Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#8


__ADS_3

Hari, bulan bahkan tahun terus berganti sejak kepergian mama. Aku pun memutuskan untuk berhenti berkerja setelah satu bulan mama meninggal. Aku fokus merawat rumah,bapak dan juga keluarga kecilku. Jika waktuku senggang, aku membantu bapak di perusahaan. Kadang aku yang menggantikan bapak untuk datang kekantor sekedar mengecek keuangan dan berbagai hal lainnya.


Kehidupan keluarga kecilku pun semakin membaik, Bang Handi pun mulai mengalami peningkatan penghasilan setelah mulai ikut berbagai proyek bersama bapak dan kak Andi. Bahkan dengan berjalannya waktu, kami bisa membeli mobil kembali.


Semua kusyukuri, sampai di tahun berikutnya, setelah tiga tahun kepergian mama, aku kembali memiliki momongan. Allah SWT memberi kami seorang putra. Dan lagi lagi bayi mungil ini menjadi rebutan kakak kakakku.


"Azwa sudah ga disayang lagi. Om izal sayang ade bayi aja" Lagi lagi Kakaf menggoda Azwa sejak kelahiran adiknya.


Azwa yang berada dalam gendongan Bang Handi langsung menangis. Dan aku pun hanya bisa melempar bantal pada Kakaf sambil melototkan mataku.


"Gak kok sayang, Om Izal tetap sayang Azwa"


Aku berusaha membujuk Azwa yang tidak mau berhenti menangis dan membuat adik bayinya pun ikut menangis. Bayangkan bagaimana ramainya suara tangis didalam rumah saat itu.


"Eh, kenapa anak Uwa ini nangis dua duanya?"


Kak Andi bersama Kak Mia masuk kedalam kamarku setelah menemani bapak makan sehabis isya tadi.


"Tu, julak Izalnya usil" Aku mengadu pada Kak Andi.


"Enak aja Julak, Om Izal Ganteng paripurna sejagat raya"


"Kalo ganteng paripurna sejagat raya kok gak ada istrinya sampai sekarang?"


Bapak yang ikutan masuk ke dalam kamarku langsung mengambil Azwa dan membawanya keluar kamar. Sontak kami semua tertawa mendengar ucapan bapak dan kakaf hanya bisa diam sambil mengerucutkan mulutnya.


Itulah hari hariku dimulai kembali dengan kehadiran seorang bayi mungil lagi. Dan yang kurasakan saat ini adalah ketidakhadiran mama untuk membantuku merawat adiknya Azwa yang kami beri nama Azka.


Pernah suatu waktu Azka terus terusan menangis. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Semua cara sudah kucoba. Membalur tubuhnya dengan minyak telon, mengganti baju sampai pampersnya juga memberi minum susu. Aku pun ikut ikutan menangis melihat Azka yang terus terusan menangis. Sampai kemudian bapak datang dan memeluk Azka. Bapak membaca beberapa ayat ayat di telinga Azka sambil mengelus pundaknya pelan. Aku hanya diam mengamati bapak dan lambat laun Azka pun berhenti menangis dan tertidur di dalam pelukan bapak.


"Di bacai ayat ayat quran jika anak itu menangis, jangan juga ikut menangis. Baca Al Fatihah dengan empat surat pendek lainnya." Bapak menasehatiku sambil meletakkan Azka di atas tempat tidur.


Aku hanya mengangguk dalam diam, sambil menepuk nepuk pelan putraku.


"De, itu si Izal lama ga pulang"


Bapak duduk di kursi meja riasku.


"Nanti ade telpon pak, seharusnya minggu kemaren Kakaf pulang ya pak."


"Coba kamu telpon, tanya kenapa gak pulang, biar bapak dulu yang jaga yengaw."


(panggilan bapak buat putraku)


Aku beranjak dari tempat tidur, mengambil handphoneku, sambil berjalan keluar kamar aku mencari nomor handphone kakaf, kakakku yang ganteng sejagat raya.


"Panggilan yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan"


Aku kembali mencoba sampai tiga kali.

__ADS_1


"Kok gak nyambung ya pak"


Aku kembali masuk ke dalam kamar dan menemui bapak.


"Bapak juga sudah telpon, tapi gak nyambung nyambung. Coba telpon ke kantornya"


"Kak Andi aja ya pak, sebentar ade telp kakan biar datang kesini"


Bapak hanya mengangguk. Aku tahu dari raut wajah bapak jika bapak khawatir.


Aku pun langsung menelpon Kak Andi. Tidak berapa lama kemudian Kak Andi datang bersama Kak Mia dan putranya.


"Azwa mana de?" Kak Mia masuk sambil celingak celinguk mencari Azwa.


"Jalan sama Ayahnya kak. Beli pampers si ade."


" Izal kenapa?" Kak Mia kembali bertanya padaku.


"Gak ada pulang, heran aja sih kak. Biasa dua minggu sekali datang. Bapak sudah telpon, Ade juga, tp gak aktif. Jadi bapak mau Kak Andi telpon ke kantornya."


Kak Andi dan Bapak bersamaan masuk kekamarku dengan wajah yang sulit di artikan.


"Ada kabar pak?"


Bapak langsung duduk dan menarik nafas panjang.


Aku turun kembali dari tempat tidur dan duduk bersimpuh di depan bapak.


"Ada apa pak?"


Aku menggenggam tangan bapak.


"Izal kecelakaan" Kak Andi yang menjawab pertanyaanku.


Aku terduduk sambil menundukkan kepalaku di atas paha bapak.


Ya Alloh, berita apa lagi ini.


"Assalamualaikum"


Kudengar suara Kak Alif dan Kak Fian datang.


"Waalaikumsalam"


Kami pun serempak menjawab salam.


"Ayo, kita bicara di luar"


Bapak mengangkat kedua tanganku untuk berdiri. Aku pun bergegas menghapus air mataku yang tiba tiba mengalir dengan sendirinya.

__ADS_1


"Apa kata orang kantornya tadi"


Kak Alif langsung bertanya pada Kak Andi.


Rupanya setelah menelpon kantor tempat kerja Kakaf, Kak Andi langsung menelpon Kak Alif dan Kak Fian untuk datang.


"Mereka bilang Izal kecelakaan di tengah laut."


"Kenapa keluarga tidak di beri kabar?"


Kak Alif yang seorang pengacara mulai menampakkan tajinya.


"Mereka masih mengurus evakuasi dulu."


"Ah, alasan apa itu. Memang yang kerja cuma satu orang di kantor itu. Ayo siap-siap, kita ke tempat kerja Izal. Ku obrak abrik itu perusahaan."


"Alif, pastikan dulu keadaan ademu seperti apa. Setelah itu baru kita bertindak"


Bapak berkata dengan lembut.


"Iya pak, Alif akan urus semuanya. Di rumah ada Handi kan de, Mia biar disini dulu temanin ade dan bapak ya. Kami bertiga ke tempat Izal."


Kak Alif memberi perintah. Yang langsung di angguki kepala olehku dan kak Mia.


"Kasih kabar secepatnya ya Kak"


Aku kembali meneteskan air mata. Sambil melepas kepergian ketiga kakakku keluar pintu.


Di depan pagar mereka bertemu Bang Handi. Kak Andi menjelaskan apa yang terjadi pada Bang Handi sambil mencium gemas Azwa, begitu pula Kak Alif dan kak Fian yang selalu mencium gemas keponakan perempuan mereka itu.


Aku mengambil alih Azwa dari Bang Handi.


"Jalan sendiri ya kak, didalam ada wawa Mia dan Kai. Sana masuk sendiri"


Aku meminta Azwa untuk masuk kedalam rumah. Karena sudah punya ade, Azwa mulai kupanggil kakak.


Aku pun berdiri bersama bang Handi sampai mobil yang di tumpangi ketiga kakak laki lakiku menghilang di ujung jalan raya.


"Kakaf pasti baik baik saja. Banyak berdoa saja ya sayang"


Bang Handi meraih bahuku sambil kami berjalan masuk.


Kulihat bapak masih duduk di ruang tengah bersama kak Mia yang sudah menggendong Azka dan Azwa yang duduk manja di pangkuan kai nya.


Bapak bercanda menggoda Azwa bersama putra Kak Andi. Terlihat bapak tertawa tapi mata beliau jelas menampakkan kekhawatiran. Khawatir dengan keadaan salah satu anak laki laki bapak yang belum tau bagaimana keadaannya sekarang.


Aku pun duduk memandangi bapak dalam diam. Berharap di hari tua bapak, beliau tidak lagi mendapatkan kabar yang mengejutkan.


Dan aku pun berharap itu terjadi pada diriku. Aku pun tidak ingin kehilangan lagi.

__ADS_1


__ADS_2