Dosen Ku Suamiku

Dosen Ku Suamiku
Getaran Cinta


__ADS_3

Semenjak merawat Sherina. Rangga mulai merasakan getaran cinta, entah kenapa hatinya berdenyut kencang dan salah tingkah ketika di tatap oleh Sherina.


Jam dua malam penyakit Gerd Sherina kambuh. Sehingga Rangga membawakan langsung kerumah sakit dan penyakit itu sudah membuat Sherina lemah bertahun-tahun.


Dirumah sakit Sherina meminta di temani oleh Rangga. Mulai dari pemeriksaan dan pasang infus, Rangga mengelus rambut Sherina dari sana lah getaran cinta terbentuk ketika Rangga memandang Sherina.


"Cantik juga dia," gumam Rangga di dalam hati, ketika menatap Sherina.


"Sabar Sherina ... Kamu pasti sehat kembali nanti, kamu sih ngeyel di bilang jangan banyak makan cabe dan pedes. Kamu tetap makan!" gerutu Rangga gak ingin Sherina sakit lagi.


"Sudah Pak Dosen, jangan pedulikan! Sedangkan orangtua saya saja tidak peduli sama saya." Sherina merindukan hadirnya Mama Nindi, namun Sherina takut balik kerumah lagi.


"Sherina jangan begitu ... Hati dan mulut berbeda, bisa saja Mama ngomong tidak sayang, tetapi hatinya sangat menyanyangi Sherina." Rangga tidak suka jika Sherina terlalu menjudge orangtuanya.


Sebesar apa pun kesalahan seorang ibu saat ini. Namun sosok Ibu sudah berjuang dalam melahirkan seorang anak, walau pun kini mereka ada perseteruan bukan berarti Nindi melupakan anaknya.


Mereka hanya di waktu saja, menunggu untuk meredam kemarahan masing-masing, wanita ini butuh perhatian seorang ibu dan ibu meminta ingin di perhatikan juga.


Kini hubungan mereka meredam karena hasutan dari Anton. Nindi tidak mengetahui tabiat asli suami dan hanya melihat kebaikan Anton yang di lihat saja.


"Sabar ... Sebentar lagi permasalahan kalian akan redam dengan sendirinya." Rangga mengelus bahu Sherina.


"Sampai kapan begini terus? Aku rindu pulang kerumah Pak, di rawat sama Mama. Aku segan jika di rawat Bapak." Sherina sudah banyak berhutang budi kepada Rangga, mulai dari bawa kerumah sakit, mengurusnya dan membayar biaya rumah sakit.


Sherina selama sakit ingin sentuhan halus seorang Mama. Ingin di perhatikan, ingin dimanja, ingin di tanya kabarnya. Sherina sudah tinggal selama 3 bulan di rumah Dosen Rangga.


Namun Mama Nindi belum ada menghubungi anaknya. Untuk mengajak pulang kembali kerumah mereka tersebut, namun walau pun begitu Sherina tidak benci dengan Mama Nindi dan hanya membenci Anton sebagai suami kedua mamanya.

__ADS_1


"Sherina kamu suatu saat pasti bisa berkumpul, tenanglah pasti ada masanya kamu bertemu." Rangga selalu menyemangati Sherina yang sudah hilang semangat sampai saat ini.


Kembali air mata membanjiri pipinya yang imut, mengenai bibir mungil Sherina tersebut dan wajahnya terlihat sendu. Terlihat raut wajah yang tidak bisa di bohongi bahwa Sherina sangat rindu dengan mama.


Rangga mengambil tisu menyentuh bagian pipi yang sudah kebanjiran air mata. Rangga menghapus air mata tersebut dengan perasaan, saat tangan Sherina di infus sejauh ini Rangga tidak komplen, bahkan tidak pernah mengeluh capek mengurus Sherina yang sakit.


"Jangan menangis lagi, lihatlah air mata telah membanjiri pipi kamu." Rangga tersenyum supaya Sherina terhibur.


Ternyata Dosen terkenal tegas tersebut bisa tersenyum. Senyumnya sangat manis dan indah di pandang, wajah Rangga sangat teduh sekali.


Sherina mengakui ternyata banyak muridnya terkagum sama Rangga. Karena Dosennya tersebut sangat baik dan sangat tulus dalam membantu siapa pun.


Sherina berharap suatu saat nanti semoga Dosen bisa menemukan istri yang baik untuk dijadikan pendamping hidup.


Kebaikan Dosen tersebut tidak bisa di lupakan oleh Sherina. Rangga lah yang merawatnya saat hampir mati karena penyakit gerd. Sherina hanya berharap semoga Rangga sehat selalu dan Sherina juga Sehat supaya tidak menampung hidup dengan Rangga.


"Pak, terimakasih sudah merawat Sherina sampai detik ini," kata Sherina sambil menangis.


Rangga hanya belajar dari pengalaman bahwa anak seperti Sherina. Butuh dampingan oleh orang terdekatnya dan keluarganya.


"Terimakasih karena aku merawat ... Maaf Sherina, Bapak tulus membantu kamu untuk tidak terjebak, dalam belenggu seperti ini sekarang."


Rangga menyentuh tangan Sherina, berharap Sherina tetap kuat. Dalam menghadapi kenyataan hidup yang harus di terimanya sekarang, di jauhi keluarga harus bisa bangkit untuk kedepannya.


"Pak kayaknya aku sudah frustasi, gak pengen hidup lagi," kata-kata mahasiswi saat sudah putus asa.


"Jangan seperti itu Sherina, masih ada orang terdekat kamu. Akan selalu suport kamu selamanya, ada Bapak dan ada Alena yang masih setia berada di sampingmu," Rangga menguatkan Sherina.

__ADS_1


"Te-Tetapi tidak dengan orangtuaku ..." Saat ini Sherina merasa sendiri tanpa dukungan keluarga.


"Sekarang kamu ditelantarkan, mungkin suatu saat mereka akan peduli." Rangga tidak pernah menjatuhkan mental mahasiswinya tersebut


"Peduli jika aku sudah punya banyak uang dan harta," jawab Sherina.


"Tidak semua dipandang dengan harta, Sherina." jawab Rangga.


Sherina menangis mengapa kini penderitaannya semakin sulit. Bahkan setelah dewasa hidupnya semakin menderita tampa kasih sayang orangtua. Sherina menangis dan memeluk Rangga.


"Sherina aku akan selalu berada di samping kamu." Rangga menggenggam tangan Sherina.


Sherina menggenggam balik tangan Rangga bahkan tersenyum. Sherina bersandar di bahu Rangga, untuk sejenak menenangkan diri di bahu Rangga.


"Pak, izinkan saya bersandar di bahu kamu sekarang." Sherina meminta izin kepada Rangga untuk bersandar di bahu Rangga.


Rangga mengizinkan Sherina untuk bersandar di bahunya. Bahwa rasa rindu untuk bersandar di bahu orangtuanya kini terobati, Sherina rindu orangtua nya termasuk ayahnya.


Kerinduan Sherina adalah akan mendiang ayahnya. Semenjak kehilangan ayahnya Sherina sering melamun, bahwa sudah lama Sherina tidak melihat sosok orangtuanya tersebut.


Ayahnya yang dulu selalu memperhatikan nya dan menyanyangi Sherina dengan sepenuh hati. Bahkan kini pun suara ayahnya tidak bisa di dengar oleh Sherina. Dulu ayahnya sering bawel menasehati Sherina supaya selalu rutin makan dan jangan terlambat.


Ayahnya selalu merasa kasihan, jika penyakit Sherina kambuh. Dari kecil Sherina sudah menderita penyakit gerd, hingga penyakit tersebut semakin lama semakin parah membuat Sherina sering kewalahan.


Sherina sudah muak selalu di rawat rumah sakit dan di infus. Sherina bosan dengan tangan yang di infusnya tersebut, tangan tersebut selalu mendapatkan suntik infusan karena penyakitnya tersebut.


Rangga akan setia menemani Sherina dalam proses penyembuhan penyakit nya. Rangga tidak pernah mengeluh akan menemani mahasiswinya tersebut dalam proses sakitnya tersebut.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan kepikiran." Rangga menasehati Sherina.


"Iya, Pak. Gue gak akan kepikiran lagi dalam masalah ini," Sherina bersandar di bahu Rangga serasa di peluk oleh ayah kandungnya sewaktu kecil dulu.


__ADS_2