Dosen Ku Suamiku

Dosen Ku Suamiku
Kemarahan Anton


__ADS_3

Mama Nindi masih menatap foto anaknya di hp. Air matanya kembali membasahi pipinya ketika rindu putri pertamanya tersebut namun jarang diantara mereka sudah berbeda jauh karena ada penghalang.


"Nak. Mama rindu sama kamu," gumam Nindi dalam hati sambil meletakan putra nya bayi tersebut ke pahanya.


Anton baru selesai mandi tersebut menghampiri sang istri. Nindi sudah menangis dan sebagai suami Anton mendekati Nindi mengapa gerangan menangis.


"Istriku, mengapa kamu menangis?" tanya Anton.


Anton berpikir bahwa istrinya sedang merindukan anak yang jauh di sana. Anton ingin Nindi tidak mengingat Sherina lagi di sana sebab anak itu bukan bagian dari keluarga mereka lagi.


"Gak ada, Sayang. Mataku cuma kelilip saja tadi." Nindi menghapus air matanya dengan tisu dan membalikan hpnya, supaya tidak terlihat bahwa Nindi sedang menatap wajah putrinya.


Anton menarik hp tersebut ternyata benar dugaan Anton. Bahwa Nindi sedang kangen anak yaitu Sherina. Sudah hampir satu tahun Nindi dan Sherina tidak bertemu sebagai seorang ibu ada perasaan kangen yang menyelimuti hatinya.


"Sudah aku bilang! Lupakan anak kamu namun kenyataannya, kamu masih ingat saja sama anak ****** tuh!" bentak Anton marah sama istrinya.


"Suamiku, izinkan aku untuk berkomunikasi dengan anak! Kamu jangan egois begini sedangkan aku, selalu mengijinkan kamu untuk bertemu dengan anak kamu ..." Nindi hanya ingin bertemu sekali saja dengan anak kandungnya tersebut.


"Sayang ... Kamu sudah menikah dengan diriku. Segala peraturan yang ada di rumah ini harus di turuti dan jika kamu bertemu diam-diam dengan anak kamu, awas kamu aku bisa melakukan kekerasan dalam rumah tangga!" ancam Anton.


"Seandainya aku memisahkan kamu dengan anak kamu, bagaimana perasaan kamu." Nindi tak terima.


"Aku suami, aku kepala rumah tangga mau bertemu anak aku. Itu adalah urusan aku dan kamu tidak bisa ngatur ..." Anton berlagak di depan istrinya tersebut.


Anton tidak suka melihat Sherina, andai saja malam itu Sherina mau di ajak dalam hubungan terlarang. Mungkin Anton tidak akan membencinya sebab dari awal Anton sudah terpesona dengan Sherina.


"Anakku tetap anakku ... Tidak ada orang lain yang bisa memisahkan hubungan anak dan Mama." Nindi menangis memohon kepada suami untuk di pertemukan sekali saja dengan anak.

__ADS_1


Sherina tidak lupa dengan anaknya tersebut namun walau pun Nindi menggangap Sherina bukan anaknya lagi. Jauh di hati terdalam masih tersimpan rapat perasaan tersayang untuk anaknya tersebut.


"Kamu pilih sekarang mau pilih anak kamu atau bercerai dengan aku!" ancam Anton sambil membukakan pintu.


Mereka tidak tinggal di rumah mendiang ayah Sherina lagi. Rumah peninggalan bersama mendiang suami sudah di jual Nindi atas suruhan suami yang memintanya untuk menjual, lalu mereka mengambil perumahan elit lagi.


"Suamiku, bagaimana bisa kamu mengatakan seperti itu ... Kamu sudah memisahkan aku dengan anak, bahkan rumah mendiang suami sudah aku jual namun kamu dengan tega meminta cerai sama aku," jawab Nindi sambil menangis betapa pilu kini nasibnya sebagai istri Anton.


"Kamu yang memilih menikah! Kamu bisa saja kan tidak menikah sama aku, kamu tergoda dengan bujuk rayu aku." Pinta Anton menyalahkan Nindi, sebab sudah mau menikah samanya tanpa memikirkan kedepannya.


"Sifat kamu tidak sama seperti kita belum nikah." Nindi menyesali pernikahan tersebut dengan Anton, mau menyesal kini sudah punya anak.


Anak menjadi penghalang besar Nindi untuk berpisah dengan suaminya. Kehadiran anak laki-laki tersebut membuat Anton semakin sepele dengan Nindi, sebab Nindi akan menuruti semua keinginannya.


"Kamu cobalah pisah dengan aku ..." Anton memberikan kebebasan kepada Nindi untuk memilih bertahan atau tidak.


"Aku sudah berpikir bahwa kamu tidak bisa pisah dengan aku! Jadi lebih baik kamu jangan macam-macam," ancam Anton sama Nindi.


Nindi akhirnya harus mendengarkan perintah suaminya. Setelah harta mendiang suami di pindahkan atas nama anak kedua mereka membuat Nindi tidak bisa berbuat apa-apa dengan harta itu.


Surat warisan tersebut di tahan oleh Anton supaya Nindi tidak macam-macam. Siasat licik Anton di mainkan, beginilah cara Anton untuk memikat si wanitanya tidak pergi dari hidupnya.


"Aku bisa saja pisah tetapi harta dan surat warisan mendiang suami, boleh aku yang pegang," ujar Nindi meminta surat warisan tersebut.


"Tidak bisa dong! Surat warisan tersebut sudah aku yang pegang, surat tersebut akan aku berikan ketika anak kita sudah besar nanti." Anton lebih berkuasa sekarang setelah membodohi Nindi, untuk memindahkan warisan suami ke tangan anak kedua mereka sekarang.


Bahkan Sherina tidak mendapatkan warisan tersebut. Anton lah yang mengatur masalah warisan tersebut serta membodohi Nindi setelah anak laki-laki mereka lahir untuk membuat warisan atas nama anak kedua mereka saja.

__ADS_1


"Aku bodoh banget, saking cintanya aku sampai membuat warisan suami atas nama kamu dan anak." Nyeseknya Nindi sekarang setelah percaya sama suami.


Nindi selama ini menginginkan mencari suami, untuk mengantikan posisi mendiang karena Nindi kesepian tidak ada kawan cerita setelah sekian lama menjadi janda, bahkan Nindi tak mau kesepian.


"Kamu seaturnya beruntung saya nikahi Nindi waktu itu. Jika tidak status kamu akan menjadi janda terus," kata Anton bersikap kasar kepada Nindi.


Saat Nindi mengendong putranya, Anton langsung menjambak rambut Nindi dari belakang. Sebab sudah terlalu melawan sama suami.


"Aduhhhhh sakit!" teriak Nindi merasa kesakitan saat di jambak.


"Rasakan ... Kamu bisa saja, aku buat kasar sama kamu!" ancam Anton.


Anton seorang yang tempramen, mudah marah, egois dan kasar. Hal tersebutlah yang juga membuat Sherina tidak suka terhadap suami mama Nindi.


"Aku salah apa? Hingga kamu menjambak rambut aku!" kata Nindi berurai air mata yang keluar dari pipinya dan matanya berkaca-kaca karena menangis.


"Kamu banyak salah! Kamu telah menjadi istri melawan!"


"Aku sudah melahirkan anak kamu ... Bisa kah kamu berbuat baik pada Mama dari anak kamu ini." Nindi menunjukan kearah anaknya tersebut.


Plakkkkkkkkkkk


Anton menampar Nindi dengan kuat dan kencang. Membuat Nindi merasakan sakit luar biasa, saat sekarang ini watak suami mulai keluar dan sering membuat Nindi menjadi menangis.


Nindi tidak tahu harus menceritakan sama siapa lagi. Menurutnya ini adalah karma karena telah mengambil suami Kayla dari tangan istrinya tersebut. Bahkan dulu Nindi tetap tidak mengalah untuk mundur malah memilih untuk maju.


"Kamu yang memilih maju, untuk menikah dengan aku! Bukan aku yang menginginkan kamu."

__ADS_1


Anton berpura-pura tidak mencintai Nindi namun sebenarnya Anton ada rasa sama Nindi. Cuma Anton juga mencintai anaknya Sherina.


__ADS_2