
"Apakah kamu baik-baik saja ...?" tanya Rangga.
"Baik-baik saja, Pak," jawab Sherina berada di pelukan sang Dosen.
Terpancar wajah gembira saat memeluk wanita yang dicintai. Siang ini pertama kalinya Rangga memeluk Sherina, jantung pria itu berdenyut kencang.
Lalu Rangga melepaskan pelukan dan tak hentinya memandang Sherina. Wajah Rangga terlihat sumringah, tanpa sadar pria itu tiba-tiba mengecup kening Sherina.
Wanita itu merasakan reflek saat dicium, tak menyangka bisa sweet seperti ini. Tanpa sadar Sherina juga membalas dengan ciuman ke bibir Rangga. Wanita ini langsung menyambar bibir Rangga yang mempesona dan menawan tersebut.
Rangga merasakan refleks, saat sang Sherina mencium bibirnya. Menggangap bagaikan mimpi di siang hari, tak menyangka ternyata Sherina membalas dengan ciuman di bibir saat itu. Tak ingin menyiakan kesempatan yang besar, Rangga membalas dengan ******* di bibir, hingga keduanya memainkan bibirnya.
Wanita itu tersadar karena refleks tak sadar yang disentuh bibir sang Dosen. Wanita itu melepaskan pelukan dan ciuman di bibirnya tetapi tiba-tiba terjeblos kata-kata dibawa alam sadar Sherina.
__ADS_1
"Pak aku mencintaimu," kata Sherina suaranya sangat pelan.
Rangga yang mendengar kata-kata itu membuat Rangga syok, tidak mungkin wanita itu membalas cintanya.
"Kamu bilang apa tadi, Sherina?" tanya Rangga bertanya kembali, walaupun sebenarnya Rangga mendengar suatu pernyataan jujur Sherina.
"Tidak ada, Pak. Aku lapar mau makan di kamar," jawab Sherina membalikan pembicaraan.
"Sebelum itu kamu ada berbicara sesuatu dan aku kurang mendengar dengan jelas," lirih Rangga dengan ketus.
Rangga menarik tangan Sherina, lalu mengambil makanan yang ada di tangan Sherina. Wajah sang Dosen terlihat murung saat Sherina tidak mau berkata jujur tentang perasaan sendiri, sama dengan Rangga merasakan gengsi untuk ngomong bawa dirinya mencintai Rangga.
"Pak sini makan sama saya. Mengapa Bapak tarik kembali ...?" tanya Sherina.
__ADS_1
"Biar aku yang bawa sampai ke dalam, aku sedang bete soalnya. Ada seseorang tidak mau menjelaskan maksud dari omongan tadi padahal aku mendengar dengan jelas," jawab Rangga membawa makanan yang dipegang ke dalam kamar Sherina.
Wanita itu hanya bisa terdiam, tidak akan mungkin seseorang perempuan menyampaikan bawa sudah nyaman dengan Dosen sendiri. Rangga lalu meletakkan makanan itu ke atas meja.
"Makanan ini saya letak di atas meja, kamu harus saya suap. Jadi kamu duduk tenang saja, terima suapan yang saya berikan."
Tetapi sejak dari tadi Rangga tidak memperhatikan, Sherina terlihat baru selesai menangis karena wajahnya sembab dan memerah saat itu. Saat wanita itu membelakangi Rangga hendak mengambil sendok, Rangga langsung memeluk Sherina dari belakang.
"Apakah kamu baru selesai menangis, aku melihat wajah kamu sendu?" ucap Rangga memperhatikan dengan jeli sejak tadi.
Wanita itu menghela nafas akhirnya ketahuan juga, bahwa menangis. Sherina terlihat tidak bisa berkutik, enggan hendak mengatakan bawa cemburu melihat foto yang jatuh pada malam itu.
Sudah waktu yang tepat untuk membahas tentang seseorang yang ada di dalam foto tersebut. Rasa penasaran Sherina sudah terlihat seperti tidak tenang, rasa was-was semakin tinggi.
__ADS_1
"Sejak saat ini jangan panggil saya dengan sebutan Bapak, panggil saja dengan sebutan Abang. Kalau di kampus kamu boleh memanggil dengan panggilan Bapak supaya lebih sopan." Rangga merasakan panggilan Bapak ada pembatas diantara mereka.