Dosen Ku Suamiku

Dosen Ku Suamiku
Kritis


__ADS_3

Sherina setelah memakan bakso pedas level lima, membawanya harus berurusan dengan jarum infus karena penyakit gerd nya ada luka di bagian dalam.


Bahkan kini sudah merambat ke usus Sherina yang bermasalah. Sherina di larikan kerumah sakit karena sudah tidak tahan lagi dengan penyakit di deritanya.


Sherina semakin tidak sadarkan diri dirumah sakit dan koma. Sherina sudah mengeluh sebab badannya tidak henti keringatan membuat sang Dosen sangat ketakutan saat Sherina kritis.


Rangga mencoba menghubungi orangtua Sherina. Dalam pikiran Rangga jika pria itu memberitahu maka hubungan mama dan anak ini semakin baik, nyatanya suaminya Nindi lah yang mengangkat telpon sebab Nindi sedang mengurus anaknya didalam kamar dan hp sama Anton.


"Ada apa? Siapa ini?" tanya Anton mengangkat nomor baru, tak lain itu adalah nomor Rangga yang baru.


"Saya Dosen, Sherina. Saya mau mengabari bahwa anak Bapak dan Ibu sedang kritis di rumah sakit. Tolong sampaikan, Pak. Kepada Mamanya Sherina bahwa anak kandungnya sedang sakit ..." Alexa berniat baik untuk menyatukan hubungan anak dan orangtua ini yang telah bersikukuh.


Anton sangat bahagia mendengar kabar Sherina sedang kritis di rumah sakit dan hal itu sangat di tunggu. Anton menginginkan Sherina menderita seumur hidupnya karena sudah membongkar aib Anton kepada para pekerja di rumah.


"Hahaaaaaaa. Aku sangat bahagia mendengar kabar itu!" ucap Anton kepada Rangga dengan ketawa.


"Pak, tidak ada yang lucu. Dalam kondisi begini, mengapa Bapak ketawa?" tanya Rangga seperti ada gangguan saraf pada suami Nindi.


"Kamu tidak perlu menghubungi, Kami. Asal kamu tahu bahwa Sherina bukan bagian dalam keluarga kami dan Saya tidak peduli dengan anak itu!" Anton langsung mematikan panggilan telpon tersebut.


Anton masuk kedalam kamar, untuk menyampaikan berita bahagia. Saat istrinya sedang mengendong anak karena dari tadi putra mereka rewel.


"Sayang, ada berita bahagia ..." Anton hendak menyampaikan berita.


"Apa?" jawab istri.


"Anak kamu dalam kondisi koma di rumah sakit karena gerd nya kambuh. Hahahaha Saya senang mendengarnya ..." Anton tertawa namun istri dalam hatinya terlihat panik walau tidak menunjukan terhadap suaminya pada saat itu.


"Apaaaaaaaaaaaaaaa ..." Nindi langsung berteriak.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu terlihat panik saat menyampaikan berita ini, Istriku." ucap Anton melihat wajah istrinya dengan penuh tanda tanya karena nampak sekali, istri belum bisa melupakan anaknya tersebut.


"Tidak ada apa-apa. Aduh anak, Aku, sakit begini buat aku menjadi kuatir padanya saat ini, Sayang." Nindi terlihat bingung dan kuatir ingin menemui, namun sudah ada penghalang diantara mereka berdua yaitu suami.


"Istriku ... Sudah berulang kali. Aku katakan pada, Kamu! Jangan peduli lagi dengan anak kamu dan biarkan saja melarat dirumah sakit Sherina! Terus peduli apa kita." Anton semakin menjauhi Nindi dari anaknya tersebut.


Nindi tidak bisa begini, bermasalah dengan anak. Namun di hati kecilnya masih menyanyangi Sherina, meski omongan dan hati berbeda, namanya seorang ibu yang sudah melahirkan anak dengan hamil selama 9 bulan dan proses saat membesarkan anaknya tersebut, menjadi ingat dengan tingkah anak itu sewaktu kecil dulu yang sangat unyu-unyu.


"Bagaimana pun Sherina anakku," jawab Nindi sambil menangis.


Nindi mau melihat anaknya, lalu meminta izin kepada suaminya. Untuk melihat anak dirumah sakit, ingin memastikan kondisi Sherina dirumah sakit.


"Jadi mau apa?" tanya Anton.


"Izinkan aku bertemu anak di rumah sakit dan aku ingin melihatnya, walau pun sekali namun rinduku terobati." Sherina meletakan putranya tersebut diatas tempat tidur, lalu memeluk suaminya. Untuk meluluhkan hati suaminya tersebut supaya di izinkan kerumah sakit untuk bertemu anak.


Anton merasa enteng sebab Sherina bukan darah kandungnya. Tidak memikirkan perasaan istri yang ingin melihat anak kerumah sakit.


"Suamiku. Tolonglah, Kamu kasih izin sama istrimu ini, sebab aku hanya ingin menatapnya sekali saja." Nindi berlekuk lutut mengemis kepada suaminya tersebut namun Rangga tetap tidak memberikan izin dan Sherina bukan anaknya.


Rangga menatap wajah Sherina yang tak sadarkan diri tersebut. Dengan memakai infus dan oksigen karena Sherina kesulitan bernafas. Dalam hati Rangga memohon supaya Sherina sembuh, lalu sang Dosen menitikkan air mata setelah pada Dokter bekerja untuk kesembuhan Sherina.


"Sabar, Sherina ... Kita pasti bisa pulang dari rumah sakit," kata hati Rangga sebenarnya iba sama Sherina.


Septian mendapat kabar dari Rangga bahwa Sherina sedang terbaring sakit. Lalu dengan sigap langsung mendatangi rumah sakit dan masuk ke kamar nomor 18.


Septian membuka pintu dan Rangga melihatnya. Kehadiran Septian yang tiba-tiba membuat Rangga marah. Sebab jalan sama Septian lah yang membuat Sherina semakin begini karena Septian tidak melerai Sherina dengan makanannya.


"Mau ngapain Kamu kesini?" tanya Rangga kepada Septian, memandang kearah pria tersebut dan menyalahkan bahwa semua ini adalah salah pria tersebut.

__ADS_1


"Sa-Saya ..." tanya Septian menunjukan dirinya pada saat ditanya.


"Iya. Kamu ..."


"Saya kesini mau menemui, Sherina," ucap Septian langsung menghampiri Sherina yang sedang terbaring.


"Kamu lihat! Sherina sedang terbaring dirumah sakit, ini semua salah kamu! Sudah memberikan makanan pedas sama Sherina pada saat ketemu." Rangga marah-marah pada Sherina.


"Saya memang salah ... Te-Tetapi saya tidak tahu bahwa Sherina, penderita penyakit gerd akut."


"Bohong banget kamu! Tidak mungkin Sherina tidak cerita sama, Kamu. Bahwa Sherina penderita gerd." Rangga langsung membantah omongan Septian yang tidak mengetahui penyakit gerd.


"Serius ... Aku tidak mengetahui sakit nya perempuan ini, aku mengetahui hanya dari kamu saja." Septian berbicara apa adanya pada Rangga.


Mereka baru bertemu tiga kali, belum banyak yang diketahui Septian tentang Sherina mulai dari sakit hingga permasalahan keluarga yang sangat dalam masalah.


"Buat apa kamu dekat? Jika tidak mengetahui semua itu?" tanya Rangga penasaran terhadap kedekatan mereka selama ini saat ketemu.


"Kami hanya dekat saja, cuma cerita sedikit masalah pribadi. Sherina bukanlah orang yang terbuka dengan masalah privasinya bahkan menutupi."


"Oh ..."


Septian penasaran dengan hubungan Dosen dan Sherina tersebut. Sebab setiap masa Sherina terpuruk Dosen tersebut selalu ada untuk Sherina.


"Btw ... Boleh, Saya bertanya kepada Pak Dosen? Mengenai hubungan Pak Dosen dan Sherina, sekedar sebatas kenap di kampus atau memiliki hubungan spesial?" tanya Septian semakin penasaran.


"Kami sudah tinggal satu rumah dan Sherina adalah anak yang terasingkan, tidak dianggap anak sama orangtuanya. Jadi sudah jelas semuanya kan?" ucap Rangga berbicara apa adanya sama Septian.


Septian menjadi terkejut, selama ini Sherina hanya cerita bahwa Dosen tersebut hanya sebatas kenal di kampus saja.

__ADS_1


__ADS_2