
Suara tangisan Azwa membangunkanku. Sudah hampir subuh, suara mengaji terdengar di mesjid. Kulihat anak Kak Andi pun ikut terbangun. Bang Handi tertidur di sofa kamar. Entah jam berapa Bang Handi masuk ke dalam kamar.
Aku membuatkan susu buat Azwa tapi Azwa tetap tidak berhenti menangis seolah menyadari bahwa neneknya telah pergi. Kugendong azwa sambil kuayun ayun dengan gerakan tanganku. Tapi Azwa tetap menangis.
Kubawa Azwa keluar kamar. Bapak dan Kak Fian duduk mengaji di samping jenazah mama dan Kakaf duduk bersandar sambil memejamkan matanya di sisi jenazah mama yang lain. Beberapa keluarga yang datang tadi malam kulihat berbaring baring di atas ambal ruang tamu.
Begitu mendengar suara tangisan Azwa bapak langsung berhenti mengaji. Memberi kode agar aku mendekat. Bapak meraih Azwa dari gendonganku dan meletakkan tangan Azwa pada jenazah Mama. Seperti sulap, seketika tangisan Azwa berhenti. Aku kembali menitikan air mata. Azwa juga merasa kehilangan neneknya.
Kakaf membuka mata dan beranjak dari duduknya.
"Izal mandi dulu pak, kamu siap siap juga de, biar Azwa sama bapak dulu disini"
Aku hanya mengangguk, kemudian meninggalkan Azwa bersama bapak di samping jenazah mama.
Aku selesai bersiap, termasuk Bang Handi. Kuraih Azwa yang sekarang berada dalam gendongan Kakaf dan sudah tertidur. Ku seka badannya Azwa dan kuganti pakaiannya. Ku kenakan jilbab putih pada Azwa sama seperti jilbab yang kupakai. Kami hari ini menggunakan pakaian putih yang kami pakai sewaktu sholat ied fitri tiga hari yang lalu. Warna yang di minta Mama untuk kami kenakan. Padahal biasanya, kami selalu memilih warna warna cerah di setiap lebaran.
__ADS_1
Semua dengan tugasnya masing masing. Kak Alif dan Kak Fani menerima para pelayat yang datang. Kak Andi mengurus pemakaman. Kak Fian selalu setia mendampingi Bapak kemana dan dimana pun Bapak berada. Kakaf selalu mengaji di samping jenazah mama.
Aku tahu Kakaf lah yang paling terpukul. Kakaf yang menyaksikan bagaimana mama menghembuskan nafas terakhirnya. Kakaf lah yang membawa mama ke rumah sakit bersama Bapak, dan Kakaf juga lah orang pertama yang di beri tahu dokter bahwa Mama sudah meninggal dunia sebelum sampai di rumah sakit.
Kakaf yang terus terusan mengaji di samping jenazah mama sesekali menyeka air mata dan membersihkan cairan yang keluar dari hidungnya memakai tisu.
Aku juga sama seperti Kakaf. Tapi aku harus bangkit, karena Bapak, Azwa, Bang Handi dan juga Kakaf yang sekarang menjadi tanggung jawabku untuk merawat mereka.
Bapak minta Mama dimandikan dengan di pangku. Kak Alif dibagian kepala mama, kemudian Kak Andi, Kak Fian, Kakaf dan Putra sulung Kak Alif di bagian Kaki. Aku dan Bapak yang memandikan Mama. Aku jugalah yang bertugas membersihkan bagian bagian tertentu mama,ini tugas terakhirku sebagai satu satunya anak perempuan Mama.
Mama, lihatlah.. betapa mereka menyayangi dan mencintai mama.
Isak tangis kembali terdengar ketika kami mencium mama untuk terakhir kalinya. Kakaf yang terus terusan mencium kaki mama akhirnya di angkat paksa oleh Kak Andi. Kakaf menangis terduduk di kaki Kak Andi. Aku memeluk kakaf, Kakaf menangis terisak isak di pelukanku.
Setelah Azwa kuciumkan pada jenazah mama, Azwa kutitipkan pada ibu mertuaku yang hari ini juga datang melayat. Kutitipkan juga Azwa pada Kak Mia yang tidak ikut ke pemakaman karena tugasnya hari ini mengurus dapur.
__ADS_1
Kami mengantar mama ke peristirahatan mama yang terakhir.
Bang Handi meminta ijin kak Alif untuk menggantikannya masuk ke dalam liang lahat menyambut jenazah mama.
"Untuk tugas terakhir Handi sebagai menantu Kak"
Kak Alif mengangguk tanda menyetujuinya. Jadi lah Kak Andi, Kakaf dan Bang Handi yang menyambut jenazah Mama di liang kubur. Kak Fian yang mengumandangkan azan. Kak Alif sebagai juru bicara mewakili keluarga.
Bang Handi meminta Kakaf untuk naik lebih dulu karena memang keadaan Kakaf yang begitu terpukul. Aku meraih tangan Kakaf dan menggenggamnya. Kami saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan tanpa bicara apa apa. Kakaf tidak memiliki istri atau pun teman spesial untuknya berbagi cerita. Selama ini hanya aku dan mama lah tempat curhatnya Kakaf. Dan di saat ini, Aku lah orang yang di perlukan Kakaf. Walaupun aku juga sebenarnya memerlukan Kakaf untuk menguatkan hatiku.
Selamat jalan Mama. Kami anak anak mama akan terus mendoakan mama.
Minta votenya dooongggg..
__ADS_1
LOVE YOU 😘😘😘