
Sherina sudah bisa pulang dari rumah sakit seminggu dirawat. Sudah membuatnya bosan berada dalam ruangan rawat inap rumah sakit sudah ingin rasanya menghirup udara bebas di luar sana.
Sherina menatap mata sang Dosen dan air mata hampir saja jatuh. Melihat ketulusan pak Dosen yang setia dalam merawatnya dirumah sakit atau dirumah, walau pun mereka tidak mempunyai hubungan spesial namun perhatian sang Dosen melebihi kasih sayang orangtua.
"Pak, terimakasih ..." Sherina langsung memeluk erat sang Dosen.
Rangga terkejut di peluk erat sama mahasiswinya tersebut. Lalu Rangga memeluk erat Sherina mereka pun merasakan kehangatan luar biasa.
"Terimakasih kenapa?" tanya Rangga tiba-tiba Sherina juga meminta maaf, sebab sudah menyusahkan sang Dosen selama ini dan waktu Rangga banyak habis untuk mengurusnya.
"Bapak sudah perhatian, baik, tulus dan saat Sherina mau mati saja, Bapak masih setia menemani Sherina, dalam kondisi terpuruknya sekarang," ucap Sherina lalu berlahan-lahan mencoba untuk menyentuh jadi Pak Dosen. Lalu Sherina mengelus jadi tangan Rangga.
"Sudah ... Kamu tidak perlu berterimakasih sama saya, anggap saja semua ini karena saya tulus untuk menolong kamu,"
Rangga yang kehilangan kedua orangtua karena sudah meninggal. Kini mempunyai tanggung jawab, untuk mengurus Sherina yang sudah dianggap adik sama Rangga selama ini.
__ADS_1
"Aku ini memang selalu menyusahkan, Bapak dan tidak bisa mengurus diri ... Selalu bikin susah lah," Sherina sadar bahwa batas kemampuannya, hanya menyusahkan Rangga selama ini.
"Kamu tidak perlu insecure, kamu harus bangga sudah diurus oleh seorang Dosen bahkan perhatian saya, melebihi perhatian saya kepada mahasiswi lain." Rangga menyentuh lembut rambut Sherina dan Rangga akan mengurus pelunasan pembayaran rumah sakit.
"Pak, suatu saat perempuan mana yang akan beruntung? Punya suami seperti Bapak yang baik." Sherina menginginkan semoga pak Dosen mendapatkan jodoh yang baik yang sesuai dengan cerminan diri pak Dosen selama ini.
"Untuk jodoh saya belum bisa menebak dan semoga orang yang ada didekat saya selama ini," canda sang Dosen namun menginginkan Sherina menjadi istri.
"Di dekat, Bapak. Siapa Pak? Perempuan yang ada didekat Pak selama ini?" tanya Sherina semakin penasaran.
"Pak kapan kita pulang?" tanya Sherina sudah pengen pulang.
"Kita akan pulang hari ini, kayaknya pulang sore deh ... Saya akan urus bagian pembayaran dulu." Rangga melihat jam tangannya bahwa jam sudah menunjukan pukul 1 siang.
"Oke, Pak."
__ADS_1
Rangga lalu mengambil atm black card untuk membayar, biaya perawatan Sherina selama dirumah sakit, mulai dari operasi dan dirawat dirumah sakit.
"Berapa?" tanya Rangga bertanya kebagian administrasi.
"Lima puluh juta, Pak."
"Baik, saya akan bayar pakai debit." Rangga memberikan atm black card tersebut.
Selesai mengurus seluruh bagian administrasi. Mereka menunggu jadwal untuk pulang sekitar jam setengah tiga sore dan Sherina dinyatakan bisa pulang jam seperti itu.
Rangga masuk ke kamar Sherina dirawat dan melihat Sherina agak senang. Bahwa sebentar lagi akan menghirup udara bebas sebab sudah seminggu tidak melihat suasana luar.
"Pak gimana? Apa Bapak punya uang, untuk membayar biaya, Sherina?" tanya Sherina lebih jelas dan takut bahwa uang Rangga sudah tidak ada lagi.
"Saya punya banyak uang, kamu tidak perlu kuatir," jawab Rangga membereskan dari baju Sherina, tempat makanan, makanan pemberian tamu setiap jenguk lalu Rangga memasukkan kedalam mobil.
__ADS_1