
Sherina dengan ketulusan hatinya, datang menemui Nindi mamanya. Tetapi saat melangkahkan kaki di rumah, Nindi buru-buru keluar menemui Sherina. Takut ketahuan kedatangan Sherina ke rumah, suaminya bisa marah besar.
Ditemani oleh Dosen Rangga, sedikit kuatir kehadirannya tidak dianggap oleh Orang tuanya sendiri. Dosen Rangga terus merangkul Sherina, untuk menghilangkan kegugupan wanita itu. Setelah satu tahun tidak bertemu dengan mamanya.
"Ngapain kamu ke sini?" bentak Nindi keluar dari rumah.
"Mama, aku kangen ...." Sherina berlari mau memeluk sang Mama, tetapi Nindi dengan cepat menghindar mendorong Sherina ke lantai hingga terjatuh.
Sherina terjatuh, Dosen Rangga terlihat panik dan langsung menolong Sherina untuk berdiri dari lantai. Pria itu menatap dengan tajam ke arah Nindi, tidak menyangka perlakuan seorang ibu sangat kasar, terhadap anak kandungnya sendiri.
"Ternyata perlakuan Ibu sangat kasar, ini anak Ibu, loh! Seandainya anak Ibu kenapa-kenapa tadi, apakah bisa mengembalikan nyawa anak Ibu?" bentak Rangga tidak suka Sherina diperlakukan kasar.
__ADS_1
Nindi langsung menepuk tangannya, saat melihat ada pembelaan dari Rangga orang yang menolong Sherina. Hasutan suami kedua membuat Nindi semakin jauh, wanita ini semakin melupakan darah dagingnya sendiri dari suami pertama. Kini pelengkap hidup wanita ini adalah anak dari suami ke dua seorang putra.
"Bela terus! Kamu tidak berhak membela wanita ini. Eits, jangan katakan dia darah dagingku. Aku sudah lupa bawa aku pernah melahirkan seorang anak perempuan, dia adalah anak hilang dalam hidupku," jawab Nindi dengan lugas.
Semakin keterlaluan membuat Rangga membenci wanita yang sudah melahirkan Sherina tersebut, emosi pria itu semakin tidak terkontrol hingga menampar Nindi.
Plakkkkkkkkkkkkkk
"Kau menamparku, pergi kalian dari rumah ini dan kamu Sherina tidak anak aku lagi. Aku tidak menggangap kamu anak, aku sudah lupa bawa aku pernah melahirkan anak yang membuat hidupku rugi," bentak Nindi memanggil security.
Sherina bertekuk lutut dihadapan mamanya meminta pengakuan, bahwa dirinya masih anak mamanya. Sherina menanggung rindu ini dengan sendirian, disiksa oleh rindu membuatnya merasa dilema. Hidup merasa tidak menyenangkan, tanpa ada campur tangan sang Mama.
__ADS_1
"Aku ini anak kamu, Ma. Jangan karena suami kedua kamu, sampai melupakan anak dari suami pertama. Papa bisa marah sama Mama, seandainya mama tidak mengakui aku sebagai anak," jawab Sherina rintihan tangisan Sherina terdengar oleh suami kedua Nindi dari dalam kamar.
"Cukup, Sherina! Jangan bawa ayah kamu di sini. Kehidupan mama dan ayah kamu sudah tidak ada lagi, kamu hanyalah masa lalu bagi saya," bentak Nindi, semakin menatap tajam ke arah anaknya.
Mendengar tangisan Sherina, membuat Anton keluar dari kamar. Mencari sumber suara dari mana, ternyata sumber suara dari ibu dan anak yang sedang meradang untuk mendapatkan pengakuan.
Anton lalu bertepuk tangan, ternyata benalu kembali lagi menemui mereka. Anton menatap kedua orang tamu tersebut dengan kebencian dan memanggil security untuk menyeret mereka dari rumah.
"Wah, ternyata benalu kembali datang untuk bertemu. Buat apa kamu kembali ke rumah ini lagi? Apa kamu sudah tidak punya rasa malu sekarang! Jangan ganggu rumah tangga kami saat ini, kamu sudah tidak dianggap anak lagi sama istri saya," ucap Anton menyindir Sherina.
"Iyakan, Pak. Tidak mungkin kita menampung anak penyakitan," sambung Nindi semakin membuat panas suasana.
__ADS_1