
Sherina tidak pulang kerumah Rangga, namun sedang mencari angin. Sherina hampir gila saat Nindi ngomong bahwa Sherina tidak di anggap sebagai anak lagi, hati anak mana yang tidak sakit ketika orangtua seorang ibu berubah ketika menikah lagi.
Sakit Gerd Sherina belum sembuh, penyakit itu akan parah ketika Sherina lagi banyak pikiran mengenai masalah. Sherina menangis di taman tersebut.
Rangga menjadi panik, sebab Sherina tidak berada di restoran lagi. Rangga mengantar di restoran tersebut, tetapi pada saat mau di jemput orangnya sudah tidak ada lagi di tempat tersebut.
"Mbak, saya mau tanya? Orang yang berambut panjang dan ciri-cirinya seperti ini, apakah Mbak nampak?" tanya Rangga kepada pelayan restoran.
"Kakak itu ... Sudah pulang dari jam 6 sore tadi Pak," jawab pelayan restoran tersebut.
"Pulang naik apa Mbak?" tanya Rangga terlihat panik, takut Sherina di curi.
"Si Kakak pergi dengan naik taksi, Pak."
Pernyataan pelayan restoran tersebut, sudah terekam dalam memori otak Rangga, bahwa Sherina sedang mempunyai masalah dan hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja saat pertemuan itu.
Rangga menghubungi Sherina, namun sayang nomor Sherina sudah tidak aktif lagi. Semakin membuat Rangga risau.
"Baiklah kalau begitu, Mbak. Terimakasih atas infonya," Rangga lalu pamit kepada si mbak pelayan restoran.
"Sama-sama, Pak."
Sherina hampir mau bunuh diri di jembatan dekat taman tersebut. Saat itu Septian sahabat kecil Sherina, melintasi jalan tersebut namun Septian tidak mengenal Sherina sewaktu mau meloncat karena sudah lupa dengan wajah Sherina dan ingat wajah Sherina waktu kecil tersebut.
Wajah Sherina sudah berubah tidak seperti wajah masih kecil. Septian kaget malam hari ada orang yang sudah berdiri di jembatan hendak mau bunuh diri, segera Septian berhentikan mobil pas di depan posisi Sherina sekarang.
Septian kaget dan turun dari mobil, untuk menghentikan aksi bunuh diri perempuan tersebut. Septian tidak menyukai seseorang mengambil cara instant untuk mengakhiri hidupnya.
"Mbak, kamu turun!" Septian berusaha menarik Sherina supaya tidak terjun kejembatan kedalaman 20 meter tersebut, Septian memegang kuat tangan Sherina, menarik Sherina untuk tidak melanjutkan aksi bunuh diri tersebut, Septian sambil memohon.
__ADS_1
"Mbak, aku mohon ... Jangan akhiri hidup kamu dengan cara seperti ini, jalan bunuh diri bukanlah jalan terbaik." Andrian berlutut di dekat jembatan supaya Sherina iba.
Sherina menoleh kearah pria tersebut, sepertinya Sherina agak mengenal wajah pria tersebut karena wajahnya tidak asing bagi Sherina. Namun Sherina lupa-lupa ingat nama pria tersebut.
"Jangan mendekat! Biarlah saya bunuh diri sekarang, lagian tidak ada yang peduli dengan saya." Sherina membentangkan tangannya hendak bunuh diri.
"Kalau kamu bunuh diri, kasihan dengan orang yang telah berada di samping kamu. Mereka kalah untuk menyuport kamu," kata Septian yang sudah mengetahui trik, untuk meluluhkan hati seseorang yang lagi mempunyai banyak masalah tersebut.
Seketika karena omongan Septian ada benarnya. Tiba-tiba Sherina teringat dengan Alena dan Dosen Rangga yang sudah berada di samping Sherina, jika Sherina bunuh diri maka mereka akan kalah dalam proses mendampingi Sherina.
"Baiklah, aku tidak jadi bunuh diri." Sherina naik keatas jembatan dan tidak jadi bunuh diri karena omongan Septian.
"Nah begitu dong, sayangi diri kamu dan orang terdekat kamu,"
Ternyata Septian seperti psikiater saja yang bisa membuat seseorang luluh. Septian menarik tangan Sherina untuk berbincang-bincang di taman dekat jembatan tersebut pada malam larut malam.
"Sini ..." Septian menyuruh Sherina untuk duduk di kursi.
"Hey, kamu siapa?" tanya Sherina, sebab wajah tersebut tidak asing bagi Sherina.
Wajah Septian seperti wajah sahabat kecilnya namun Sherina sadar, bahwa orang tersebut tidak mungkin Septian karena teman kecilnya tersebut sudah berada di luar negeri dan menjadi owner dari perusahaan.
"Hy perkenalkan, nama aku Septian," kata Septian lalu mengulurkan tangan.
"Se-Septian ..." Sherina berusaha mengingat nama tersebut, sebab Sherina agak lupa-lupa ingat dengan nama itu.
"Iya, nama saya Septian ..."
"Saya jadi teringat dengan teman saya, kami pernah satu sekolah dan tetanggaan namun sekarang sudah pindah, namanya persis dengan nama kamu." Sherina melirik kearah Septian dan wajahnya pun hampir mirip.
__ADS_1
"Septian yang pernah tinggal di jalan maju dan sekolahnya di sd maju raya itu kan?" tanya Septian.
Sherina terkejut ketika pria tersebut mengetahui alamat Septian. Setelah semakin di tilik oleh Sherina memperhatikan wajah Septian dengan sekilas ternyata mirip sekali dengan wajah teman kecilnya.
"Iya, mengapa kamu bisa tahu?" tanya Sherina terkejut.
"Saya lah Septian tetangga kamu itu," jawab Septian lalu mengambil hpnya dan menghubungi nomor Sherina, untuk memastikan jika hp Sherina berdering maka Sherina adalah sahabat kecilnya.
"Kamu menghubungiku," Sherina melihat Septian menghubunginya.
"Aku cuma pastikan saja, apakah kamu Sherina sahabat kecil aku."
Ternyata secara tidak sengaja mereka dipertemukan kembali, dengan cara jalan seperti ini. Sherina sudah lama mencari tentang info sahabatnya tersebut.
Begitu pula dengan Septian setelaj menjadi Ceo dari perusahaan, yang ayah Septian kembangkan tersebut. Kini perusahaan batu bara milik ayah Septian sudah mempunyai banyak cabang baik negeri mau pun luar negeri.
Rangga kewalahan mencari Sherina, tetapi saat Rangga melintasi sebuah jalan. Taman yanh indah tersebut sering di kunjungi oleh anak muda untuk sekedar santai atau romantisan dengan pacar karena memiliki lampu lampion yang sangat indah.
Rangga menoleh kearah taman tersebut melihat seperti ada kemiripan dengan Sherina dengan seseorang yang sedang duduk di taman bersama pria. Rangga berhenti di parkiran tepi jalan tersebut, sambil mencoba masuk kearah taman tersebut untuk memastikan orang tersebut Sherjna atau tidak.
Ternyata benar orang berada berdua di bangku taman tersebut Sherina dan Rangga. Ternyata sekejap ketika bertemu Septian, Sherina melupakan Rangga dan tak memberikan kabar kepada Rangga.
"Oh kamu tidak mengabari, mau jalan sama cowok," guman Rangga dalam hati, merasa sedih ketika senang, Rangga pasti di lupakan Sherina.
Namun ketika mengeluh sakit pasti mendekat kepada Rangga. Tetapi Rangg tidak berani mendekat kepada Sherina dan Septian, hanya menguping dari balik pohon dekat taman mereka duduk.
"Tahukah kamu Sherina? Bawa aku sudah lama mencari kamu," ujar Rangga sambil menatap Sherina dan menggengam tangan Sherina.
Melihat Sherina di genggam tangan nya oleh Septian. Membuat Rangga cemburu buta melihat dari kejauhan, hatinya mendesir tidak terima bahwa Sherina harus orang lain yang dapatkan.
__ADS_1
"Oh tidak! Mengapa dengan hatiku, jangan sampai, aku jatu hati kepada Sherina. Sebab Sherina hanya anak kampusku," gumam Rangga dalam hati.