
Curahan hati Sherina kepada Rangga. Bahwa ayah tiri nya tersebut, hendak menodainya dan meminta kepada Sherina. Untuk berhubungan terlarang tanpa sepengetahuan mama Nindi.
Sherina, memejamkan mata sejenak, teringat bagaimana hendak di nodai, oleh seorang suami yang di anggap baik oleh mama Nindi selama ini.
"Pak, lihatlah. Suami dari Mama, hendak menodai aku, malam itu." Kata Sherina, sambil merintih menangis.
Rangga syok, kok bisa seorang ayah yang telah di percaya mama Nindi. Hendak menodai anak sambung nya sendiri, Rangga menjadi geram.
Rangga tak kuat menahan amarah, ada perempuan yang menjadi korban. Rangga lalu mengelus tangga Sherina, menyuruh Sherina untuk bersabar.
"Sherina, kok ada manusia biadab! Manusia tak punya hati nurani!" Rangga terlihat kesal dan marah.
Menurut Rangga pria tersebut, sudah biadab sekali. Mengapa tidak mencari kepuasan di luar sana, mengapa harus anak sambung yang harus menjadi korban.
"Aku takut Pak, aku takut untuk pulang kerumah!" Sherina meminta pertolongan kepada Rangga.
Rangga yang tinggal sendiri, bukan maksud hati tega. Membiarkan Sherina seperti itu dan muncul lah niat Rangga, ingin menolong siswinya tersebut.
"Sherina, kalau kamu tidak sanggup untuk pulang kerumah ... Tinggal lah bersama saya di rumah, tetapi rumah saya tidak besar Sherina." Rangga memberikan bantuan kepada Sherina.
Rangga juga tahu data mahasiswi nya tersebut. Bahwa Sherina adalah anak dari keluarga kaya, ayahnya yang telah meninggal dunia adalah orang kaya.
Sedangkan Rangga hidup dengan kesederhanaan, di sebuah rumah minimalis namun elegan. Walau pun rumah tersebut terlihat tidak besar bidang nya, namun untuk desain sangat cantik karena di desain oleh interior ternama.
"Pak, serius. Saya bisa tinggal di rumah Ba-Bapak." Jawab Sherina.
Sherina tersenyum, kini telah mendapatkan tumpangan, untuk tinggal sementara waktu di rumah Rangga. Suatu saat jika keadaan situasi sudah membaik, maka Sherina akan pulang kerumah orang tuanya.
"Serius, Sherina." Jawab Rangga.
Tetapi ada syarat yang di ajukan Rangga untuk Sherina. Walau pun Sherina tinggal di rumah tersebut, wanita itu akan di didik nya tegas. Serta taat dengan peraturan yang ada di dalam rumah.
"Pak, terima kasih. Sudah menolong Sherina dari dulu." Memegang tangan dosen nya tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sherina, jangan sungkan untuk meminta bantuan. Tetapi ada syaratnya Sherina, kamu tidak boleh memberitahu yang lain, bahwa kita tinggal satu rumah." Rangga tidak mau ada yang tahu.
Rangga ingin menjaga image nya sebagai dosen. Tak mau ada omongan tak enak terdengar di luar sana, mengenai mereka berdua yang tinggal bareng.
Rangga juga ingin menjaga nama baik Sherina. Supaya tidak dicap murahan karena tinggal di rumah dosen.
"Baik Pak ... Saya akan menjaga nama baik Bapak, supaya tidak tercemar di depan teman-teman saya." Jawabnya, tetapi Sherina masih belum boleh pulang dari rumah sakit karena masih di infus.
Penyakit gerd yang di deritanya, terkadang membawanya harus menginap di rumah sakit karena sakitnya tersebut. Jika Sherina terlambat makan pasti kambuh atau lagi banyak pikiran.
"Sherina ... Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak di pikirkan? Kasihan lambung kamu sekarang, kamu masih muda dan masih panjang perjalanan kamu, untuk mencapai yang belum kamu capai ..." Nasehat seorang dosen untuk Sherina.
Sherina juga bandel di bilangi, suka makanan yang pedas. Bahkan sampai lupa punya penyakit lambung, yang bisa membuat sakitnya kembali kambuh.
"Iya Pak, Sherina mau tanya Pak? Kapan Sherina pulang dari rumah sakit?" tanya Sherina kepada Rangga.
Sherina juga tidak mengabari mama. Bahwa sedang berada di rumah sakit, Sherina hanya takut mama nya menghubungi, terus melihat suara Sherina seperti lemas dan hal tersebutlah yang menjadi kekuatiran seorang Sherina.
Melihat Sherina keringatan dan merasa kepanasan. Serta rambut panjang yang terurai di lepaskan tersebut, sudah bercampur dengan campuran keringat.
Rangga mengambil karet untuk pengikat makanan. Pada waktu itu tak ada ikat rambut untuk mengikat rambut Sherina dan terpaksa lah menggunakan karet makan.
"Sherina, ruangan nya panas ya? Kamu pasti merasakan kepanasan? Biar saya ikat saja rambut kamu. Biar kamu tidak kepanasan lagi Sherina," Rangga lalu mengambil rambut Sherina, dari tepi terlebih dahulu lalu menyisir dengan rapi.
Terlihat seperti suami yang perhatian kepada istri. Walau pun sederhana caranya, namun berkesan untuk Sherina. Rangga juga tidak menjaga imagenya saat berada bersama Sherina.
"Pak, sudahlah. Saya malu, biar saya saja yang mengikat rambut, saya. Kata Sherina menatap malu kearah Rangga.
"Sudah, jangan bergerak. Kamu itu masih sakit Sherina." Rangga lalu selesai mengikat rambut Sherina.
Setelah itu datanglah suster membawa makan siang untuk pasien. Rangga langsung mengambil makanan yang diberikan suster tersebut.
"Terima kasih, Bu." Rangga bersikap sopan.
__ADS_1
"Sama-sama, Pak."
Rangga lalu berniat untuk menyuapi Sherina yang sedang di infus. Layaknya suami yang sedang memperhatikan istri, ketika sedang sakit.
" Sher ... Hari ini biar saya saja yang menyuap kamu, untuk makan." Rangga mengambil ikan dan sayur, serta menaruhnya dalam sebuah piring.
"Pak, terima kasih. Sudah berbuat baik kepada Sherina." Wajah Sherina terlihat sendu dan sedih.
Terlihat sedih karena di saat sakit, bukan keluarga yang berada di rumah sakit untuk menjaga. Namun orang lain yang tak ada hubungan keluarga.
Semenjak Papa meninggal dan semenjak itu juga Mama banyak berubah. Semenjak mengenal Anton dan menjadi seorang pelakor dalam hubungan tante Kayla.
Sherina memang malu, mama nya seakan tidak punya harga diri. Merebut kebahagiaan orang lain dan menghancurkan hubungan rumah tangga orang lain, ketika rumah tangga tersebut sedang baik-baik saja.
"Buka mulutnya, biar Bapak suapi kamu sekarang." Kata Rangga menyuruh Sherina untuk buka mulut.
"Pak, Sherina sedang tidak selera untuk makan hari ini."
"Sherinaaaaaaaa ...!" teriak Rangga.
"Pa_Pak, tolonglah. Jangan paksa saya untuk makan." Ujar Sherina, menutup mulut karena sedang malas makan.
"Tidak boleh malas makan, kamu itu harus sehat dan bugar," nasehat dari Rangga menyuruh Sherina untuk buka mulut di kasih makan.
Sherina menggelengkan kepala, namun Rangga tetap memaksanya, akhirnya Sherina mau makan karena sudah di rayu oleh Rangga harus makan.
"Baik, Pak. Saya akan makan." Sherina lalu membuka mulut, untuk memakan di mulai dari satu sendok terlebih dahulu.
"Kan enak begini! Kamu itu malas banget makan nya." Gerutu Rangga, memegang sendok tersebut.
Rangga tidak pernah perhatian begini terhadap mahasiswinya, baru pertama kali nya. Rangga memperlakukan murid nya macam istri sendiri.
Selama ini Rangga memang belum pernah pacaran. Rangga juga banyak di naksir oleh cewek, namun belum ada yang masuk kedalam hatinya.
__ADS_1