Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)

Dokter Jodoh Polisi (Diakah Jodohku 3)
Kemesraan Brian dan Zean


__ADS_3

Setelah keduanya selesai makan malam, Brian membawa Zean ke taman kota. Ia ingin berbicara lebih banyak dengan kekasihnya sambil menikmati keindahan kota Jakarta di malam hari. Seperti sudah diatur sedemikian rupa, ada sebuah kursi panjang yang masih kosong tepat di bawah cahaya bulan, disana juga jauh dari keramaian pengunjung. Keduanya duduk disana sambil menikmati malam itu.


Brian terus menatap wajah Zean hingga membuat wanita itu salah tingkah.


"Bagaimana rasanya mendapat tatapan cinta seperti ini?" goda Brian.


"Jadi kau membalaskan dendam mu padaku." jawab Zean.


Brian tertawa. "Tidak, aku benar benar ingin menatapmu seperti ini. Selama beberapa hari aku sangat tersiksa karena tak bisa bertemu denganmu sayang."


"Tak bisa dipungkiri, aku pun merasakan hal yang sama. Tapi begitulah adanya, pekerjaan kita sama sama sedang sibuk."


"Seharusnya aku bisa mengantar dan menjemputmu setiap hari Zee. Maafkan aku..."


"Kau kekasihku bukan supirku." potong Zean.


"Aku rela kau jadikan apapun Zee, aku hanya ingin terus bersamamu." jawab Brian.


"Aku selalu bersamamu Bri, kapanpun kau ingin bertemu kita bisa melakukannya, walaupun harus tengah malam."


"Dan menjadikanmu Cinderella yang berubah penampilan saat tengah malam." goda Brian.


"Sayangnya aku bukan Cinderella." jawab Zean.


Brian mengangguk. "Kau benar, kau adalah bidadari surga yang dititipkan Tuhan padaku."


"Kau mulai pintar menggombal pak dokter. Aku senang bisa berada disini bersamamu, menghabiskan malam panjang yang melelahkan. Apa saja yang kau lakukan di rumah sakit?" tanya Zean.


"Aku juga sangat senang bisa bersamamu malam ini, dan pekerjaanku di rumah sakit tentu saja mengobati yang sakit." jawab Brian.


Zean tertawa. "Aku seperti orang bodoh menanyakan hal itu."


Brian menggelengkan kepalanya. "Zean yang aku kenal bukan wanita yang bodoh, tapi ia adalah wanita yang cantik dan sangat cerdas."


"Sepertinya kau menginginkan sesuatu dariku, kau terus saja menggodaku."


"Aku hanya menginginkanmu sayang, tak ada hal lain yang aku pikirkan. Hanya saja aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuatmu terkejut." ujar Brian.


Zean menautkan kedua alisnya. "Katakan, jangan terus membuatku penasaran pak dokter."


Brian menggenggam tangan Zean. "Wanita itu bekerja sama dengan Teo."


Zean terbelalak mendengarnya. "Maksudmu, temanmu dan Teo bekerja sama untuk menjebakmu. Mereka sudah gila..."


"Dan aku hampir membunuh pria itu saat akan berangkat menemuimu di Polda." jawab Brian.

__ADS_1


"Apalagi maksudmu Bri?" tanya Zean penasaran.


"Aku bertemu dengannya di parkiran rumah sakit hari ini." jawab Brian. "Sebenarnya aku mulai menghindari wanita itu, saat aku akan berangkat ke Polda, aku tak sengaja bertemu dengannya. Aku berusaha menghindarinya, tapi wanita itu mengejarku sampai ke parkiran. Aku terus kasar dan mencaci maki wanita itu, disaat itulah Teo datang dan mulai memprovokasi ku. Untung saja aku sabar menghadapinya, jika tidak mungkin aku sudah menghajarnya." sambungnya.


Zean bernafas lega karena kekasihnya mampu mengendalikan diri. "Apa yang harus kita lakukan selanjutnya Bri?"


Brian menggelengkan kepalanya. "Entahlah sayang, aku sudah memberinya kesempatan berulang kali tapi tetap saja seperti itu."


"Apa aku harus mengatakannya pada kak JiJo? Tapi kak Ji sedang bahagia sekarang, aku tak ingin mengganggu kebahagiannya dengan masalah kita Bri." ujar Zean.


"Sedang bahagia, aku mungkin bisa menebaknya. Mereka akan menjadi orang tua kan?" tanya Brian.


Zean menganggukkan kepalanya. "Kau memang dokter tampan yang cerdas."


"Selamat untuk keluarga Sin." kata Brian.


"Terima kasih Bri, setidaknya aku akan menjadi seorang tante masa depan." jawab Zean.


"Heeeem... seharusnya kau mengatakan hal lain." ujar Brian.


"Hal lain seperti apa?" tanya Zean.


Brian mendekati telinga Zean. "Istri masa depanku."


Zean terkekeh geli. "Tentu saja, tapi kita sedang membicarakan kak Ji sekarang."


Zean menyenderkan kepalanya di bahu Brian. "Aku akan menjadi istri masa depanmu sayang, aku sudah berjanji akan hal itu."


Brian mengelus kepalanya dengan lembut. "Aku mencintaimu bu pol."


"Aku juga mencintaimu pak dokter." jawab Zean.


"Kau tahu Zee, aku ingin segera menikahimu karena takut kehilanganmu. Semakin lama aku semakin takut, apalagi setelah terus menerus diganggu oleh kedua orang itu. Rasanya aku ingin sekali menculikmu dan membawamu ke gereja."


"Apa kau tak takut dengan senjata pak Tora Sin?" goda Zean.


"Sayangnya, pak Tora Sin justru akan mendukungku." jawab Brian.


Zean tertawa. "Kau benar, mungkin ia akan memberikan tempat persembunyian untukmu. Pak Tora itu sangat menyukaimu pak dokter."


"Aku sangat beruntung, setidaknya aku dapat dukungan darinya." kata Brian.


Zean tertawa lagi. "Papi selalu menyuruhku bersamamu Bri, ia bahkan takut jika persahabatan kita tak bisa berubah menjadi hubungan kekasih."


"Mengapa kau tak mengatakannya sejak awal, jika aku tahu, mungkin aku tak akan menunggu sampai aku kembali ke Indonesia." kata Brian.

__ADS_1


"Itu tak akan mengubah apapun Bri, kau tahu aku tak suka menjalin hubungan jarak jauh seperti itu."


Brian mencubit pipinya. "Tapi itulah yang kita lakukan selama ini sayang.


"Sebagai sahabat bukan kekasih." potong Zean.


"Baiklah nona cantik, aku mengalah." ujar Brian seraya mengecup keningnya.


Zean terus menyenderkan kepalanya, mereka menikmati malam yang indah sampai larut malam sambil membicarakan masa depan mereka.


*****


Teo masih berada di apartemen Aralyne setelah ia menjemput wanita itu di rumah sakit. Pria itu seperti sedang mabuk cinta, ia tak pernah membiarkan matanya lepas untuk memandang wanita itu.


"Ini sudah larut malam, apa kau tak berniat pulang?" tanya Aralyne.


"Kau mengusir kekasihmu sendiri bu dokter." jawab Teo.


"Aku belum terbiasa bersama pria selama ini."


Teo tertawa sinis, ia mengingat bagaimana Aralyne mengundang Brian ke apartemennya.


"Aku mengenal Brian bertahun-tahun, tentu saja sangat berbeda." sambung Aralyne seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan Teo.


"Aku sekarang menyesali ideku, jika saja aku tahu menyukaimu dari awal mungkin aku tak akan membiarkan pria manapun menginjakkan kakinya di apartemenmu." kata Teo kesal.


"Bukankah kau menyuruhku melupakan semuanya, mengapa kau mulai membahas ini. Jangan terlalu over protective pak, hatiku belum sepenuhnya milikmu." jawab Aralyne.


Teo semakin kesal mendengarnya, ia berdiri dari duduknya. "Sepertinya aku akan sulit masuk ke dalam hatimu. Aku terlalu berharap banyak tentang hubungan ini. Selamat beristirahat..." ujarnya seraya melangkahkan kakinya ke pintu.


Aralyne mengejarnya. "Tunggu Teo."


Teo berhenti lalu kembali membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aralyne.


"Aku akan menunggumu, tapi jangan biarkan terlalu lama. Aku bisa berubah pikiran, aku tak ingin mengejar wanita selama bertahun-tahun lagi, itu akan melukai harga diriku kembali. Sudah cukup dengan bodohnya aku mengejar Zean." ujar Teo.


Aralyne mendekatinya. "Maafkan ucapanku, tapi sejujurnya aku masih belum bisa melupakan Brian. Aku tak tahu akan sampai kapan perasaan ini berubah padamu. Aku mohon bersabarlah."


Teo membalikkan tubuhnya lagi lalu meninggalkan Aralyne begitu saja tanpa kata apapun.


Sesampainya di parkiran, Teo masuk ke mobilnya, ia terus memukul stir mobilnya dengan kesal.


"Mengapa aku selalu kalah dengan pria bernama Brian itu. Zean dan Aralyne, keduanya menyukai pria yang sama. Apa kurangnya aku, aku memiliki jabatan yang lumayan dalam kepolisian. Aku juga tak kalah tampan dengan dokter itu." teriaknya. "Dan mengapa aku memiliki perasaan yang sama pada wanita yang menyukai Brian. Apa aku sudah gila hah." bentaknya sendiri.


Teo menghidupkan mobilnya, ia keluar dari kawasan apartemen menuju bar biasa tempatnya mabuk. Hanya alkohol yang bisa membuatnya melupakan semuanya.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2