
Sherina sudah pulih dan mulai bisa beraktivitas seperti biasanya. Sherina mulai masuk kampus lagi, soalnya Sherina sudah jenuh di rumah saja.
Perutnya belum sembuh dan tetapi masih dalam pemulihan gerd. Sherina masih berhati-hati untuk makan pedas dan yang mengganggu kesehatannya.
Rangga menasehati Sherina untuk makan yang rebusan saja dulu. Selama di rumah dosen Rangga, mahasiswi ini di jaga ketat oleh Rangga, supaya tidak kebablasan makan sembarangan.
Rangga lah yang memasak makanan Sherina selama masa pemulihan. Mempersiapkan sayuran, buah-buahan, ikan dan daging dalam kulkas.
Pagi hari Rangga sudah pergi untuk belanja ke mini market atau pasar. Sherina sangat kagum sama dosennya tersebut, yang bisa menjaga dirinya.
Sherina merasa malu numpang tinggal di tempat dosen. Namun Sherina tidak bisa melakukan apa-apa dalam membersihkan rumah, karena mudah kecapekan saat gerd nya kambuh.
"Pak, saya bosan makan rebusan mulu," ujar Sherina, menyampaikan keluhan nya seperti makan sayur.
"Diam kamu! Kalau mau sehat harus makan yang sehat juga, sayuran ini sangat bagus untuk pemulihan," gerutu Rangga karena Sherina sangat susah di bilangi.
"Pak, ini apa?" tanya Sherina karena tidak pernah melihat buncis, di iris tipis-tipis ditaruh di piring Sherina.
"Itu buncis dan yang saya rebus satu lagi itu labu. Rebusan labu itu bagus untuk penderita lambung." Jawab Rangga memotong rebusan labu itu kecil-kecil.
Sherina mencoba irisan labu tersebut. Tidak enak saat Sherina mencicipi labu tersebut dan mengeluarkan dari mulut karena tidak pernah makan labu.
"Ehhh gak enak, Pak." Wajah Sherina seperti mau menangis.
"Bukan gak enak, tetapi beginilah obat gak ada rasa, kamu ini lah! Baru makan labu kamunya? Kalau baru pertama kali makan labu memang begitu," Rangga menyuruh Sherina untuk menghabiskan irisan labu yang sudah di rebus nya tersebut.
"Pak, setengah saja saya makan!" kata Sherina mau menangis, melihat makanan yang tidak di suka. Terhidang di meja makan tersebut.
"Satu piring itu habiskan Sherina ...!" pria itu sudah menaruh satu pring labu di dalam piring Sherina.
Sebelum mereka berangkat bareng ke kampus. Tetapi Rangga agak tidak yakin satu mobil dengan Sherina, karena antara dosen dan mahasiswi. Takut orang lain mencurigai ada hubungan di antara mereka berdua sekarang.
__ADS_1
Rangga juga kasihan, jika Sherina menyetir mobil sendirian. Karena mobil Rangga ada 3 terparkir di garasi mobil, Rangga iba menyuruh Sherina untuk satu mobil saja dengan nya.
"Nanti kamu satu mobil saja dengan saya Sherina, mau saya suruh kamu beda mobil ke kampus, jangan barengan sama saya! Kamu masih sakit." Rangga tidak tega juga membiarkan Sherina sendiri.
"Te-Tetapi! Bapak kan dosen saya, apa Bapak tidak malu? Satu mobil sama Sherina dan orang lain mencurigai kita nanti," Sherina terpikir dengan omongan orang, mereka akan bergosip. Kok bisa dosen dan mahasiswi satu mobil.
"Kamu tidak perlu hiraukan omongan orang lain! Urus diri sendiri saja belum becus kamunya!" Rangga menyindir Sherina yang belum bisa mengurus diri.
"Pakkkkk!!! Saya bisa mengurus diri sendiri loh!" Sherina tidak terima.
"Tinggal makan yang sehat saja, sudah merenggut! Ngomongnya bosan lah, makan itu ajalah! Pada hal di masak demi kesembuhan gerd nya," mengejek Sherina yang tidak bisa menghargai diri sendiri tersebut.
"Pakkkkkkk ...!"
"Kalau kamu mau sehat, jangan begitu sekarang! Hargai diri kamu selagi belum parah banget dan tetap konsisten dalam tahap pemulihan," begitu perhatian dosen Rangga.
Dosen Rangga lalu menyiapkan buku-buku Sherina. berdasarkan buku yang akan di bahas sesuai mata pelajaran. Rangga menyiapkan pulpen, kertas dan air minum hangat kedalam botol.
"Shen ... Bapak sudah siapkan tas kamu dan peralatan kampus. Oh iya, Bapak juga siapkan minuman hangat dan makan siang untuk kamu, nanto di habiskan dan jumpai Bapak di ruangan," Rangga ingin melihat Sherina menghabiskan makanan, soalnya kalau tidak di lihat pasti di buang olehnya.
"Pak, saya tidak mungkin keruangan Bapak nantinya." Sherina protes dengan dosen nya tersebut.
"Nanti kalau tidak di lihat, kamu buang tuh makanan nya," Rangga ngomel-ngomel pada saat itu.
Sherina hampir saja meneteskan air mata dan matanya terlihat berkaca-kaca, sedihnya menusuk hati. Saat mengingat saat kecil Ayah sering memperhatikan nya dan persis yang seperti di lakukan Rangga kepadanya setiap pagi.
"Setiap pagi Ayah pasti menyiapkan sarapan pagi untuk saya," ketika itu Sherina menceritakan bahwa rindu Ayah.
"Kenapa Sherina? Kamu rindu dengan sosok Ayah?" tanya dosen Rangga.
"Iya, Pak. Kelakuan nya sama dengan Bapak setiap pagi dan setiap saat. Selalu ketat untuk menjaga saya, supaya tetap sehat. Karena dari kecil selalu sakit-sakitan. Mama bosan menjaga saya sakit, tetapi Ayah sabar selalu berada di samping," kerinduan dengan Ayah tidak bisa terbendung lagi.
__ADS_1
"Sherina, memang Ayah adalah bagian hidup terpenting dalam hidup kamu, sekarang membuktikan, bahwa kamu bisa menjadi anak yang membanggakan nya," Rangga mengelus bahu Sherina.
"Iya Pak."
"Ayo berangkat, nanti kita telat lagi," Rangga merangkul Sherina dan membawakan tas Sherina.
Seperti seorang anak yang selalu memperlakukan khusus anaknya. Begitulah Cara Rangga mengayomi Sherina sebagai mahasiswi. Rangga mengerti bahwa Sherina hampir menjadi korban penodaan oleh ayah tirinya sendiri.
Sherina juga seperti anak yang terasingkan semenjak ayahnya meninggal. Nindi menikah lagi seakan tak peduli lagi dengan anak kandungnya tersebut.
"Pak, Sherina duduk di belakang saja."
"Duduk di depan saja, Sherina." Perintah Rangga.
"Baiklah, Pak."
Sherina juga salut dengan dosen nya tersebut karena menjadi dosen idola kampus. Tetapi Rangga tidak pernah jatuh cinta orang lingkungan kampus, bahkan Sherina tidak pernah mendengar bahwa Rangga telah mempunyai pacar.
Bahkan selama mereka satu rumah. Rangga tidak pernah menghubungi cewek atau dekat dengan namanya cewek. Pada hal setampan itu dosen Rangga tidak mempunyai cewek sampai sekarang.
Di mobil saat Rangga menyetir mobil nya tersebut. Sherina memberanikan diri untuk bertanya masalah cewek.
"Pak, apa sudah punya cewek?"
Pertanyaan itu langsung membuat Rangga spontan langsung batuk. Rangga bingung mau jawab apa, sambil tersenyum untuk menjawab pertanyaan Sherina.
"Hmmm kenapa kamu bertanya itu?" tanya Rangga sambil tertawa.
"Tidak Pak, aku hanya ingin tahu saja, selama Sherina tinggal di rumah. Soalnya Sherina tidak pernah melihat Bapak menghubungi perempuan," Sherina berbicara apa adanya karena kepo.
"Sekarang ini saya lebih pentingkan karir dari pada perempuan." Jawab Rangga.
__ADS_1
Rangga belum menemukan yang cocok juga untuk di jadikan pendamping.