
Rangga memasak sesuatu untuk Sherina yang sedang terbaring lemah di kamar karena sakit lambung, belum seutuhnya pulih pada saat itu.
Rangga memasak puding, sayuran, ikan dan buah-buah di atas meja. Pagi-pagi sekali sebelum ke kampus, Rangga sudah menyiapkan semua makanan.
Hari ini Sherina tidak bisa mengikuti pelajaran di kampus dan untuk sementara akan izin selama satu minggu. Karena Sherina harus pemulihan terlebih dahulu.
Rangga tidak mempersalahkan Sherina tidak masuk seminggu. Tetapi Sherina harus menjaga kesehatan terlebih dahulu dan jangan makan pedas dahulu.
"Sherina, Bapak sudah menyediakan buah-buahan, ikan berprotein, sayuran dan puding di atas meja. Jadi harap untuk di makan, supaya makan obat setelah kamu selesai makan." Rangga membereskan tasnya tersebut, memasukan buku-buku yang akan di bawa nya ke kampus.
"Saya tidak suka sayuran, buah dan puding Pak." Jawab Sherina makanan tersebut tidak di sukainya.
"Kalau makanan hanya sebatas tidak suka bagi kamu, bagaimana kamu mau sembuh sekarang? Lihatlah, banyak orang yang memaksa untuk makan. Makanan yang tidak mereka suka demi sembuh." Rangga menjadi agak jengkel.
"Te-Tetapi, Pakkkkkkkk_"
"Sekarang tidak ada pakai tetapi, kamu harus makan." Rangga memegang tangan Sherina untuk membawa nya, ke meja makan tersebut.
"Pak, saya tidak berselera makan." Jawab Sherina menolak untuk makan, karena lidah masih terasa pahit.
"Sherinaaaaaa ...! Di paksa dong mau makan kamu nya! Kamu harus makan obat, jika kamu tidak makan, nanti penyakit kamu kambuh lagi." Rangga menjadi geram san menatap Sherina dengan serius.
Wajah Sherina masih terlihat pucat, lemas pada saat itu. Tetapi tetap bandel tidak mau makan, Sherina memang sudah hampir satu minggu tidak selera makan.
"Te-Tetapi, Pakkkkk."
"Selama saya yang punya rumah! Kamu harus mengikut peraturan yang saya buat. Jika saya nyuruh kamu makan, maka kamu harus makan!" bentak Rangga, mulai terlihat marah karena di bujuk untuk makan, juga tidak mempan.
"Baik Pak."
Sherina akhirnya menurut saja. Soalnya takut di usir dari rumah tempat Rangga tinggal sekarang, soalnya mau numpang di tempat Sasi ada orangtuanya.
Akhirnya Sherina mengalah, memakan dengan sewajarnya saja. Walau pun pertama kali makan sayur, tetap di paksa olehnya saat itu. Karena Rangga tetap memperhatikan Sherina sampai selesai makan.
"Aduh, gak enak banget, Pak. Sayur manisnya ini." Lidah Sherina tidak suka, dengan sayur manis dan wortel tersebut.
"Kamu tidak pecinta sayur, lagian sayuran bagus untuk kulitmu. Biar terlihat cerah dan lebih sehat." Jawab Rangga karena dia adalah dosen yang pintar, karena selalu memakan makanan sehat dan bernutrisi.
__ADS_1
"Serius Pak? Bagus untuk kulit?" tanya Sherina karena tidak tahu.
"Maka nya, kalau di kampus atau waktu sekolah dulu, dengarkan! Biar gak jadi bahan tertawaan orang lain." Gerutu Rangga kepada Sherina, menyuruh untuk balik lagi ke sekolah dasar.
"Ya ampun, Pak! Saya kan cuma mau bertanya?" Sherina ngomel balik.
"Balik deh ke sekolah lagi! Begini deh jika dulu sekolah, gak dengarkan. Apa yang di bilang oleh guru, jadinya terlihat seperti kurang pintar." Alexa ceplas ceplos dalam berbicara pada saat itu.
"Hmmm."
Sherina memakan 3 sendok makanan saja pada pagi itu, tetapi Rangga memaksa harus habis sampai 10 sendok makan terlebih dahulu.
"Pak, sudah habis 3 sendok,"
"Makan sampai 10 sendok," jawab Rangga.
"Pak. Sa-Saya tidak sanggup makan sampai 10 sendok makan, soalnya saya tidak pernah makan banyak." Gerutu Sherina sambil melihat kearah piring, sudah merasa gak selera lagi.
"Ma-Makan saya bilang! Jangan menolak apa yang saya katakan! Semua ini demi kebaikan kamu kedepan nya," Rangga seperti ini tegas nya, tidak mau mahasiswi nya tersebut terjatuh sakit lagi
"Saya di rumah, di kampus memang tegas dan tetapi jika saya bersama teman-teman saya nongkrong, saya menjadi sosok yang suka melucu bersama mereka."
"Gak nanya?"
"Kamu iniiiii!" Rangga terlihat kesal.
Rangga mengambil lagi dan menuang lagi 10 sendok makan nasi kedalam piring Sherina untuk dimakan. Rangga masih sabar menunggu sampai Sherina selesai makan pada saat itu.
"Makannnnn, jangan banyak bicara." Perintah Rangga.
"Okee." Menuruti keinginan Rangga.
Sherina lalu menghabiskan 10 sendok makanan tersebut. Setelah selesai Rangga bersiap-siap untuk mencuci piring Sherina saat itu.
"Sudah selesai makan? Bagus lah kalau begitu. Sini piring nya, biar saya cuci piring nya. Kalau kamu yang nyuci belum bisa kena air." Rangga memang tidak suka, ada piring kotor.
Setiap makan, piring tersebut harus di bersihkan langsung. Tanpa menunda-nunda lagi dengan pekerjaan itu. Begitu telaten nya Rangga dalam mengurus rumah yang di milikinya.
__ADS_1
"Pak, biar saya saja yang membersihkan piring tersebut," Sherina merasa segan kepada Rangga.
"Sudah, biar saja saya. Kamu duduk manis saja di situ." Perintah Rangga.
Selesai mencuci piring kotor dan Rangga mengambil obat sakit lambung Sherina di dalam kamar. Rangga tidak menyuruh Sherina untuk mengambilnya, namun Rangga lah yang mengambil.
"Saya ambil obat lambung kamu dulu di kamar,"
"Pak, biarkan saya saja "
"Tidak usah, kamu masih sakit dan duduk tenang saja di sana." Rangga terlihat mengistimewakan Sherina, walau pun Sherina mahasiswinya tersebut.
"Pak, terima kasih." Sherina mengucapkan terima kasih.
"Hmm sama-sama." Jawab Rangga.
Rangga lalu memberikan obat tersebut kepada Sherina. Lalu menyuruh Sherina untuk makan dan harus di paksa, baru lah Sherina mau makan obat tersebut.
Selesai dengan semua urusannya tersebut mengurus Sherina. Rangga baru lah berangkat ke kampus untuk mengajar mahasiswa nya, bahkan Rangga terlihat kurang tidur karena mengurus Sherina setiap hari karena masih rewel dan sulit di mengerti saat sakit.
"Saya berangkat dulu, nanti kalau ada apa-apa telpon saja." Anjuran Rangga kepada Sherina tersebut.
"Pak, saya takut sendirian." Sherina bertingkah rewel seperti bocah.
"Jangan seperti bocah, Sherina. Jika saya tidak mengajar, dari mana pemasukan saya dan dari mana uang?" kata Rangga kepada Sherina.
"Okelah, Pak. Pergi saja!" Akhirnya Sherina pasrah untuk di tinggal.
Rangga keluar dar rumah. Lalu menyetir mobilnya dan memberikan kunci rumah kepada Sherina. Kunci rumah tersebut adalah cadangan, untuk yang lain. Supaya bisa masuk kedalam rumah.
"Ini kunci cadangan, kalau nanti ada apa-apa di rumah ini, kamu bisa keluar dengan kunci serap ini." Rangga memikirkan keselamatan Sherina.
"Baik Pak."
"Yaudah. Saya pergi dulu, dan kamu baik-baik disini." Kata Rangga.
Rangga meninggalkan Sherina, dengan harapan Sherina bisa sembuh. Walau pun Rangga harus banyak sabar dalam mengurus Sherina yang seperti bocah tersebut saat sakit.
__ADS_1