
Rangga menoleh ke arah Sherina, sedikit menggaruk bagian kepalanya. Betapa terkejutnya Rangga, tetapi Rangga tidak akan membongkar cerita masa lalunya.
"Kamu sudah bangun ...?" tanya Rangga kepada Sherina.
"Sudah, Pak," jawab Sherina.
Sherina tidak mampu berkata-kata, bukan situasi yang tepat untuk membahas masalah mengapa Rangga bersedih. Sherina memilih untuk diam saja, tetapi di dalam hati Sherina sangat penasaran. Pria tangguh yang tidak pernah patah semangat dan menangis tetapi malam itu menjadi suasana tegang, bagi keduanya.
"Kamu mau ke mana? Mau ambil air putih pasti, soalnya saya tahu setiap malam jam 11 malam kamu terbangun. Pasti mau mengambil air putih di dapur, biar saya saja yang ambil. Kamu tenang di kamar saja, nanti kamu kambuh sakitnya lagi," ucap Rangga super perhatian kepada mahasiswinya.
__ADS_1
Sherina menjadi terharu, saat Rangga sedih pun. Masih bisa memberikan perhatian kepada Sherina. Diakui Sherina Rangga terlalu baik untuknya, entah mengapa malam itu saat melihat Pak Dosen jantung Sherina berdenyut kencang.
"Tidak apa-apa, Pak. Biar saya yang ke dapur Pak." Sherina tidak mau membebankan sang Dosen, lalu wanita ini melangkah ke dapur untuk mengambil minum sendiri.
Foto yang masih berada di tangan Rangga langsung di masukan ke dalam saku celana supaya tidak ketahuan oleh Sherina. Bawa Rangga sedang mengenang masa lalu.
"Hentikan! Jangan melangkah ke dapur, biar saya yang ambil saja. Kamu duduk tenang di kamar saja, sudah tahu sakit masih saja bertingkah sok hebat." Rangga sangat mengetahui jika wajah Sherina sudah lemas begitu, wanita itu sedang kelelahan.
Menghabiskan waktu di kamar mengerjakan tugas kampus, sebenarnya Rangga merasa kasihan. Tetapi Rangga sebagai Dosen juga tidak mau memanjakan Sherina, biarlah Sherina yang mendapatkan ilmunya.
__ADS_1
Sherina berhenti berjalan, wajahnya terlihat panik. Saat Rangga menghentikan jalannya dan menyebutnya sok hebat, jika Rangga sudah bersuara lantang maka itulah titik kekesalan sang Dosen.
"Aku mau ambil air minum sendiri, Pak. Aku tidak mau manja, masa mau ambil air minum saja harus minta bantuan." Sherina mengerang merasa malu atas diri sendiri yang belum bisa berbuat apa-apa.
"Sok hebat ...," jawab Dosen Rangga tidak mau bergelut dengan Sherina, tetapi terlihat wajah datar dengan jawaban yang dingin kecut dari Rangga.
Rangga berjalan menuju dapur dan mengambil air putih dalam secangkir gelas saat itu. Kembalilah Dosen Rangga membawakan air putih itu kepada Sherina lalu memberikan air putih kepada Sherina.
Tetapi saat Rangga memberikan air minum kepada Sherina. Belum sempat air minum tersebut diberikan, tiba-tiba handpone yang ada di dalam saku celana Pak Dosen terjatuh dan keluar lah isi di dalam saku celana tersebut, berupa foto-foto Sherina.
__ADS_1
Foto tersebut berhamburan ke lantai ternyata Sherina sudah melihat wajah wanita yang ada di dalam foto, membuat Sherina terdiam bagaikan patung. Tetapi Dosen Rangga dengan sigap mengambil foto-foto yang berhamburan di lantai.
Foto Velove disusunnya dengan Rapi, lalu Rangga menoleh ke arah Sherina. Mereka saling terdiam, Rangga tak bisa berbicara lagi kepada Sherina diam seribu bahasa.