
Semenjak Rangga berubah membuat Sherina tak terbiasa. Biasanya Rangga yang membereskan buku-buku Sherina, namun sudah berapa hari ini Rangga tidak memasak dan memberikan perhatian lebih kepada Sherina yang terkena gerd.
"Bapak mengapa menjadi cuek begini?" kata Sherina dalam hati.
Rangga pada malam itu fokus membaca buku. Untuk materi besok terhadap anak-anaknya di kampus, tetapi ada yang janggal dengan Rangga sebab tidak memasak, biasanya Rangga pasti memasak makanan untuk Sherina.
"Pak tidak masak?" tanya Sherina kepada Pak Rangga.
"Aku lagi malas masak," jawab Rangga sambil membaca buku.
"Kenapa Pak?"
"Kalau lagi malas kan tidak bisa di paksa harus masak." Rangga terlihat jeles sebab rasa cemburu belum hilang.
Sherina akhirnya pasrah saja, bahwa tidak mungkin di paksa Rangga untuk memasak soalnya Sherina sadar diri. Bahwa dirinya hanya menumpang di rumah tersebut, lalu tak lama kemudian saat Sherina mau memasak Septian menghubunginya.
"Halo Sherina ..." Sapa Septian.
"Halo Septian, ada apa? Mengapa kamu menghubungiku?" tanya Sherina.
"Aku sudah di pagar rumah, yang kamu berikan alamat jelas kamu. Bukalah pagar aku sudah di depan gerbang," jawab Septian menyuruh Sherina menemuinya.
"Ahhh kamu tidak ngabarin?" Sherina merasa senang.
"Aku keburu-buru tadi, maka nya aku tidak mengabari kamu."
Sherina turun dari lantai dua, saat mau membuka pintu pagar ternyata Rangga berada masih di ruang depan.
"Aku izin sebentar, mau ngambil makanan di pagar, Pak."
"Makanan dari mana?" tanya Rangga.
"Ada yang ngantar makanan, itu loh sahabat kecil aku, Pak."
Rangga berhenti membaca buku, ketika sahabat kecil Sherina menghampirinya di rumah Rangga. Pria tersebut tidak suka jika ada yang mengunjungi Sherina kerumah karena merasa terganggu.
__ADS_1
"Sudah pergi sana! Besok-besok jangan pernah bawa teman pria kerumah ini," jawab Rangga yang masih memberikan satu kali kesempatan, untuk pria yang datang bertamu kerumah tersebut.
"Alasannya Pak?" tanya Sherina.
"Ini rumah saya dan suka saya dong!" omel sang Dosen.
Sherina menemui Septian di pagar rumah tersebut, Septian sudah membawa banyak makanan dari restoran ternama siap saja dan roti- roti yang di berikan khusus untuk Sherina.
"Hy ..." Sapa Sherina nongol di depan gerbang pagar.
"Hy, ada bidadari aku muncul," jawab Septian sambil bercanda.
"Bidadari dari mana?" Sherina mempertanyakan balik.
"Iya dong. Wajah kamu cantik mirip bidadari dan menawan." Puji Septian yang jarang memuji kecantikan perempuan.
Septian memang dapat chemistry nya ketika bersama Sherina. Mereka dari dulu sudah saling cocok karena asik sama asik. Tetapi di rumah Rangga mereka saling cuek karena Rangga orang yang sangat tegas dan seriusan dalam berbicara.
"Gombal kamu tuh." Senyum manis Sherina terlihat dengan adanya lesung pipi.
"Ini makanan untuk kamu." Septian mengambil 3 bungkusan plastik besar yang isinya makanan dan minuman.
"Ini apa?"
"Pakai nanya lagi! Ini makanan dan minuman Sherina, supaya ada stok makanan di kulkas kamu, btw ... Kalau boleh tahu kamu tingga sama siapa di rumah ini?" tanya Septian terlihat kepo tingkat tinggi.
" Aku tinggal bersama Bibi," Sherina berbohong tinggal bersama Rangga, sebab Sherina tidak mau mengganggu kenyamanan Rangga di dalam rumah tersebut karena rumah tersebut adalah privasi.
Rangga sebenarnya tidak mau terusik dengan masalah privasinya. Sebab Rangga tidak suka di tanya dengan keberadaan tempat tinggalnya tersebut.
"Oh yaudah mari kita makan ... Kita makan di luar saja di gerbang ini, segan sama orang rumah soalnya," kata Septian membuka kotak nasi tersebut.
"Hmmm perhatian sekali kamu, ayo mari makan. Pokoknya kamu harus makan juga sama aku."
"Ayo lah, aku udah sediakan dua bungkus untuk kita makan."
__ADS_1
Septian dan Sherina makan di luar, kebetulan di luar di teras dekat pekarangan rumah tersedia kursi taman dan meja. Mereka sambil bercanda ria menikmati makanan tersebut.
Rangga kepo dengan teman Sherina tersebut sebab Sherina lama banget masuk kembali kedalam rumah. Rangga mengintip dari gorden jendela, melihat Sherina dan Rangga sedang duduk romantis di taman.
"Wah ternyata dunia serasa milik berdua sama mereka," gumam Rangga dalam hati terlihat tidak suka dengan kehadiran Septian sekarang.
Setelah menghabiskan makanan tersebut lalu Septian pamit. Soalnya segan sama orang rumah takut terganggu dengan tidurnya segera Septian pamit izin.
"Sherina aku pamit, soalnya takut ganggu orang rumah kamu ..." Septian permisi.
"Oke. Kamu hati-hati di jalan," jawab Sherina sama Septian.
"Terimakasih, sudah meluangkan waktu untuk aku." Septian bisa bertemu Sherina sudah senang banget.
"Kok ucapkan terimakasih ... Seaturnya aku yang mengucapkan terimakasih untuk kamu karena sudah bawa makanan."
"Sudah lah aku balik dulu, kalau ada waktu kapan-kapan aku kesini."
"Oke ... Bye."
Sherina melambaikan tangan ketika Septian sudah keluar dari pagar rumah. Pertemuan kedua kali ternyata sangat berkesan buat Sherina namun tidak dengan Rangga yang merasakan jadi cemburuan.
Saat Sherina mau memasuki rumah segera Rangga menutup jendela. Balik ke kursi yang telah didudukinya tadi, sambil menunggu Sherin masuk.
"Cie ... Cie ... Cie ... Romantis dengan cowok nih. Salut banget," kata Rangga sambil meledek namun merasakan cemburu dari dasar hati namun gengsi untuk ngomong sama Sherina.
"Pak, ini makanan. Bapak belum makan kan karena hujan? Lebih baik makan pemberian teman, Saya." Sherina menawarkan makanan tersebut tetapi Rangga menolak.
"Aku tidak mau makan! Aku gak suka makan pemberian orang lain, aku punya uang bisa membeli apa pun." Rangga agak meninggi bicara.
Biasanya Rangga tidak pernah setinggi ini dalam berbicara. Karena kesal dengan pria tersebut keluarlah kata-kata Rangga seperti itu. Rangga memang tidak mau menyentuh makanan pemberian siapa pun.
"Bapak sombong banget sih! Dari pada menahan lapar lebih baik makan ini, lihat lah hujan belum reda, mau keluar kemana Bapak cari makan?" tanya Sherina kepada Rangga pada saat itu.
"Tidak usah pedulikan saya! Saya bukan anak-anak, masih bisa cari makan saya kemana-mana," kata Rangga mengomel merasa mampu berdiri sendiri.
__ADS_1