Dosen Ku Suamiku

Dosen Ku Suamiku
Biaya Rumah Sakit


__ADS_3

Biaya rumah sakit akan di urus oleh Dosen Rangga. Pria tersebut rela merogoh saku hanya untuk membayar biaya berobat Sherina di rumah sakit.


Sherina memang anak orang kaya. Tetapi kebetulan uang yang di pegang olehnya telah habis dan mama belum memberikan uang jajan untuknya.


Soalnya Mama Nindi mendapatkan laporan bahwa selama Sherina di tinggal, Sherina banyak membuat ulah. Namun hal tersebut semata karena hasutan dari Anton.


"Biar saya, yang bayar biayanya." Kata Rangga mengambil atm, lalu mengurus bagian administrasi Sherina.


Dosen Rangga memang sudah kaya, bahkan orang lain tidak tahu. Bahwa universitas tempat Rangga mengajar, adalah universitas miliknya.


"Tidak usah Pak, biar saya minta saja dengan orang tua, saya." Jawab Sherina, tidak ingin merepotkan dosen nya tersebut.


Sudah tinggal di rumah dosen Rangga bahkan dari biaya rumah sakit pun, Rangga yang mengurus semuanya.


Rangga memang terkenal humble. Serta Rangga juga kaya, namun kekayaan nya tidak pernah di tampak kan di depan umum dan Rangga tidak mau menjadi konsumsi umum tentang pribadi.


"Tidak perlu Sherina. Saya bisa membayar rumah sakit."


"Te-Tetapi Pak, gaji Bapak kecil dan mungkin tidak cukup." Sherina mengingat bahwa Rangga pernah bilang gajinya kecil.


Rangga berbohong pada muridnya, karena urusan gaji biarlah menjadi urusannya selama ini, Rangga hanya bisa tertawa melihat kepolosan anak tersebut.


"Uang saya ada! Jadi kamu tidak perlu kuatir bahwa saya, tidak ada uang." Rangga berbicara sambil tersenyum.


Dompet hitam dan tas hitam, yang selalu di pegang Rangga. Semakin menambahkan bahwa pria tersebut, benar-benar berkharisma.


Rangga pergi untuk mengurus bagian administrasi. Sedangkan infus di tangan Sherina belum di lepas karena belum jadwal pulang.


Kesepakatan bahwa jadwal pulang Sherina sore hari nanti. Rangga sendiri yang akan membawa Sherina pulang kerumahnya karena Sherina sudah sembuh.


Sherina hanya bisa tersipu sambil tersenyum ketika Rangga sudah pergi. Ternyata orang baik itu masih ada, selama ini Sherina lebih percaya bahwa orang baik tak ada lagi dan kebanyakan orang jahat.


Biaya Sherina selama di rawat di rumah sakit tersebut, hampir kena 20 juta dan Rangga tidak menjadi masalah, dengan uang berobat yang lumayan tersebut.


Pria baik hati ini lalu membawa Sherina untuk pulang. Mengenakan kursi roda karena tidak kuat untuk berjalan selangkah pun.

__ADS_1


"Pak sudah selesai?" tanya Sherina saat Rangga membuka pintu.


"Sudah, ini waktunya untuk beres-beres dan kita akan pulang." Jawab Rangga, merapikan pakaian Sherina.


Merapikan tempat makanan yang di bawa dan membuang sampah bekas makanan yang mereka makan. Soalnya Rangga tidak mau merepotkan orang lain dengan sampau mereka.


"Gimana? Apa kamu sudah sembuh total Sherina?" tanya Rangga kepada Sherina pada saat terlunglai lemas.


"Sudah Pak, cuma tenaga Sherina belum kembali utuh." Jawabnya.


"Nanti jika pulang kerumah, saya akan buatkan puding untuk kamu." Perhatian Rangga terhadap Sherina.


"Tidak perlu, Pak. Nanti Sherina bisa buat sendiri kok."


Rangga akan berbelanja ke minimarket nantinya, jika Sherina sudah berada di rumahnya tersebut. Akan membuatkan sup daging sapi dan pudding untuk Sherina supaya cepat sembuh.


Supaya tenaga Sherina kembali dan bisa masuk kampus lagi, sebab Rangga merasa kasihan dengan penyakit yang di derita Sherina tersebut.


Masih muda sudah terkena penyakit bagian lambung. Rangga ingin menyelamatkan Sherina dengan memberikan asupan yang sehat untuk Sherina, seperti sayuran dan buah-buahan.


Sherina juga menyukai makanan pedas.


Namun kali ini Sherina harus mendengar penjelasan dokter, bahwa Sherina tidak boleh makan yang pedas.


"Sherina, tadi dokter mengatakan bahwa kamu tidak boleh makan pedas, jadi tolong hentikan itu." Ujar Rangga menasehati Sherina.


Sherina terkejut seorang dokter bisa tahu bahwa Sherina pecinta pedas dan suka makanan siap saja, Sherina jadi tertunduk malu di depan Rangga. Ketika tahu tentang kejelekan nya.


"Hmm dokter bisa tahu, saya pencinta makanan pedas?" jawab Sherina.


"Bisa tahulah. Masa gak tahu? Mereka sudah menggunakan alat-alat canggih."


Rangga juga ingin mengontrol Sherina supaya jangan telat makan. Rangga paling tidak suka, jika nanti Sherina tingga di rumah tersebut membangkang padanya.


Jadwal kepulangan Sherina dari rumah sakit telah tiba. Sherina di dorong oleh Rangga dengan menggunakan kursi roda. Lalu sesampai di dekat parkiran mobil, Rangga mengendong Sherina kedalam mobil dan menaruh kursi roda di bagian paling belakang mobil.

__ADS_1


Rangga hanya sebatas rasa kasihan sama anak didiknya tersebut, tentang perasaan Rangga tidak pernah mempunyai perasaan dengan anak didiknya tersebut.


Mereka hanya sebatas dosen dan mahasiswi saat ini. Saat Sherina bersama Rangga masih dalam perjalanan pulang, mama Nindi menghubungi anaknya tersebut. Setelah mendapatkan pengaduan bahwa Sherina kabur dari rumah.


Bunyi hp berdering dan Sherina melihat ada panggilan masuk, panggilan masuk dari nomor Mamanya sendiri.


Sherina malas mengangkat telpon tersebut dan tidak ada guna, untuk mengangkat telpon dari mama nya tersebut. Percuma Sherina memberikan penjelasan yang akan di bela oleh nya adalah suami keduanya.


Semenjak mama Nindi menikah. Sudah banyak perubahan dalam hidupnya, termasuk tidak pernah membela Sherina lagi.


"Kenapa gak di angkat Sherina?" Sudah 10 kali panggilan dari nomor tersebut, namun Sherina tidak mengangkat nomor mama Nindi.


"Biarkan saja."


"Siapa yang menghubungi kamu?" tanya Rangga kepada Sherina.


"Mamaaaaa."


"Angkat Sherina ...! Bagaimana pun itu adalah Mama kamu! Tidak boleh jadi anak durhaka sama orangtua." Saran Rangga kepada Sherina. Bagi Rangga mama Nindi memang melakukan kesalahan tetapi sebagai seorang anak, jangan menjadi pribadi yang dendam terhadap orangtua.


"Pak, terima kasih telah membantu." Kata Sherina, tiba-tiba mencium pipi dosen nya tersebut.


Rangga terkejut dengan kecupan di pipi nya tersebut. Secara spontan begitu saja terjadi namun Rangga tidak menepis. Rangga hanya terdiam saja dan menikmati kecupan yang diberikan Sherina.


"Wah, kecupan apa ini? Kenapa aku yang jadi salah tingkah?" gumam dosen tersebut di dalam hati.


Rangga lalu menyetir mobil, sedangkan Sherina duduk di bagian depan dan sejajar dengan Rangga. Sherina merasa sangat di hargai, perhatian pria tersebut belum pernah Sherina dapatkan dari orang lain.


Sherina jadi teringat dengan sosok Papa yang telah meninggal. Cara perhatian, wajah, dan tegas nya pria tersebut. Mirip sekali dengan sosok Papa.


"Pak, tahu gak? Kamu itu sangat mirip sekali dengan ayah kandung aku ..." Kata Sherina memulai obrolan.


"Serius, saya mirip dengan ayah kamu? Nanti kamu ngada-ngada lagi?" tanya Rangga.


"Iya Pak, mirip sekali lah pokoknya! Saat saya melihat Bapak, entah kenapa? Saya jadi rindu dengan sosok Papa."

__ADS_1


"Wah


__ADS_2