
Dosen ganteng tersebut merasa iba kepada Sherina. Orang cantik, baik, sebenarnya tidak bodoh, anak orang kaya dan merupakan anak tunggal mempunyai masalah yang begitu besar dalam hidup.
Senyum dipaksakan di hadapan semua orang ternyata orang yang paling menderita ketika di rumah. Sherina hendak menghadiri acara ulang tahun sahabatnya Alena.
Mengenakan dress berwarna pink, tidak memberitahu Dosen Rangga, make up dulu baru beri tahu Rangga. Soalnya selama di rumah Rangga, Sherina tidak sembarangan bisa keluar rumah harus melalui izin Rangga terlebih dahulu.
Sherina menemui Rangga di parkiran mobil yang sedang mencuci mobil. Saat Sherina muncul Rangga takjub dengan kecantikan Sherina, tidak pernah Sherina di lihat bergaya seperti ini.
Memakai make up yang cetar, sepatu heels tinggi, dress seksi pas body, kuku palsu serta rambut yang rapi bergelombang membuat kagum sang Dosen.
"Mau kemana?" tanya Pak Dosen Rangga.
"Mau kerumah Alena," jawab Sherina.
"Kenapa gak izin sama saya duluan," Rangga ngomel.
"Ini mau izin sama Bapak, boleh tidak saya kerumah Alena?" tanya Sherina kepada Rangga ketika Sherina sudah siap-siap mau memesan taksi di siang hari.
Hari ulang tahun Alena jatuh di hari minggu dan anak kampus libur. Dosen Rangga juga off dan tidak mengajar, tetapi Rangga tidak setuju jika Sherina keluar tiba-tiba.
Peraturan dirumah adalah ketika mau keluar dari rumah. Satu jam sebelum keluar wajib memberitahu Rangga terlebih dahulu.
"Ada acara apa di sana?" tanya Rangga kepada Sherina, namun tetap memandang wajah Sherina yang cantik cetar membahana tersebut.
"Alena ulang tahun, Pak. Gimana ini saya di izinkan atau tidak." Sherina mengemis minta di izinkan.
"Tidak! Saya akan mengijinkan jika kamu pergi sama saya." Rangga melirik ke arah Sherina karena cantik, pandangannya masih tetap mengarah ke Sherina.
"Pak ... Mana mungkin saya sama Bapak kerumah Alena? Teman Alena teman kampus Pak, gimana kalau mereka menduga-duga kita pacaran?" Sherina tidak mau membawa Dosen Rangga.
Dosen Rangga tetap ngotot minta ikut sama Sherina. Dosen Rangga juga ingin bergaul dengan teman Sherina dan menjaga Sherina supaya tidak makan yang pedas-pedas lagi nanti.
"Sherina kamu belum sembuh? Kamu masih dalam tahap pemulihan." Jawab Rangga dengan gamblangnya.
__ADS_1
Sherina tidak suka di pantau terus karena sakit. Sherina ingin bebas sekali-sekali karena butuh ketenangan bersama teman-temannya Alena.
Rangga bisa saja memberikan kebebasan kepada Sherina. Namun ketika kebebasan diberikan, malah membahayakan keselamatan diri Sherina karena anak itu tidak taat aturan lupa namanya sakit dan memaksa makan pedas ketika tidak di pantau Rangga ketika nongkrong sama teman.
"Alasan Bapak saja! Saya butuh ketenangan sekali-kali, Pak." Sherina semakin lama tinggal di rumah Rangga, semakin melihat semakin banyak aturan di rumah tersebut.
"Saya hanya ingin kamu sembuh!! Tidak ada alasan saya, saya posesif begini supaya kelak kamu mempunyai masa depan yang cerah menuntun kamu." Rangga hatinya baik hanya membantu.
Soalnya Rangga melihat bahwa sakit Gerd Sherina sudah parah karena akut. Semakin dibiarkan semakin parah, Rangga juga sudah mulai nyaman dengan kehadiran Sherina di rumah tersebut karena ada teman yang bisa meramaikan rumah tersebut.
"Ya sudah, Bapak ikut ... Siap-siap sana, biar pergi."
Sherina mengijinkan Rangga ikut dengannya di ulang tahun Alena. Rangga bersiap-siap untuk beres-beres.
Sherina menunggu di ruang tamu. Saat sedang menunggu Rangga selesai beres-beres, ada notifikasi masuk di hp Sherina lalu membukanya.
"Hy Sherina ... Apa kabar?" tanya Pria tersebut melalui chat.
Sherina bingung siapa yang mengirimkan chat kepada. Saat Sherina membaca saja pesan tersebut dan membiarkan begitu saja saat itu, ada panggilan masuk dari pria yang menghubunginya tersebut.
"Ini aku ..." Pria tersebut tidak memberitahu namanya.
"Aku siapa?" tanya Sherina semakin membuatnya penasaran.
"Aku Septian ..." Septian memberitahu namanya.
"Septian siapa?" Sherina mengingat nama Septian, seperti nama tak asing baginya, saat nama tersebut di sebutkan.
"Septian, teman kecil kamu dulu," jawab Septian.
Akhirnya obrolan pun di mulai. Sherina sudah mengingat nama Septian, teman kecil di waktu dulu. Namun mereka miss komunikasi karena Septian pindah dari komplek perumahan keluar kota.
Septian mengikut ayah pindah keluar kota saat itu. Saat itu ayah Septian hendak di tugaskan di luar kota. Septian sudah mempunyai perasaan dari dulu terhadap Sherina, namun cinta mereka tak sampai karena lost contact.
__ADS_1
Rangga sudah selesai bersiap-siap, lalu mengajak Sherina untuk pergi. Namun Rangga mendengar Sherina sedang telponan dengan seorang pria.
Saat ada menghubungi Sherina, mereka terlihat mesra. Muncullah kecemburuan Rangga terhadap yang menelpon tersebut sepertinya tak pernah pernah melihat Sherina di hubungi oleh pria.
Sherina melihat Dosen Rangga sudah siap lalu mengakhiri panggilan telpon tersebut dari seseorang. Rangga hanya terdiam saja namun dihati ada rasa cemburu yang mendalam.
"Siapa yang menghubungi?" tanya Rangga kepada Sherina.
"Oh ini, Pak. Teman waktu kecil Sherina menghubungi."
"Seperti suara cowok?" tanya Rangga dibakar api cemburu.
"Memang cowok, Pak." Sherina tersenyum bahwa hatinya juga suka.
"Kayaknya kamu suka sama pria itu?" tanya Rangga.
"Dulu saya mengaguminya, Pak. Sampai sekarang masih mengagumi." jawab Sherina salah tingkah di tanya tentang Septian oleh Rangga.
Rangga tak menyukai jawaban itu dari Sherina. Rangga menginginkan Sherina jomblo saja, supaya tak ada pria lain yang bisa mengambil hatinya.
Entah apa perasaan Rangga ini, tidak bisa di tebak. Apakah mencintai Sherina atau tidak karena melihat Sherina telponan sama cowok saja sudah cemburu.
Mereka di rumah tersebut hanya sebatas mahasiswi dan Dosen. Selama ini tidak pernah melibatkan perasaan, namun kini ada berbeda dengan Rangga mulai muncul rasa nyaman dan sedikit cinta karena sudah terbiasa bersama.
Sherina melihat Rangga sangat menawan memakai kemeja dan celana levis hitam terlihat gaya casual sekali. Sherina jarang melihat Rangga memakai baju kemeja pendek selama ini selalu memakai kemeja panjang atau jas berwarna hitam, saat mengajar di kampus.
"Bapak ganteng sekali." Sherina memuji Rangga ganteng.
"Saya memang sudah terlahir ganteng dari dulu." Rangga memuji diri sendiri.
"Hmm dipuji udah langsung senang amat sih Pak."
Sherina menyesal memuji Rangga. Di puji malah naik kuping. Lalu mereka pergi ke ulang tahun Alena, seperti orang yang lagi pacaran saat ini, namun mereka tak pernah pacaran.
__ADS_1
Rangga masih fokus untuk mengejar karir belum mempunyai tambatan hati. Sedangkan Sherina masih fokus untuk menyelesaikan kuliahnya, sebab bosan meminta uang terus dari Rangga.
Tinggal di rumah orang lain saja sudah membuat Sherina bosan.