
Rangga dan Sherina tiba di kampus. Saat mereka turun dari mobil, mata semua orang memandang, mereka terkaget melihat Dosen dan mahasiswi, satu mobi bareng.
Rangga dan Sherina di kampus ada pembatas karena tidak satu bidang. Namun kini semua berpikir. Dosen Rangga dan Sherina memiliki hubungan spesial.
"Itu Dosen Rangga?" tanya Ceri.
"Masa Iya. Dia satu mobil dengan Dosen Rangga ke kampus?" tanya Nina.
"Aku bertanya sama kamu, Nina. Kamu malah bertanya lagi sama saya." Ceri kepanasan sendiri, saat Dosen Rangga mengantar Sherina ke ruangan.
Begitu perhatian Dosen Rangga terhadap Sherina. Walau Sherina bukan siapa-siapa dalam hidup Rangga, tetapi pria ini memiliki rasa kasihan yang tinggi.
"Sherina ... Bapak tinggal di ruangan, nanti Bapak akan mengajar di sini." Rangga mengeluarkan buku Sherina dalam tas, lalu meletakkan botol minum Sherina di atas meja tersebut.
"Terima kasih Pak ..." Sherina seperti istri yang sakit, yang mendapatkan perhatian khusus dari suami.
"Nanti kalau ada apa-apa telpon bapak," ujar Rangga.
"Baik Pak," jawab Sherina, menganggukkan kepala.
Mahasiswa dan mahasiswi memandang ke arah Dosen dan murid, mereka ternganga saat melihat Rangga mengeluarkan buku-buku Sherina. Seakan tidak percaya bahwa Rangga bisa bersikap manis terhadap Sherina.
"Pak, gue pingin dong dapat perhatian manis dari Bapak," cetus Nina genit, Nina sudah tertarik dengan Rangga sejak menjadi mahasiswi di kampus tersebut.
"Ninaaaa ... Kamu duduk saja! Jangan banyak omong." Rangga tidak suka melihat Nina centil. Menyuruh Nina untuk duduk karena 20 menit lagi, jam pelajaran Rangga akan di mulai.
"Iya, Pak." Nina duduk dan terdiam.
Ceri menyindir sahabatnya tersebut, disuruh diam sama Dosen Rangga, sambil cengengesan mengejek Nina yang sudah cemberut.
"Ahhhhhhhhh ... Kasihan amat sih Nina," sindir Ceri kepada Nina.
Ceri memang punya dendam tersendiri dengan Sherina. Sampai rasa sakit tersebut belum terbayarkan karena Nindi sudah mengambil suami tante Ceri.
__ADS_1
"Luh lihat? Apa kamu masih kasih kesempatan? Sama orang yang sudah merebut kebahagian Tante luh!" ujar Nina untuk menghasut Ceri, karena Nina juga tidak suka dengan Sherina.
Rangga pergi, mereka tertuju kepada Sherina yang memegang perut nya. Ceri dan Nina tidak mengentahui, bahwa Sherina sempat di rawat di rumah sakit karena penyakit gerd nya yang belum sembuh.
Sudah 10 hari Sherina izin cuti dulu karena masa pemulihan waktu itu. Rangga tidak memberitahu alasan Sherina cuti saat ada teman Sherina bertanya tentang keadaaan sahabatnya.
Rangga menutupi bahwa Sherina menderita gerd dan hampir menjadi korban penodaan oleh ayah tiri. Rangga tidak mau Sherina mendapat bully dari mereka.
Rangga akan menutupi masalah Sherina dan tidak akan pernah, menebarkan masalah yang terjadi dalam hidup Sherina.
Seorang sahabat dekat Sherina masuk dalam ruangan. Melihat Sherina sudah berada di ruangan, Alena langsung berlari dan memeluk Sherina, bahwa Alena sangat rindu dengan Sherina.
"Aku rindu ... Kamu kemana saja Sherina?" tanya Alena sembari melihat wajah sahabat nya tersebut pucat.
Alena menyentuh pergelangan tangan Sherina, saat di sentuh tangga Sherina dingin sekali. Alena menjadi ragu bahwa sahabatnya tersebut terkena sakit.
"Aku baik-baik saja Alena." Sherina tersenyum kepada Alena. Sherina menutupi bahwa dirinya sedang sakit.
"Kamu sakit?" tanya Alena lebih serius.
"Kamu berbohong kepada aku." Alena semakin yakin bahwa sahabatnya sedang sakit.
"Aku tidak sakit!" jawab Alena.
Sherina mengambil rebusan labu dan sayuran dari tas. Lalu memakan labu rebus tersebut dan semakin Alena kebingungan. Selama ini menurut Alena, bahwa sahabatnya tersebut tidak pernah makan labu rebus.
"Serius kamu tidak sakit?" Nina semakin yakin ada hal yang di tutupi sahabatnya, berusaha untuk mencari tahu.
"Sudahlah Alena, tidak usah kuatir begini dengan aku." Sherina memegang dahi Alena bahwa tidak ada apa-apa.
"Terus sudah ke-10 hari tidak ada kabar dari kamu?" tanya Alena.
"Aku ada urusan keluarga." Sherina menutupi masalah, yang terjadi dalam 10 hari tersebut dan tidak membongkar.
__ADS_1
Lalu Rangga masuk, untuk mengajar di ruangan fakultas ekonomi bisnis. Para mahasiswa sudah berkumpul dan mereka juga sudah menyelesaikan soal-soal yang di berikan Rangga.
Rangga lalu menoleh kearah Sherina sejenak untuk memastikan, Sherina apakah baik-baik saja. Sherina melihat Rangga melirik kearah bangku nya tersebut dan mereka sama-sama menatap.
"Baik, kita mulai pelajaran," Rangga menjadi salah tingkah.
Sherina juga ikut salah tingkah dan menyimak proses belajar sama Dosen Rangga, namun malu-malu saling melirik. Sherina baru menyadari ketika Rangga menjelaskan di depan.
Ternyata ganteng dan berwibawa juga Dosen Rangga. Sherina baru menyadari bahwa Dosennya tersebut sangat berwibawa dan baik terhadap semua orang.
"Semoga kamu di lindungi dan mendapatkan jodoh yang baik," ucap Sherina dalam hati sewaktu melihat Rangga.
Wajah orang tulus akan selalu bersinar dan berkharisma. Seperti itulah wajah Rangga putih dan licin, tak ada bekas goresan luka di wajah.
Sherina selama ini kemana saja, terlalu lambat untuk menyadari bahwa Rangga ternyata ganteng juga. Sherina menjadi suka melihat Rangga yang berpenampilan simpel tersebut namun berwibawa.
"Wah wibawanya calon suami orang," gumam Sherina lagi dalam hati.
Sherina juga merasa kasihan, setiap malam sang Dosen selalu di ganggu. Bahkan Dosen tersebut sering terbangun karena Sherina sering mengeluh sakit.
"Anak-anak tolong di jelaskan mengenai materi hari ini, kalian harus menyimak dan perlu di perhatikan sebentar lagi kalian-kalian ini akan menyusun skripsi, jadi perhatikan ilmu yang saya berikan," kata Dosen Rangga peduli.
"Baik, Pak."
Rangga menjelaskan bahwa anaknya tersebut pokoknya harus lulus kuliah, mereka harus mendapatkan nilai terbaik dan bisa menyandang gelar cumlaude di kampus tersebut.
"Begini saya kasih nasehat sedikit buat kalian semua ... Kalian giat-giat lah belajar, nilai atau gelar yang kalian capai nanti. Akan kalian bawa untuk mengejar masa depan kalian yang sudah berada di depan mata, jika mau tercapai saatnya berusaha," Dosen Rangga menasehati mereka-mereka, yang bentar lagi akan menyusun skripsi.
Rangga memang peduli, sampai export habis-habisan. Supaya anak kampus nya tersebut bisa mencapai masa depannya dan mencapai cita-citanya.
Rangga memang itulah arahan jalan terbaik di arahkan olehnya. Gak mau melihat mereka tidak berhasil karena ada orangtua yang harus mereka banggakan.
Rangga meminta jika nanti mereka berhasil menggapai cita-cita. Jangan lupakan Rangga yang pernah perhatian banget kepada anak kampusnya tersebut, Rangga tidak mengharapkan uang mereka hanya ingin di ingat saja, bahwa Dosen Rangga lah yang selalu mengayomi mereka.
__ADS_1
Rangga meminta seluruhnya untuk jaga kesehatan, sebelum masa tahapan penyusunan skripsi.