Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Hinaan Brian


__ADS_3

Zean memejamkan matanya sejenak, dering ponselnya berbunyi. Ia menatap layar ponsel, ternyata panggilan dari luar negeri. Tentu saja kakaknya lah yang menghubunginya. Zean mengangkatnya, disana langsung terdengar suara teriak kegembiraan Jidan Sin.


"Zean, aku akan menjadi seorang ayah..." ujar Jidan.


Zean terbelalak, ia sangat senang mendengar kabar itu. "Benarkah, selamat kak Ji. Dimana eonni?"


"Aku disini Zean, terima kasih." jawab Ae-Ri.


"Aku sangat bahagia sekarang, aku akan memberikan cucu untuk mami dan papi." sambung Jidan.


Kegembiraan itu terdengar sangat jelas dari suara kakaknya. "Apa kalian sudah menghubungi mami dan papi?" tanya Zean.


"Tentu saja. Dan mereka nyaris pingsan mendengarnya." jawab Jidan.


"Kau berlebihan sayang, mami dan papi tidak seperti itu." kata Ae-Ri.


Zean tertawa. "Selamat sekali lagi kak, eonni. Aku ikut senang akan memiliki keponakan pertama. Lalu kabar kak Jo dan eonni Aerum bagaimana?"


Mereka diam sejenak. "Kami belum menerima kabar apapun dari mereka. Setelah Aerum mendengar kabar bahagia ini, ia ikut senang tapi wajahnya terlihat sangat kecewa."


"Aku harap eonni Aerum tidak putus asa, ia pasti akan punya anak segera setelah kalian." ujar Zean.


"Aku tahu seperti apa sikap Aerum, adikku itu kurang sabaran. Kami akhir akhir ini jarang bertemu." kata Ae-Ri.


"Kak Ji, suruh eonni berhenti bekerja." pinta Zean.


"Tentu saja sayang, itu yang harus ia lakukan." jawab Jidan.


"Tidak, aku masih bisa bekerja." jawab Ae-Ri.


"Kita akan bicarakan ini nanti." sambung Jidan.


Keduanya mulai berdebat membuat Zean terkekeh geli. "Baiklah tuan dan nyonya Sin, aku masih bekerja. Selamat sekali lagi, dan nikmati perdebatan kalian."


"Maafkan kami sayang, jaga kesehatanmu. Dah..." ujar Jidan.


"Dah..." jawab Zean seraya menutup ponselnya.


Zean kembali melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari. Ia sering tersenyum setelah mendapat telepon dari kakaknya, mendengar kebahagiaan mereka membuatnya kembali bersemangat.

__ADS_1


*****


Brian sangat sibuk dengan pekerjaannya, ia kembali mendapat pasien baru yang akan menjalani operasi minggu depan. Seharusnya jadwal operasi berikutnya tiga minggu lagi, tapi tiba-tiba pasien VVIP baru datang dan menginginkan ia menjadi dokter bedahnya.


Sejak operasi pertamanya berhasil, reputasi Brian semakin bagus. Ia sangat terkenal diantara dokter bedah lainnya. Bahkan Brian berhasil membuat pasien pertamanya sembuh hanya dalam waktu satu minggu, pasien tersebut mungkin sedang melakukan perjalanan keluar negeri untuk menikahkan putrinya yang sedang hamil.


Brian belum menghubungi Zean sama sekali, padahal waktu semakin sore. Ia sangat ingin bertemu kekasihnya, ia tak sanggup lagi berbicara hanya di telepon. Bahkan Brian ingin mengatakan langsung soal kerja sama antara Teo dan Aralyne.


Berkali-kali Brian menatap ponselnya, ia sangat ragu untuk menghubungi kekasihnya di jam kerja. Ia menghubungi dokter Mei lewat telepon paralel.


"Adakah tugas yang mendesak malam ini? Aku ingin pulang lebih awal." tanya Brian.


"Tidak ada dok, hanya butuh tanda tangan anda di beberapa dokumen. Tapi dokumen itu belum sampai di tanganku." jawab dokter Mei.


"Bisakah ditunda sampai besok atau segera mempercepat dokumen itu." pinta Brian.


"Aku akan menghubungi bagian humas dok."


"Baiklah, segera kabari aku." perintah Brian seraya menutup telepon itu.


Setengah jam kemudian, dokter Mei mengetuk pintu ruangannya.


Dokter Mei masuk dengan beberapa dokumen ditangannya. Wanita itu menyerahkannya pada Brian.


"Ini dok, tapi masih ada beberapa yang belum selesai. Tapi bisa ditunda hingga besok pagi." kata dokter Mei.


Brian mengangguk dan menerima dokumen itu. Ia membacanya satu per satu lalu menandatanganinya.


"Aku ada urusan pribadi, jika ada yang mencariku bisa dialihkan di hari esok." ujar Brian seraya menyerahkan kembali dokumen itu pada dokter Mei.


"Baik dok, ehm dokter Brian apakah anda masih tak mau menemui dokter Aralyne?" tanya dokter Mei.


Brian menautkan alisnya. "Mengapa kau bertanya?"


"Satu jam yang lalu dokter Aralyne kemari, tapi anda sedang bersama keluarga pasien. Aku mengatakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk."


"Aku tak ingin lagi bertemu dengannya, jika ia terus kemari katakan apapun untuk menolaknya." jawab Brian.


Dokter Mei sangat ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi pada keduanya, padahal sebelumnya hubungan mereka sangat baik. Alih-alih bertanya, dokter Mei hanya mengangguk dan pamit keluar dari ruangan Brian.

__ADS_1


Brian membereskan mejanya dan mengganti pakaian, ia mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari rumah sakit. Baru sampai di pintu masuk rumah sakit, tak sengaja Brian dan Aralyne bertemu. Wanita itu tersenyum pada Brian, tapi sikap Brian sangat dingin. Ia menganggap Aralyne tak ada di depannya, Brian mengabaikan keberadaan Aralyne dan melewatinya begitu saja.


Aralyne tanpa malu mengejar pria itu sampai di parkiran. "Aku mohon tunggu Brian." ujarnya.


Brian menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Kita sudah selesai." jawabnya dingin.


"Jangan seperti ini, aku sangat tersiksa. Bukankah sebelumnya kita berteman, bisakah kita kembali seperti dulu lagi?" pinta Aralyne.


"Dengar dokter Aralyne, aku sudah menjelaskannya tadi siang. Aku ingin kita pura pura tak mengenal satu sama lain. Itu yang membuat kita nyaman sekarang. Mana mungkin kita bisa kembali berteman setelah apa yang telah kau rencanakan sebelumnya. Pergilah dari hadapanku sebelum aku melakukan yang lebih kasar dari ini." bentak Brian.


Aralyne kembali menangis. "Sungguh aku sangat menyesal." ujarnya sambil terisak. "Aku tak ingin kehilanganmu Brian, aku tak akan mengganggumu lagi tapi setidaknya jangan bersikap dingin padaku."


Brian sangat membenci air mata wanita, ia sebenarnya tak tega melihat wanita itu menangis. Tetapi pelajaran seperti inilah yang harus diterima Aralyne.


"Aku tak akan berubah pikiran walaupun kau menangis darah di depanku. Lupakan semuanya, kita tak ada hubungan apapun." kata Brian.


"Kau ternyata pria yang sangat kejam dan kasar tuan." ujar seorang pria yang datang tiba-tiba.


Pria itu adalah Teo. Brian menatapnya tajam, ia mengeratkan genggamannya menahan emosi. Ingin sekali Brian memukul pria itu hingga tersungkur, tapi ia tak ingin terpancing.


Brian tertawa. "Dua ular bersatu, tapi kau seperti ular berkepala dua, sangat licik. Kau meracuni wanita ini dengan ide kotormu, kau sama sekali tak pantas menjadi seorang polisi." ejeknya.


Teo ikut tertawa. "Ucapanmu sangat mengagumkan pak dokter, tapi aku tak terpengaruh oleh ucapanmu. Aku mungkin licik, tapi kau kejam. Bagaimana kau bisa memperlakukan temanmu seperti itu."


"Teman? Teman seperti apa yang mau menjebak temannya sendiri. Kalian berdua lebih baik bersatu, kalian sangat serasi dan cocok satu sama lain." ejek Brian lagi.


Aralyne menangis semakin keras, perkataan Brian sangat menusuk hatinya. Teo melihat Aralyne, ia naik darah mendengar penghinaan Brian yang membuat Aralyne semakin menangis. Pria itu mendekati Brian dan mencengkeram kerah bajunya. Brian hanya diam saja, ia sangat menunggu pukulan dari pria itu.


"Jika kau ingin menghinaku silahkan, tapi jangan kau hina Aralyne. Akulah yang bersalah, kau tak perlu menghakiminya." geram Teo.


Brian melepaskan tangan Teo. "Aku pikir kau akan memukulku, aku sangat menantikannya. Tapi kau hanya seorang pecundang."


"Hentikan, cukup..." teriak Aralyne. "Aku memang salah, aku terima hukuman darimu Brian. Dan kau pak polisi, aku harap kita tidak saling bertemu lagi." sambungnya seraya meninggalkan mereka.


Teo mengejar wanita itu, ia ingin sekali memastikan perasaannya. Sedangkan Brian segera masuk ke dalam mobilnya dan berangkat menuju Polda.


*****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2