Dosen Ku Suamiku

Dosen Ku Suamiku
Rangga Menjadi Iba


__ADS_3

Saat jam pelajaran sekolah. Saat Sherina sudah masuk kedalam kampus, ada wajah terlihat lesu. Bahkan terlihat tidak tidur karena terngiang kejadian tadi malam.


Sasi juga belum makan, karena tidak berselera untuk makan. Baju yang di kenakan ke kampus, juga memakai baju Sasi karena takut pulang, ayah tirinya hendak menodainya malam itu.


Sherina yang mempunyai penyakit gerd tersebut. Saat sudah duduk di kursi tiba-tiba penglihatan kabur dan kepalanya pusing pada waktu itu.


Sherina tidak kuat lagi dan memegang bagian kepala. Tiba-tiba tanpa sadar Sherina terjatuh ke lantai. Rangga yang baru melintas di depan pintu langsung berlari.


"Sherina, kamu tidak apa-apa?" kata Rangga berlari kearah Sherina.


Rangga meminta kepada mahasiswa untuk membawa ke mobil Rangga, melihat tangan Sherina sudah kedinginan dan wajah Sherina pucat.


"Anak-anak tolong bantu, bawa kedalam mobil bapak. Kita harus membawanya kerumah sakit sekarang." Rangga meminta bantuan kepada mahasiswa.


Ceri menjadi kesenangan tersendiri kini musuhnya pingsan, rasa sakit tante Kayla harus di bayar lunas. Karena keluarga Sherina sudah merusak kebahagiaan tante Kayla yang sudah merebut suami tante Kayla.


"Hahahaaaaaa... Rasain loh! Yeee akhirnya aku bisa melihat kamu menderita." Gumam Ceri dalam hati, dan tidak ikut membantu bawa ke mobil.


"Ceri, mengapa kamu masih berdiri saja di pojok situ? Tolong bantu dong!" Rangga agak sedikit kecewa dengan Ceri.


Rangga sedikit kecewa, karena Ceri tidak ada jiwa menolongnya sama sekali, di saat ada teman di kampus yang pingsan.


"Aku tidak mau bantu pak! Jangan paksa aku untuk menolong musuh." Jawab Ceri penuh dendam.


Rangga menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan Ceri, sampai sekarang masih membawa urusan pribadi kedalam kampus tersebut.


"Ceri, kamu jangan membawa masalah kampus kesini dong." Rangga menggelengkan kepala.


"Sudahlah pak! Bapak tidak akan mengerti tentang kami, jika bapak tidak pernah berada di posisi kami." Kata Ceri kepada Rangga yang melihatnya tajam.


Rangga tak menggubris Ceri. Lalu pergi dari ruangan, untuk membawa Sherina kerumah sakit karena gerd nya kambuh.


Rangga teringat cerita Sherina. Jika gerd nya kambuh, harus di bawa kerumah sakit karena Sherina butuh di infus.

__ADS_1


Rangga takut terjadi sesuatu dengan mahasiswi nya tersebut, lalu dengan kencang Rangga menyetir mobil, supaya cepat sampai di rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit. Rangga langsung menyerahkan Sherina untuk di tangani oleh petugas medis, pada saat itu.


Rangga menunggu di ruang tunggu. Sampai mendapatkan info dari dokter bahwa Sherina sudah siuman. Berita itu yang ingin di tunggu-tunggu oleh Rangga.


"Sherina, semoga kamu cepat sehat dan cepat sadar." Gumam Rangga sambil melipat tangannya karena panik.


Sherina kembali sadar dan membuka matanya. Namun sekalu-kali memegang kepalanya, Sherina melihat posisi sedang di infus dan melihat sedang berada di rumah sakit.


"Suster, aku ini di mana?" tanya Sherina sambil memandangi sekeliling ruangan kamar tersebut.


"Hy, ibu Sherina sudah sadar? Ibu sedang berada di rumah sakit sekarang." Jawab Suster tersebut.


"Ahhh di rumah sakit?"


Sherina tidak mengingat lagi kejadian pada waktu pingsan tersebut, yang terlintas dalam pikirannya, siapa yang membawanya kerumah sakit.


"Suster, siapa yang membawa saya kerumah sakit?" tanta Sherina lebih detail.


Dosen Rangga di beritahu oleh dokter bahwa pasien sudah sadar. Dosen Rangga sangat bahagia, mendengar Sherina sudah sadar dan tak pingsan lagi.


Rangga segera menyusul kedalam kamar pasien, Sherina menangis dan masih terngiang dalam pikirannya, akan kejadian tadi malam.


Sherina kebingungan nanti malam, mau tinggal di tempat siapa, soalnya orangtua Sasi sudah pulang dari luar negeri. Sherina tidak ingin orangtua Sasi tahu mengenai masalah ini.


"Aku mau tinggal di mana? Sedangkan orangtua Sasi sudah pulang, seandainya aku tinggal di sana, nanti mama Sasi ngasih tahu bahwa aku tidak tidur di rumah." Gumam Sherina dalam hati.


Rangga melihat Sherina termenung. Sherina tidak mau pulang, takut Anton semakin kejam dan berusaha lagi untuk menodai Sherina jika aksi tadi malam gagal.


"Sherinaaaaaaaaaa." Panggil Rangga, sambil tersenyum mendekati Sherina.


Lalu Rangga mengelus kepala Sherina dan memandang ke Sherina, pria itu terus mengelus lembut dan Sherina membalas memegang tangan Rangga.

__ADS_1


"Pak, terima kasih sudah membantu aku bawa kerumah sakit." Sherina berusaha berdiri, namun masih kesulitan untuk berdiri dari tempat tidur.


"Sherina, tidak perlu berdiri." Ujar Rangga.


"Pak, kamu sudah baik sama Sherina, selalu menolong Sherina." Sherina terkagum-kagum melihat kebaikan Rangga.


Memang Rangga selalu berada untuk menolong Sherina. Menolong bukan berarti cinta karena Rangga merasa kasihan sama muridnya tersebut, kurang mendapatkan perhatian dari orangtua.


Rangga hanya berusaha untuk membimbing mahasiswi nya tersebut. Supaya tidak lari kejalan yang salah dalam hidup, supaya Sherina juga cepat lulus dari kampus.


Rangga ingin melihat Sherina sukses, jika Sherina sukses. Maka yang akan bangga adalah Rangga, karena bisa membimbing murid nya tersebut menjadi lebih baik dalam menjalankan hidup.


"Aku perhatiaan pada kamu, karena aku ingin membimbing, karena bimbingan tidak kamu dapatkan lagi di rumah." Sambil mengelus rambut murid nya tersebut.


Sherina mata berkaca-kaca. Kagum melihat pernyataan dosen nya tersebut, yang ingin membimbing Sherina menjadi lebih baik untuk kedepannya.


Sherina memang mengakui, dirinya saat ini memang bermalas-malasan. Tidak ada semangat untuk kuliah lagi, tetapi Rangga selalu menyemangati Sherina supaya tidak putus kuliah.


Kasihan dengan keluarga, yang sudah berharap banyak kepada Sherina supaya berhasil. Rangga memang terkenal dekat dengan mahasiswi dan menyuport mahasiswi yang kekurangan kasih sayang dari orang tuanya.


Dengan cara menyuport lah Rangga bisa memberikan terbaik, Rangga berharap mereka tidak kehilangan arah. Berusaha untuk melangkah lebih baik.


"Kamu harus kuat, kamu sudah makan tidak sebelum kampus?" tanya Rangga.


"Belum pak, saya tidak berselera untuk makan dari semalam."


"Sudah tahu kena gerd, tidak makan. Kamu tahu bahaya nya bagaimana?" Rangga marah kepada Sherina.


"Saya tahu pak, tetapi gimana? Saya sedang tidak ada semangat lagi, banyak masalah yang datang ketika mama menikah lagi dengan om Anton." Sherina ingin bercerita kepada Rangga.


Tetapi Sherina sadar, mereka hanya sebatas mahasiswi dan dosen. Sherina juga sungkan untuk selalu bercerita kepada dosennya tersebut.


"Saya malu, untuk bercerita kepada bapak sekarang, mengenai keluarga." Muka Sherina tertunduk malu.

__ADS_1


"Tidak perlu malu, kamu itu mahasiswi aku Sherina." Kata Rangga kepada Sherina.


Sherina tidak habis pikir, begitu bejat om Anton ingin menodainya, tidak mungkin Sherina bercerita, ingin di nodai oleh Anton kepada Rangga karena malu sekali.


__ADS_2