
Nindi sudah tahu bahwa putrinya tinggal di rumah Rangga. Karena mendapat pengakuan dari Sasi di mana Sherina berada pada saat ini.
Nindi mendatangi alamat Rangga. Nindi juga sudah tahu, bahwa Rangga adalah dosen dari Sherina. Yang sudah banyak menolong Sherina dari awal semester satu sampai saat ini.
Tok Tok Tok Tok Tok
Nindi dan Anton mengetuk pintu rumah Rangga, saat malam sekitar jam 7 malam untuk bertemu Sherina.
Rangga mendengar ketukan pintu. Tetapi Rangga belum mau membuka pintu tersebut karena takut orang jahat, lalu Rangga mengecek cctv dan melihat ada Mama Sherina.
"Sherinaaaaaa," teriak Rangga, saat Sherina sedang di dapur. Sedangkan Rangga berada di ruang tamu.
"Ada apa, Pak?" tanya Sherina berlari.
"Itu bokap loh kan?" tanya Rangga kepada Sherina.
Sherina lalu melihat kearah cctv, ternyata orang tuanya. Lebih trauma lagi saat Anton ikut bersama Mama Nindi, semakin muncul ingatan saat mau di nodai tersebut.
"Iya, Pak. Aku boleh minta tolong tidak Pak sama Bapak?" Sherina meminta tolong kepada Rangga.
"Mau minta tolong apa?"
"Tolong Bapak yang keluar saja, menemui orang tua, saya. Lalu bilang kepada mereka bahwa saya tidak ada di sini." Sherina meminta bantuan.
"Tidak boleh bohong! Bapak tidak suka dengan orang berbohong ... Lebih baik kamu ngomong saja, apa yang terjadi sama Mama Nindi," Rangga mau membantu Sherina, namun tidak dengan cara berbohong kepada orangtua.
"Pak, tolong lah! Saya minta tolong sekali ini saja, sama Bapak!" Sherina tetap meminta bantuan.
"Saya tetap menolong kamu Sherina! Tetapi saya tidak mau berbohong, saya akan mengatakan sejujurnya."
"Pak. Te-Tetapi, Pak!"
"Tidak ada tetapi, Sherina. Mari kita hadapi bersama dan jangan pernah lari dari masalah sekarang." Rangga mengajari Sherina, supaya bisa menyelesaikan masalah.
"Oke, Pak. Te-Tetapi bantu."
Rangga mengangguk dan akan menolong Sherina. Rangga lalu menarik tangan Sherina pelan, supaya mereka menyelesaikan masalah ini bersama.
Rangga membuka pintu.
__ADS_1
"Ada apa Pak dan Ibu? Ada yang bisa di bantu sekarang?" tanya Rangga tersenyum penuh dengan keramahan.
Nindi melihat Sherina di gandeng oleh Rangga. Nindi lalu menarik tangan Sherina mereka akan ngomong.
"Sherina, oh ini ternyata kelakuan kamu selama ini! Kamu tinggal bersama dosen kamu sekarang? Ada hubungan apa kalian sekarang? Sudah menikah diam-diam sekarang!" Nindi ngegas tanpa ada basa basi ketika mengetuk rumah Rangga.
"Ma, Sherina bisa jelaskan sekarang! Sherina tidak kabur ...!"
"Tidak kabur! Di rumah dosen kamu, tidak kabur namanya?" Nindi tidak mengetahui inti permasalahan.
Nindi juga tidak mengetahui bahwa Anton hendak menodai Sherina. Nindi hanya mendengar cerita sepihak saja, bahkan Anton menghasut istrinya tersebut.
"Ma, begini ceritanya ..."
"Gak ada, sekarang waktu nya pulang." Nindi menarik tangan Sherina dengan kasar.
Rangga membela Sherina, langsung menghadang. Rangga tidak suka dengan cara Nindi kasar terhadap anak, dari sini lah Rangga mulai menilai karakter seorang Ibu yang mau menang sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak yang terdalam.
"Bu, hentikan! Sherina ini baru sakit, tangan juga bekas infus ... Jangan di tarik kasar begitu." Rangga melakukan pembelaan terhadap Sherina.
"Diam kamu! Kamu siapa? Jangan mengatur saya! Lagian anak saya, mana ada di infus tangan nya." Gelagat Nindi seakan sok tahu tentang Sherina.
"Sudah diam kamu, Sherina! Bagaimana pun ini Mama, Kamu." Anton membela istri nya tersebut.
"Siapa bilang dia bukan Mama saya," jawab Sherina dengan santainya.
"Sherinaaaa! Menjawab lagi mulut kamu itu sekarang!" Nindi marah-marah.
Rangga mengajak masuk kedalam, untuk membahas hal ini. Rangga mau berterus terang dengan kejadian yang telah di alami oleh Sherina. Rangga tidak mau mahasiswi nya tersebut menderita, karena kekangan dari orangtua.
"Bu, kita selesaikan didalam saja. Biar kita mengobrol dari hati," Rangga berusaha mencairkan masalah, dengan mencari jalan keluar dari permasalahan ini.
"Hmmm baik." Nindi langsung masuk saja kerumah.
Sedangkan Anton terlihat tunduk, tidak mau aib nya terbongkar. Jika Nindi sudah mengetahui akar masalah, Anton takut istrinya tersebut menceraikan dirinya karena ketahuan.
"Hmm istriku, kita selesaikan di luar, tidak perlu masuk kedalam ..." Menarik tangan Nindi melarang istrinya kedalam untuk masuk kedalam rumah Rangga.
"Suamiku, biar saja kita mengobrol di dalam bersama mereka," Nindi mau tahu akar permasalahan nya.
__ADS_1
"Tidak perlu sayang ..." Anton seperti ketakutan.
"Sudah sayang, tidak perlu risau dan kita selesaikan di dalam saja."
Anton menoleh kearah Rangga dan Sherina dengan tatapan luar biasa. Sepertinya mengisyaratkan akan membunuh mereka berdua, jika kejadian malam-malam tersebut terbongkar ke istri Anton.
Anton masuk mengikuti Nindi, lalu Sherina dan Rangga saling bertatapan dan menggenggam tangan. Seakan mereka saling menguatkan satu sama lain.
"Kita selesaikan masalah ini." Bisik Rangga ke telinga Sherina.
"Iya."
Lalu mereka duduk di sofa, Nindi ingin mendengarkan akar permasalahan, mengapa putrinya sampai kabur dari rumah, saat Nindi sedang tidak berada di rumah.
"Sherina, jelaskan sama, Mama. Mengapa kamu kabur dari rumah?" tanya Nindi semakin penasaran.
Sherina terdiam dan takut untuk menceritakan nya, tetapi Rangga menggenggam tangan Sherina, untuk memintanya supaya berbicara.
"Sherina, bicaralah." Rangga meminta Sherina untuk berbicara.
"Ma, saya memang sudah tidak mau pulang kerumah! Sherina trauma,"
"Trauma kenapa, Sayang?" tanya Nindi sama anak nya.
"Om Anton, waktu itu hendak mau menodai aku, Ma." Ujar Sherina membeberkan semua rahasia.
"Tidak mungkin Sherina? Anton itu baik dan tidak pernah seperti itu," Nindi tidak terima dan langsung berdiri.
"Ma, aku ngomong seadanya. Coba tanya Pak Rangga, Ma?" Sherina ngomong sejujurnya sama Nindi, tetapi masih di anggap berbohong oleh Nindi.
Anton melakukan pembelaan, dengan membela diri sendiri, bahwa Anton tidak mau di salahkan. Menyebut semua ini adalah pencemaran nama baik karena sudah merusak nama baiknya.
"Sherina, kamu jangan menuding! Ini namanya pencemaran nama baik, kapan Om mau menodai kamu?" Anton seakan menutupi semua aib nya, dengan melakukan pembelaan di depan istrinya.
"Ayah tiri kamu ini baik."
"Kalau sama Mama baik, kalau sama aku tidak baik," jawab Sherina mematahkan semangat mamanya.
"Sherina, aku tidak pernah melakukan itu sama kamu, astaga segitunya kamu menuduh Om. Kalau kamu tidak suka sama Om, jangan sampai menuding yang gak-gak." Anton berusaha untuk menutup-nutupi semua itu dari Nindi.
__ADS_1
"Om, Sherina berkata yang sebenarnya sama Mama Nindi. Lebih baik Om diam saja." Bela Rangga, saat Anton masih melakukan pembelaan saat itu. Karena Rangga tidak suka dengan orang yang berbohong kalau salah katakan salah, kalau benar katakan benar.