Dosen Ku Suamiku

Dosen Ku Suamiku
Tak Dianggap


__ADS_3

Betapa rindu hati Sherina, ingin memeluk mama kandungnya sendiri. Tetapi nasib sedang tidak berpihak kepadanya, semenjak ayahnya meninggal, Sherina lebih banyak mengurung diri dan memilih diam.


Semenjak Mama Nindi menikah lagi dengan suami baru. Sherina menjadi terlantar dan ditampung oleh Dosennya sendiri, Rangga sangat perhatian dengan Sherina.


Saat wanita itu melamun di pagi hari, membuka jendela dan menatap dengan kesedihan. Rangga baru bangun tidur memandang ke arah wanita itu, ketika melihat Sherina sedang termenung seakan angin pun tak berpihak akan kerinduannya terhadap mama tercinta.


Beranjak Rangga menghampiri Sherina yang sedang termenung. Terlihat kesedihan dari raut wajahnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Sherina saat itu, sudah satu tahun Sherina tidak menginjakkan kaki ke rumah Orang tuanya.


"Sherina mengapa kamu termenung?" tanya sang Dosen menatap ke wajah wanita itu dan memegang bahu Sherina.

__ADS_1


Wanita itu tidak menjawab dan hanya bisa terdiam. Saat ini suasana hatinya sedang tidak membaik, bahkan sang Mama tidak pernah menghubunginya semenjak keluar dari rumah.


"Tidak ada apa-apa." Sherina berusaha menyembunyikan tentang kesedihannya biarlah hanya dipendam oleh dirinya.


"Sherina ... tinggal di rumah ini kamu sudah hampir satu tahun, jika kamu sedang ada masalah aku sudah bisa menebak dari gestur dan raut wajahmu. Aku sudah mempelajarinya semenjak kamu di rumah ini tinggal. Jadi jangan sembunyikan apa pun yang telah terjadi, tolong cerita kami kenap sih?" tanya Dosen Rangga mengundang rasa penasaran dirinya.


"Ada apa? Tolong cerita sama saya kalau ada apa-apa?" tanya Rangga lebih dalam, untuk memancing Sherina supaya mau bercerita.


"Aku rindu, Mama." Sherina menangis mengingat menahan rindu yang begitu sakit terhadap Orang tua.

__ADS_1


Nindi sudah tidak menggangap Sherina sebagai anaknya lagi. Kini Nindi fokus pada keluarga barunya, bahkan Sherina sudah dibuang jauh-jauh dari hidupnya dan seakan tidak peduli lagi.


"Kalau kamu rindu, ayo kita jenguk Orang tua kamu. Jangan menahan rindu seperti ini lagi kasihan kamu." Rangga menyarankan Sherina untuk menjenguk Orang tuanya.


"Aku tidak mau, Pak. Orang tua aku sudah tidak menggangap aku lagi sebagai anak perempuannya. Saat ini Mama sudah hidup dengan keluarga barunya, melihat Om Anton saja saya sudah trauma. Mana mungkin saya bisa datang jika Anton di rumah itu," jawab Sherina. Jika wanita itu datang ke rumah mungkin mamanya bisa disiksa oleh Anton karena menampung kembali anak perempuan Nindi yang sudah hilang.


Rangga menjadi penengah untuk Sherina tentang permasalahan keduanya. Sejauh apa pun Mama Nindi kini, tetap Nindi adalah mama Sherina. Garis keturunan tidak akan pernah berubah dan Rangga meminta Sherina untuk meluluhkan hati Orang tuanya walaupun Nindi sebagai Orang tua, sudah salah.


"Bagaimana Nindi adalah mama kamu, garis keturunan tidak akan pernah berubah. Kamu tidak akan pernah menyalahi takdir Sherina akan hidup kamu. Bujuk Orang tua kamu supaya hatinya luluh kembali, jika tak ada umpan untuk membuat kembali. Sebaiknya kamu sebagai anak terlebih dulu beraksi membuka pintu maaf. Kita ke rumah mama Nindi nanti sore, biar saya antar saja ke sana dan minta maaflah sama Orang tua kamu saat di sana. Walaupun kamu tidak salah dalam permasalahan ini." Rangga meminta Sherina untuk mengalah dan melupakan masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2