
Semenjak di rawat oleh sang Dosen. Sherina semakin muncul rasa terhadap Dosennya tersebut. Apalagi sudah tinggal satu rumah selalu melihat wajah Rangga.
Semenjak mengurus mahasiswinya tersebut dan memberi tempat tinggal. Rangga tidak merasakan sepi dan justru nyaman berdua dengan Sherina.
"Pak, aku menginap di rumah Alena pada malam ini." Meminta izin kepada Rangga yang sedang membaca koran.
"Apa? Kamu menginap di rumah Alena? Tidak bisa Alena, kesehatan kamu belum pulih seutuhnya, saat ini kamu masih sakit dan masih berada dalam pengawasan saya yang akan mengurus kamu." Rangga menentang Sherina untuk menginap.
"Please Pak ... Alena itu baik," ujar Sherina yang sudah di jemput di gerbang pagar oleh Alena..
"Alena memang baik, tetapi kamunya yang belum pulih seutuhnya!" sindir Rangga, tidak mau terjadi apa-apa.
"Pak, tolonglah sekali ini saja."
"Ya sudah. Pergilah dengan sahabat kamu dan hati-hati." Rangga luluh dan akhirnya memberikan izin.
Rangga mengantar sampai gerbang pintu pagar. Karena Alena sudah menunggu di gerbang, sebelum mereka berangkat ke rumah Alena. Rangga berpesan untuk menjaga Alena baik-baik.
"Alena, boleh gak Bapak sampaikan pesan ini sama kamu?" tanya Rangga terlebih dahulu kepada Alena, yang merupakan muridnya di kampus.
"Boleh, Pak. Ada apa yang ingin di sampaikan Bapak?" tanya Alena penasaran.
"Sherina ini kan baru sakit dan masih dalam pemulihan."
"Apaaaaaaaaaaaa? Sherina jadi selama ini kamu tidak ke kampus, karena sakit?" tanya Alena syok berat, saat sahabatnya menutupi sakitnya selama ini.
Alena tidak tahu bahwa sahabatnya tersebut terkena gerd akut, saat Rangga memberitahu pada Alena. Meminta Alena untuk tidak membeberkan berita ini kepada siapa pun mengenai sakit Sherina.
Sherina tersipu matanya terlihat berkaca-kaca. Seperti banyak beban yang di pikul saat ini, bahkan hampir menjadi korban nafsu ayah tirinya.
"Iya, aku sudah sakit gerd akut satu tahun yang lalu dan saraf terjepit." Sherina berusaha untuk jujur.
Sherina terkadang sudah tidak kuat dengan gerd akut nya. Setiap kepikiran masalah dan makan tidak teratur, penyakitnya pasti kambuh dan hampir mati.
"Karena Sherina menderita gerd akut. Bapak minta sama kamu, selama di rumah kamu nanti, tolong ingatkan dia untuk makan obat dan minum air hangat yang banyak," nasehat Rangga, meminta Alena untuk mengawasi dan menjaganya.
__ADS_1
"Sip Pak, aku akan menjaganya." Memegang tangan Sherina.
Alena juga terkejut, bahwa Dosen Rangga dan Sherina satu rumah. Alena mengira bahwa Dosen Rangga dan Sherina sudah pacaran namun di sembunyikan hubungan mereka selama ini.
"Terimakasih Alena." Rangga meminta maaf karena sudah menyusahkan Alena.
"Pak ada hubungan apa Bapak dengan Sherina?" tanya Alena penasaran.
Rangga tidak menjawab, karena di antara mereka tidak ada hubungan. Bahkan Rangga heran, mengapa semua orang mengira mereka pacaran tetapi tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
"Gak ada."
Sherina mengalihkan pembahasan, meminta Alena untuk masuk kedalam mobil. Karena Sherina ingin cepat-cepat sampai di rumah Alena.
"Ayo Alena ... Setir mobilnya!" Sherina mengalihkan pembahasan sambil membuka pintu mobil.
Sherina tidak mau bahwa Rangga terlalu risih dengan pertanyaan, yang diajukan oleh Alena tersebut. Rangga hanya lah sebatas Dosen Sherina, mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa.
"Aduh, si Alena ini penasaran, mau jawab apa gue?" gumam Rangga di dalam hati.
Alena akhirnya pergi bersama Sherina kerumah. Rangga memperhatikan mereka sampai pergi, begini perhatian nya Rangga terhadap Sherina, akhirnya Rangga menutup gerbang pagar.
"Harus makan sendirian lagi," gumam Rangga dalam hati.
Sudah 3 bulan Sherina tinggal di rumah Rangga. Wajar lah seorang Rangga merasa kesepian karena biasanya hari-hari selalu di temani oleh Sherina.
Makan nasi goreng masakan Rangga sendiri dan menikmati sendiri. Rangga mengambil ponsel sekitar satu jam Sherina berangkat dan menghubungi Sherina untuk tahu bahwa Sherina sudah sampai tujuan.
"Halo, loh sudah sampai?" tanya Rangga penuh perhatian namun bahasanya agak gengsian.
"Sudah, Pak. Gue sudah sampai di tempat teman, Pak. Kenapa Pak? Kesepian," tanya Sherina dengan pedenya.
"Loh jangan sok pede deh! Sejak kapan gue kesepian," Rangga agak ngeles pada hal kesepian di rumah.
Rangga memang begitu, jawabnya cuek namun perhatian sama Sherina. Bahkan mahasiswi yang dekat sangat mengetahui kepribadian Dosen Rangga, hanya Sherina dan Alena.
__ADS_1
Sebab Alena sudah sering menginap di rumah Rangga. Untuk menemani Sherina karena Sherina terkadang butuh teman di rumah, kalau sama Rangga, Sherina tidak banyak mengobrol.
"Baiklah, Pak. Gue sudah sampai, jaga diri baik-baik di sana Pak." Sherina sok perhatian pada hal senang bisa bebas.
Sherina pertama kali di bebaskan oleh Rangga. Jika tidak dengan Alena maka Rangga tidak akan pernah memberikan izin kepada Sherina.
"Hmmm, ya sudah kamu baik-baik disana dan jaga pola hidup sehat," Rangga masih perhatian supaya Sherina menjaga pola hidup sehat.
"Baik, Pak."
Rangga mematikan telponnya, memang terasa banget sepinya. Sebab mereka sudah terbiasa berdua di rumah tersebut, agak sedikit tenang bagi Rangga karena Sherina tidak di rumah.
Jika ada Sherina, Rangga agak susah untuk tidur malam. Sebab Sherina jarang bisa tidur malam karena resah dengan penyakit lambungnya tersebut.
Rangga memang selalu di susahkan Sherina setiap malam. Terkadang mengompres Sherina jika lagi demam, memasak air panas untuk Sherina.
Namun malam ini Rangga lagi kesepian tak mendengar suara bawel Sherina. Biasanya gadis tersebut selalu bawel dan meminta untuk di tolong.
"Ihhh sepi juga tak ada anak itu," gumam Rangga di dalam hati.
Di rumah Alena, mereka sedang memasak bubur ayam. Alena memasakan karena Sherina penderita gerd, bahwa bubur ayam cocok di perut untuk penderita gerd.
"Sherina, yuk makan. Aku sudah buat bubur ayam untuk kamu," Alena menyajikan bubur ayam di meja tamu.
Mereka makan di ruang tamu sambil menonton film. Sherina memang selalu mendapatkan perhatian dari Sasi dan Alena karena kedua orang ini sangat baik berteman dengan Sherina.
"Bubur ayam, aku mau dong," ujar Sherina mencoba bubur ayam tersebut.
"Gimana rasanya?" tanya Alena.
"Enak banget loh."
"Masa?" tanya Alena tak percaya dengan pujian Sherina.
"Enak banget loh, aku mau coba lagi deh bubur ayamnya," Sherina memakan bubur ayam tersebut dengan lahap.
__ADS_1
"Wah berarti mantap dong, kamu makan dengan berselera." Alena merasa di puji dengan makanan yang diseduh kan nya tersebut.
"Nah, besok-besok buatin lagi." Sherina minta di buatin lagi besok.