyata Brian sudah mengantarkan mobil Zean ke apartemen. Brian mengambil note book dan menulis pesan pada Zean.


Sekali lagi Brian menatap wajah cantik yang lelah itu. Ia mengecup kening Zean dengan lembut. "Selamat beristirahat sayang." bisiknya.


Brian keluar dari apartemen Zean dan kembali ke rumahnya.


*****


Keesokan harinya, Zean terbangun. Ia menatap sinar matahari yang mulai masuk ke dalam kamarnya. Zean baru tersadar setelah ia melihat seragamnya yang masih melekat di tubuhnya. Seketika ia terduduk dan menatap sekeliling apartemennya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku tertidur. Bagaimana aku bisa sampai disini." gumamnya.


Ia menemukan secarik kertas di atas meja dekat ranjangnya.


"Selamat pagi sayang, kau tertidur sangat lelap. Maaf aku menyeretmu ke dalam apartemen, kau bahkan masih bergeming. Mobilmu ada di parkiran apartemen, aku tak bisa mengantarmu bekerja karena aku hari ini mulai bekerja di rumah sakit. Jangan lupa sarapan kucing imut".


... Tersayang BRIAN....


"Dasar pria usil, apa kau tega menyeretku. Bagaimana kau mengantarkan mobilku kemari, dan kucing imut, oh ya ampun." gumam Zean sambil tertawa.


Zean mengambil ponselnya dan segera menghubungi Brian. Cukup lama Zean menunggu dan akhirnya Brian mengangkat ponselnya. Suara bariton bermalas-malasan terdengar dibalik ponsel itu.


"Apa kau belum bangun tuan tidur?" tanya Zean.


"Kau terlalu pagi membangunkan aku sayang." jawab Brian.


"Ini sudah jam 6 pagi tuan." kata Zean.


"Aku masih punya waktu satu jam lagi." ujar Brian malas.


"Baiklah, lanjutkan tidurmu. Terima kasih untuk semalam dan mobilku."


"Apa tubuhmu tak sakit, semalam aku menyeretmu seperti..."


"Bri..." potong Zean. "Aku tak percaya kau menyeretku, jika benar aku akan membunuhmu." sambungnya.


Akhirnya terdengar suara tawa Brian dibalik telepon itu. "Aku benar benar bangun sekarang, kau bersiap siaplah nanti terlambat. Maaf aku tak bisa mengantarmu." ujar Brian.


"Bagaimana mobilku bisa sampai sini?" tanya Zean.


"Sepertinya mobilmu jalan sendiri mencari majikannya." goda Brian.


"Kau benar benar pria usil."


Kembali terdengar suara tawa Brian. "Maaf sayang, aku kemarin siang mengantarkannya dan aku kembali ke rumah dengan taksi."


"Maaf aku merepotkanmu. Lalu kenapa kau bekerja hari ini?" tanya Zean lagi.


"Jangan terus mengatakan maaf dan terima kasih padaku Zee, kau kekasihku. Dan aku mulai bekerja karena malu, kekasihku sudah bekerja. Aku tak mungkin terus menjadi pengangguran. Sudah jangan bertanya lagi, nanti kau terlambat. Dan berhati hatilah terhadap pria sinting itu." jawab Brian.


"Aku mencintaimu." ujar Zean seraya menutup ponselnya sebelum Brian menjawabnya.


Brian menatap ponselnya lalu tersenyum. "Kau sungguh pemalu sayang." gumamnya.


Keduanya sama sama bersiap siap dan mulai bekerja di tempat masing masing.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2